Sepanjang 2022, Nurani Perempuan Catat 94 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Sumbar

Sepanjang 2022 Nurani Perempuan Catat 94 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Sumbar Saat Konferensi Pers di kantor WCC Nurani Perempuan (25/11/2022)(Foto: Covesia-Lisa)

Covesia.com - Sepanjang tahun 2022, Women Crisis Center (WWC) Nurani Perempuan mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 94 kasus di Sumatera Barat.

Hal itu disampaikan Rahmi Meri Yanti, katanya, selama Jannuari-November 2022 WCC Nurani Perempuan mencatat sebanyak 94 kasus kekerasan terhadap perempuan.

"Dari 94 kasus ini terbagi ke dalam kekerasan seksual 51 korban KDRT 38, penganiayaan 2, perundungan 2, kekerasan dalam berpacaran 1 korban," ujarnya pada saat konferensi pers di kantor WCC Nurani Perempuan, (25/11/2022).

Sambungnya, dari kasus kekerasan terhadap perempuan yang diterima WCC Nurani Perempuan mengatakan pelakunya tidak hanya dari lingkungan luar, tetapi dilingkungan keluarganya sendiri.

"Pelaku kekerasan juga dilakukan oleh suami, ayah, ayah tiri, pacar, guru ngaji, serta teman," ungkapnya. 

Lebih lanjut ia mengungkapkan, tempat terjadinya kekerasan dijumpai di rumah, sekolah, kampus, rumah ibadah, hotel, serta tempat wisata.

Katanya, untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, Meri menyebutkan dalam 3 tahun terkahir angkanya masih tinggi. "Korban yang melapor ke WCC Nurani tahun 2020 ada kasus 94,  2021 ada 104  kasus, dan 2022 ada 94 kasus," ujarnya.

"Dari angka tersebut, kita masih melihat angka kekerasan terhadap perempuan lumayan tinggi," sebutnya. 

Meri juga menyebutkan, dalam menangani kasus, Nurani Perempuan bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). "Kita juga bekerja sama dengan LBP Padang, kasus yang sampai ke pengadilan lumayan sulit terutama pelecehan seksual yang tidak adanya bukti nyata dan dilakukan secara langsung," tuturnya.

Sementara itu, LBH Padang Ranti Putri mengatakan, kekerasan terhadap perempuan sulit untuk masuk laporan kepada Kepolisian.

"Laporan sampai pada tahap kepolisian lumayan sulit, terutama pada kasus kekerasan seksual yang dilakukan secara langsung," katanya.

"Sampai saat ini ada 5 kasus DPO pelaku kekerasan seksual yang hingga kini tidak jelas mekanisme penangkapan pelaku, karena lambannya penangan oleh pihak Kepolisian," imbuhnya. 

(lsa)

Baca Juga