Walhi Sumbar Soroti Pemda soal Abrasi di Pantai Pasir Jambak Padang

Walhi Sumbar Soroti Pemda soal Abrasi di Pantai Pasir Jambak Padang Foto: Pariyadi

Covesia.com - Tingginya Gelombang laut di pesisir pantai padang belakangan ini menyebabkan terjadinya abrasi di beberapa titik pesisir, seperti di pesisir Pantai Pasir Jambak. Menanggapi hal itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar juga menyoroti tingginya dampak abrasi yang terjadi di Pantai Pasia Jambak, Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, pada Minggu pagi (3/7/22) lalu.

“Gelombang pasir yang mencapai ketinggian 3 meter ini berdampak terhadap pemukiman masyarakat,” ungkap Tommy Adam Kepala Departemen Advokasi WALHI Sumbar dalam keterangan tertulisnya yang diterima Covesia.com, Rabu (6/7/2022).

Dia menjelaskan, Kelurahan Pasie Nan Tigo dengan luas wilayah 14,57 kilometer persegi atau 1.457 hektar dan berada pada ketinggian 0 – 3 meter di atas permukaan laut amat terancam jika abrasi tidak secepatnya diantisipasi.

“Dari analisis spasial yang kami lakukan, abrasi mencapai lebih dari 50 meter di bibir Pantai di Kelurahan Pasie Nan Tigo,” jelasnya.

Selain itu dia juga menyebut akan ada 11.581 penduduk yang terancam kehilangan rumah atau mata pencaharian akibat abrasi pantai.

“Ada ratusan rumah yang akan terancam hilang serta kerugian dapat mencapai miliaran rupiah. Ini harus segera diantisipasi,” terangnya.

Ini semua katanya karena maraknya alih fungsi lahan mangrove atau tanaman rawa menjadi tambak udang di Kelurahan Pasia Nan Tigo menurut Walhi, menjadi penyebab terjadinya abrasi.

“Tercatat pada tahun 2021 sebanyak 31 petak tambak udang berada di Pasia Nan Tigo, yang berasal dari alih fungsi lahan rawa serta mangrove. Sejatinya mangrove adalah tanaman yang menjaga kestabilan ekosistem pesisir dari gelombang air laut,” tegasnya.

Walhi Sumbar juga meminta Pemprov Sumbar dan Pemko Padang untuk segera turun tangan dalam mengatasi masalah tersebut. Sebab, jika terus dibiarkan, pemerintah daerah akan mengeluarkan banyak anggaran untuk merelokasi permukiman masyarakat.

“Bila tidak diantisipasi oleh Pemprov Sumbar dan Pemko Padang bencana abrasi tersebut, maka Pemko harus mengeluarkan anggaran besar untuk relokasi permukiman dan mencarikan alternatif mata pencaharian baru bagi Warga Pasia Nan Tigo,” tutupnya.

Berita Terkait

Baca Juga