Kearifan Lokal di Alam Surambi Sungai Pagu, Pertahankan Eksistensi Kebudayaan Minangkabau

Kearifan Lokal di Alam Surambi Sungai Pagu Pertahankan Eksistensi Kebudayaan Minangkabau Istimewa

Covesia.com - Alam Surambi Sungai Pagu sebagai salah satu "Ikua Darek" Kerajaan Pagaruyung memiliki keunikan dan modal budaya yang sangat kuat dalam mempertahankan eksistensi kebudayaan Minangkabau secara keseluruhan. Sejumlah peninggalan sejarah dan wujud sistem sosial politik dari dulu sampai sekarang masih eksis di wilayah belahan wilayah Solok Selatan. 

Keunikannya berjibun, dalam ruang budaya di wilayah ini. Ikon pariwisata juga telah melekat pada wilayah ASSP, “Saribu Rumah Gadang,” kawasan wisata adat yang sangat terkenal. 

Hal itu dikatakan oleh Prof Dr Nursyirwan Effendi, Direktur Parca Sarjana Universitas Andalas pada webinar yang diadakan oleh Ikatan Keluarga Masyarakat Solok Selatan (Ikamass), dalam keterangan pers yang diterima Covesia.com, Jumat (3/12/2021).  

Yang menjadi persoalan, menurut Nursyirwan, posisi kearifan lokal masih merupakan bagian yang belum diperkuat untuk memberikan identitas dan rasa ber-Minangkabau di banyak daerah di Sumatera Barat. Dari perspektif kebudayaan, pengabaian kearifan lokal sama artinya melakukan pelemahan pada substansi kebudayaan.

"Dewasa ini, keberadaan kearifan lokal mengalami pelapukan bahkan pengabaian dari sebagian individu dalam komunitas dari suatu pendukung kebudayaan. Banyak yang menganggap bahwa kearifan lokal sudah kuno dan tidak sejalan dengan perkembangan hidup modern," ungkapnya. 

Dia menilai, peralihan kearifan lokal dari generasi ke generasi juga mengalami kemerosotan dalam pembelajaran. Namun, uniknya, ketika permasalahan kehidupan modern atau indentitas kemodernan mengalami persaingan dan tak bisa dimenangkan, maka komunitas berlomba-lomba menggali kearifan lokal sebagai modal saing mereka.

Pembicara lain, Hasmurdi Hasan, pemerhati budaya Minangkabau mengatakan bahwa, kajian-kajian dan literasi tentang Sungai Pagu sangat jarang sekali. Sehingga, informasinya menjadi gelap. 

Padahal, katanya, mempelajari Riwayat kearifan lokal yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu, masih bisa ditelusuri melalui struktur lembaga adat, tradisi kehidupan masyarakat dan arsitektur rumah adat yang masih ada saat ini.

"Seperti kata pepatah, sejarah itu pasti meninggalkan jejak, 'Bajajak bak bakiak, basuri bak sipasin,' walau hilang tulisan di batu di limbago takasan juo,” ulasnya.

Hasmurdi menambahkan, Sungai Pagu mengambil tempat yang istimewa dalam wilayah adat Alam Minangkabau, tidak seperti wilayah adat yang lain dalam Alam Minangkabau. 

"Kalau wilayah adat lain menamakan kesatuan wilayah adatnya dengan nama nagari. Tapi, Sungai Pagu menamakan wilayah adatnya 'Alam,' yaitu Alam Surambi Sungai Pagu," imbuhnya.

Di bagian akhir, Elza Peldi Taher, yang bertindak sebagai "host" mengatakan, bahwa perlu revitalisasi kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu, dalam mempertahankan eksistensi budaya Minangkabau sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Keindonesiaan. 

"Tanpa revitalisasi, kearifan lokal akan punah terancam oleh arus modernisasi yang membawakan nilai-nilai baru," katanya.

Ketua Harian Ikamass, Meidiana Sato, webinar yang diadakan secara berkala ini bertujuan untuk memberikan pencerahan tentang adat dan kebudayaan Minangkabau kepada publik luas, khususnya masyarakat Minangkabau.

(*)

Berita Terkait

Baca Juga