Berusia 6.000 Tahun Sebelum Masehi, Semua Menhir di Maek Menghadap ke Arah Matahari Terbit 

Berusia 6000 Tahun Sebelum Masehi Semua Menhir di Maek Menghadap ke Arah Matahari Terbit  Salah satu Menhir di Nagari Maek atau Nagari Mahat yang berada di Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, (Foto: dok. Covesia-Lisa)

Covesia.com - Banyaknya Menhir di Nagari Maek atau Nagari Mahat yang berada di Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota membuat nagari tersebut dijuluki dengan nagari Seribu Menhir. 

Istilah menhir sendiri diambil dari bahasa Keltik, dari kata men yang berarti batu dan hir berarti panjang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Menhir adalah Batu Panjang. 

Menhir di nagari Maek ini diperkirakan telah ada sejak 6.000 sebelum masehi yang hingga kini masih terjaga keasliannya. Dan uniknya semua Menhir di nagari tersebut menghadap ke arah Matahari terbit. 

Dihubungi covesia.com, Ketua KAN Maek Efrizal Hendri Dt.Patiah mengatakan, Menhir di Maek sudah ada sejak 6.000 tahun sebelum masehi.

"Berdasarkan penelitian sejarahwan, diperkiraan Menhir tersebut telah ada sejak 6.000 atau 4.000 tahun sebelum masehi," jelas dia. 

Sambung dia, pada masyarakat Maek, Menhir sendiri disebut dengan batu mejan atau batu nisan yang terdapat pada beberapa jorong, seperti jorong Kototinggi, Ronah, Koto Gadang, Ampang Godang. 

"Yang paling banyak terdapat di Jorong Kototinggi, namun Menhir juga tersebar di beberapa jorong lainnya," jelas dia. 

Lanjut dia, pada saat sekarang masyarakat hanya menganggap Menhir sebagai peningalan megalitikum, bukan untuk hal-hal mistis. "Hingga kini masyarakat tidak pernah mengganggap Menhir sebagai hal mistis," sebut dia. 

Tambahnya, sejauh ini untuk  pengelolaan masih kurang maksimal, akan tetapi untuk penjagaan kita telah ada pegawai tetap. "Pengelolaan masih kurang maksimal, kami perlu berbenah ke depannya agar pengunjung makin banyak," sebut dia. 

"Hingga kini akses jalan InsyaAllah sudah bagus, hanya saja tikunggan yang curam, jika disiasati bisa sampai ke lokasi, namun perlu kehati hatian," pungkasnya. 

Sementara itu,  juru pelihara megalit maek dari Balai Pelestarian Cagarbudaya (BPCB) Sumatera Barat mengatakan, semua Menhir di Maek pada umumnya berada pada tempat ketingian dan semuanya menghadap ke arah matahari terbit. "Semuanya menghadap ke arah matahari terbit, sehingga waktu itu disebut sebagai tanda kepercayaan," sebutnya. 

Lanjut dia, sebagian dari Menhir tersebut ada yang ditemukan kerangka manusia, sehingga dikenal juga sebagai tanda makam. "Masyarakat juga mengenalnya sebagai tanda makam," sebut dia. 

"Ukuran terbesar terdapat di Lokasi di Atas Kampuang, Jorong Koto Gadang dengan tinggi 3 m dan tebal 60 cm," sebutnya. 

Lanjut dia, untuk para wisatawan yang berkunjung akan didampingi pemandu. "Nantinya pemandu akan memperkenalkan sejarah dari Menhir di Maek," jelas dia. 

Hingga kini Menhir di Maek telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan pelestariannya berada di bawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat.

Reporter: Lisa Septri Melina


Berita Terkait

Baca Juga