Penertiban PKL di Pantai Padang Diwarnai Kericuhan

Penertiban PKL di Pantai Padang Diwarnai Kericuhan Penertiban PKL oleh Satpol PP di Kota Padang Diwarnai kericuhan, Jumat (24/6/2022)(Foto: dok. Humas)

Covesia.com - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Padang kembali melakukan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang trotoar Pantai Padang atau di depan Lapau Panjang Cimpago (LPC), Jumat (24/6/2022).

Pada penertiban ini terjadi perlawanan dari PKL terhadap Satpol PP. Dari pantauan Covesia.com di lapangan terdapat beberapa orang PKL yang mendapati luka lebam akibat bentrokan ini.

Salah seorang PKL, Desrizal (24) mengatakan sebenarnya kami berdagang karena adanya kecemburuan sosial pasalnya para pedagang di muara lasak tidak ditertibkan.

"Bangku-bangku yang telah kami susun langsung diambil paksa oleh Satpol PP,  Main bawa aja bangku tanpa bicara mereka susun bangku dan dimasukkan ke mobil," ujarnya kepada Covesia.com, Jumat.

Dia juga mengungkapkan mereka terpaksa untuk jualan di sana karena tidak ada lagi cara untuk mencari makan.

"Karena bangku-bangku yang diambil paksa tadi, makanya emak-emak nggak terima dan yang jualan di situ kan tidak terima juga makanya terjadi rebutan bangku dengan petugas," ujarnya.

Dia menambahkan tujuannya sebenarnya untuk merebut bangku tapi Satpol PP membalas dengan kekerasan terjadilah cekcok seperti itu. "Intinya kacau lah," tegasnya.

"Lalu saya di sana melerai istri saya ketika saya melerai, petugas lalu memukul saya dan datanglah abang abang yang membela saya, namun abang itu kena cekik dan dihantam oleh petugas," ceritanya.

Selain itu ada juga ibu-ibu keningnya berdarah akibat terkena parang. 

"Tujuannya untuk menggertak Pamong karena tidak sanggup dijajah seperti ini," terangnya.

Dia juga mengungkap kira-kira ada sekitar lebih dari 20 orang petugas yang turun kelapangan dalam penertiban tadi.

"Pesan saya kalau memang peraturan Perda, tolonglah merata jangan di sini dilarang jualan tapi di Muara Lasak dibolehkan jualan itu meletakkan kecemburuan sosial jadinya," jelasnya.

Dia juga mengatakan katanya akan dicarikan solusinya namun sudah berapa bulan mereka juga tidak ada solusinya.

Dia juga menegaskan akan melaporkan permasalahan ini ke pihak Kepolisian karena ini dianggap sudah bertentangan dengan hukum lantaran adanya kekerasan dalam penertiban ini.

"Harapan kami siap untuk mengikuti aturan tetapi kami diberi solusi masalah ini, kalau tidak di bolehkan  berjualan di trotoar, carikan solusinya, kami siap kalau menjaga kebersihan kami siap kalau melanggar ada hukumannya, kami siap," tutupnya.

Ditempat terpisah Kasat Pol PP, Mursalim saat dikonfirmasi mengatakan bahwa penertiban ini adalah tugas rutin yang dilakukan oleh Satpol PP tiap harinya.

"Karena Pantai Padang ini adalah wajahnya Kota Padang, sebab setiap orang yang datang ke Pantai Padang, tidak pas rasanya kalau belum ke Pantai Padang," ujarnya saat ditemui di Mako Satpol PP Padang.

Dia juga mengatakan selalu berupaya memberikan kenyamanan kepada warga kota dan pengunjung.

"Selama ini keluhan yang datang ke kami bahwa pantai itu kotor, banyak pemalak dan  PKL nya menguasai trotoar, itulah yang kita tertibkan selama 2 bulan ini," tuturnya.

Sementara untuk kejadian tadi pagi katanya adalah dampak dari penertiban kita selama 2 bulan ini, sudah dilarang namun PKL masih berdagang di sana.

"Faktanya tadi pagi, setelah ditegur tidak juga diindahkan, apalagi mereka sebanarnya melakukan hal-hal yang kurang baik kepada petugas, makanya kita angkat dengan mengacungkan parangnya kepada petugas," ujarnya.

"Namun ketika petugas merebut parangnya, salah seorang PKL membenturkan parangnya itu ke kepalanya sendiri, makanya kepalanya ada mengeluarkan darah," tegasnya.

Dia juga menunjukkan rekaman vidio yang bisa dijadikan saksi atau bukti bahwa petugas tidak melakukan kekerasan seperti yang dikatakan oleh para PKL.

"Harus diperjelas kita hanya merebut parangnya, ketika kursinya diangkat, dia marah dan mengacungkan parangnya," tegasnya.

Untuk yang katanya diseret, Satpol PP juga menampik adanya hal itu.

"Kami ada vidionya, bisa dilihat, mereka yang menyerang dan kami hanya melindungi diri," ujarnya.

Untuk masalah terjadinya kecemburuan sosial karena yang di Muara Lasak tidak ditertibkan, Mursalim menjelaskan sebenarnya bukan tidak ditertibkan namun tempat pemindahan mereka belum ada. Sementara yang di Cimpago mereka sudah dapat, mereka yang masih berjualan disana.

"Saya juga dapat kabar, bahwasannya ada diantara mereka yang sudah mendapatkan tempat berjualan di LPC namun mereka malah menjual atau menyewakannya, silahkan dicari datanya ada itu," terangnya.

Untuk pelaporan warga ke pihak Kepolisian terkait kasus ini, mereka akan rapat mengenai masalah ini, dan akan menyampaikan kepada kepolisian setempat tentang fakta yang sebenarnya.

"Saya juga sudah menyampaikan kepada anggota saya, dalam penertiban harus humanis, tidak ada yang boleh memukul masyarakat, tidak ada yang boleh anarkis," ujarnya.

Dia juga mengatakan lebih lanjut, apabila terjadi keos saat penertiban tentunya anggotanya juga harus melindungi diri.

"Selanjutnya kita akan koordinasi dengan Walikota untuk tindakan selanjutnya," tutupnya.

(adi) 

Berita Terkait

Baca Juga