Berusia Lebih dari Seabad, Masjid Raya Rao-Rao Tetap Indah dan Kokoh Tak Dimakan Zaman

Berusia Lebih dari Seabad Masjid Raya RaoRao Tetap Indah dan Kokoh Tak Dimakan Zaman Foto: Pariyadi Saputra/Covesia.com

Covesia.com - Masjid memiliki fungsi dan peranan penting bagi umat muslim di dunia. Masjid sebagai tempat bersujud dan beribadah kepada Allah SWT. 

Namun, dalam perkembangan Islam di Indonesia, masjid dapat beradaptasi dengan budaya yang ada di Indonesia. Akulturasi tersebut membuat bangunan masjid memiliki nilai keunikan tersendiri.

Salah satu masjid dengan keunikan akulturasi budaya yang melekat dalam pesonanya adalah Masjid Raya Rao-Rao.

Dinamakan Masjid Raya Rao-Rao karena terletak di Nagari Rao-Rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri kokoh sampai saat ini dan menjadi cagar budaya Sumatera Barat.

Bercerita tentang sejarah berdirinya masjid ini, mulanya dimulai pada tahun 1904. Para tetua atau sesepuh yang dikenal dengan tigo tungku sajarangan (niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai) Nagari Rao-Rao merancang untuk membangun satu masjid nan indah.

Lalu, masyarakat setempat bernama H. Mohammad Thaib Caniago mewakafkan tanahnya agar pembangunan masjid dapat berjalan. 

"Para tetua memulai perencanaan pada tahun 1904. Lalu pada tahun 1905, pembangunan terkendala karena dulu tanah masjid ini merupakan daerah rawa. Sehingga dibangun terlebih dahulu tiang nan empat yang ada saat ini," kata Mahfuz, sesepuh Masjid Raya Rao-Rao.

Pada tahun 1908, setelah pembangunan tiang selesai, Abdurrachman Datuk Majo Indo bersama masyarakat Nagari Rao-Rao memprakarsai pembangunan masjid ini.

"Tahun 1908 baru diletakkan batu pertama untuk pembangunan pondasi masjid ini," sambung Mahfuz.

Masyarakat saling bergotong royong agar pembangunan masjid dapat selesai. Pada tahun 1914, Masjid Raya Rao-Rao pertama kali digunakan oleh jemaah untuk sholat Jumat. Lebih lanjut, pada tahun 1918, masjid dibuka untuk masyarakat umum. Namun, masjid ini belum resmi menjadi masjid nagari karena masih ada masjid tertua di Nagari Rao-Rao pada saat itu.


Masjid itu bernama Masjid Jamiak yang dikenal oleh masyarakat sebagai Masjid Baukia atau Masjid Atap Ijuak. Masjid ini diperkirakan sudah berdiri lebih dahulu daripada berdirinya Nagari Pagaruyuang, Tanah Datar.

"Dulu di nagari ini ada masjid tertua yang terbuat dari ukiran kayu dengan atap ijuak, tetapi tidak diketahui lagi usianya. Kalau kata tetua dulu, masjid itu lebih dulu berdiri dari Nagari Pagaruyung," jelasnya.

Sayangnya, Masjid Atap Ijuak harus dibuka pada tahun 1924 dikarenakan usia masjid yang sudah tua. Sehingga Masjid nagari pindah ke Masjid Raya Rao-Rao.

Masjid yang dibangun di satu nagari kecil di pinggang gunung merapi ini, telah melalui pemikiran matang para tetua Nagari Rao-Rao, baik dari segi bangunan maupun filosofi agamanya.

Tidak hanya elok dengan arsitekturnya, bangunan masjid dijiwai dengan semangat Islam yang sejalan dengan pepatah minang "Adat Basandi Syara' dan Syara' Basandi Kitabullah" bermakna adat bersendi pada agama, dan agama bersendi pada Alquran.

Lalu apa yang menarik dari masjid Rayo Rao-Rao?

Masjid Raya Rao-Rao berada pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut dengan luas bangunan 16×16 m. 

Arsitektur masjid ini merupakan akulturasi dari tiga kebudayaan dunia, yakni Melayu (Minangkabau), Eropa (Italia dan Belanda), serta Timur Tengah (Persia).

Nuansa Minangkabau yang melekat tampak jelas pada bagian atap bersusun tiga berbahan dasar seng. Di bagian atas terdapat menara berbentuk segi empat yang bergonjong empat.  Gonjongannya mengarah pada empat penjuru mata angin. 

Ada fakta menarik dalam pembangunan gonjong menara yang menjadi simbolik nuansa Minangkabau. Atap bergonjong empat menandakan empat suku yang menghuni Nagari Rao-Rao, yakni Petapang Koto Anyie, Bendang Mandahiliang, Bodi Caniago, dan Koto Piliang yang hidup rukun dan saling berdampingan.

Tidak hanya pada atap masjid, tiang besar di dalam masjid juga menjadi simbolik nuansa minangkabau.

Seperti yang dijelaskan di awal sejarah pembangunan, bangunan pertama yang didirikan adalah tiang besar di dalam masjid. 

Tiang itu disebut 'Soko Guru'. Tiang yang terdiri atas empat buah itu menunjukkan jumlah niniak mamak yang ada di Nagari Rao-Rao, yaitu Chaniago, Bendang Mandailing, Koto Piliang, dan Petapang Koto Anyie.

Sementara masuknya nuansa Eropa dikarenakan masjid dibangun pada masa pemerintahan Belanda sehingga pengaruh budaya Eropa juga berpadu dalam pembangunan masjid tersebut.

Nuansa Eropa terdapat pada balutan tiang-tiang yang menambah keelokan bangunan masjid. Terdapat 24 tiang yang menghiasi masjid. Tiang berasal dari sumbangan masing-masing penghulu di daerah tersebut, sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan masjid.

Selain balutan tiang, corak marmer masjid juga menampilkan nuansa Eropa. Desain marmer dipesan langsung dari Eropa, tepatnya Italia.

Kita balik ke sejarah pembangunan, saat masjid selesai dibangun pada 1918, lantai masjid belum diberi marmer karena terkendala masalah dana. 

Lalu para sesepuh nagari datang ke Malaysia mencari sumbangan dana yang akhirnya di sanggupi. Sehingga, pada tahun 1920, marmer dikirim dari Italia ke Nagari Rao-Rao. Marmer tersebut selesai dipasang pada 1921.

"Ada sedikit perubahan, keramik di dalam masjid sudah diganti, yang masih asli dari Italia itu keramik di teras," jelas Mahfuz.

Bentuk pengaruh lainnya, masjid ini dibangun mengunakan semen atau beton. Padahal, masjid kuno Minangkabau pada masa itu umumnya dibangun dengan material kayu.

Untuk nuansa Timur Tengah (Persia) lebih menonjol pada ornamen penghias dinding bagian luar maupin pagar teras masjid.

Pada tiang di bagian teras, terdapat pola lengkung yang menghubungkan satu tiang dengan tiang lainnya, yang memperlihatkan nuansa Persia.

Dalam junjungan semangat agama, terdapat simbolik agama dari jendela masjid. Jendela dibangun sebanyak 13 jendela, yang bermakna perwujudan 13 rukun sholat. Sementara itu, masjid juga dibangun dengan enam buah pintu yang melambangkan enam penciptaan masa alam.

Sementara mihrab Masjid, terdapat ornamen unik dari pecahan kaca keramik milik keluarga Haji Mutahhib yang pecah saat gempa 1926. Mihrab selesai dibangun secara permanen pada tahun 1932.

Namun, ada fakta unik dari mihrab ini. Mihrab memiliki dua tiang dengan bentuk berbeda. Tiang satu melambangkan deta penghulu dan tiang lainnya melambangkan sorban alim ulama. Hal ini bermakna bahwa adanya keselarasan adat minangkabau dengan agama Islam.

Tidak hanya sebagai tempat beribadah, Masjid Raya Rao-Rao terdiri juga digunakan untuk aktifitas lainnya, seperti tempat mengaji, bela diri, iktikaf, dan sebagainya.

Teras masjid sering digunakan masyarakat untuk berkumpul dan mengadakan musyawarah bersama. Masjid juga memiliki satu ruangan yang digunakan untuk ikhtikaf bagi masyarakat. 

Sementara halaman masjid sering digunakan oleh anak-anak untuk berlatih bela diri. Selain itu, di samping masjid terdapat madrasah tsanawiyah tempat sekolah bagi anak2.

Lebih lanjut, di dalam masjid terdapat kolam renang yang menyatu dengan tempat wudhu. Kolam sering dimanfaatkan untuk belajar renang oleh anak-anak.

"Sesuai dengan sunat Rasul, ajarilah anakmu berenang, memanah, dan berkuda," kata Mahfuz.

Di sisi belakang masjid, terdapat 12 makam pendiri masjid dan keluarga, yaitu makam Abdurrahman Datuk Maharajo Indo, makam Tuanku Laras Marajo Inan, dan makam lain adalah makam keluarga yang namanya tidak diketahui oleh masyarakat setempat.

(adi)

Berita Terkait

Baca Juga