Kejati Sumbar Kembali Tahan 2 Orang Tersangka Terkait Korupsi Pembangunan Rusun ASN di Sijunjung

Kejati Sumbar Kembali Tahan 2 Orang Tersangka Terkait Korupsi Pembangunan Rusun ASN di Sijunjung Foto: Istimewa

Covesia.com - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Barat (Sumbar) kembali menahan dua orang tersangka kasus korupsi pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) bagi ASN atau pekerja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sijunjung, Selasa (24/1/2023).

Dengan ditahannya 2 orang tersangka ini maka Kejati Sumbar, total resmi menahan lima tersangka setelah sebelumnya 3 orang ditahan terlebih dahulu.

Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Sumbar, Mustaqpirin mengatakan sebelumnya hanya ada tiga tersangka yaitu AR, EE dan TR. Untuk dua tersangka lainnya yakni JHP dan A.

"Kasus ini sudah naik ke status penyidikan hingga ditetapkan lima tersangka yaitu AR, EE, TR, JHP, dan A," kata Mustaqpirin kepada awak media, Selasa (24/1/2023).

Ia menjelaskan saat ini para tersangka sudah melalui proses pemeriksaan dengan didampingi pengacara dan diberikan seluruh hak selaku tersangka, dan sudah diperiksa kesehatannya dengan kondisi sehat dan layak untuk ditahan.

"Bagi yang belum menghadiri pemanggilan, kita akan jadwalkan pemanggilan ulang sesuai KUHAP," ujarnya.

Sebelumnya kasus ini sudah diselidiki Kejati Sumbar sejak tahun 2021, namun surat perintah penyidikan baru turun pada tahun 2022.

Diketahui modus operandi para tersangka terindikasi penyimpangan spesifikasi ataupun pengurangan volume serta pembangunan yang tidak selesai yang mengakibatkan kerugian negara.

"Seharusnya terjadi putus kontrak namun tetap dibayarkan 100 persen," jelasnya.

Untuk memperkuat bukti, pihaknya juga meminta dan melibatkan BPKP selalu ahli, kemudian LKPP untuk memperkuat hasil teknis dari penghitungan kerugian oleh negara dari BPKP biar sinkron.

Sementara mengenai peran masing-masing tersangka, Kepala Seksi Penyidikan Kejati Sumbar, Sumriadi mengatakan, tersangka AR sebagai PPK, EE sebagai kuasa Direktur PT Hagiat Lestari dan TR Pelaksana Lapangan PT Hagita.

Untuk dua tersangka yang baru ditahan, JHP bertindak sebagai Pelaksana Lapangan dan AL sebagai Manajemen Konstruksi.

"Anggaran kerugian mencapai Rp13,1 miliar dalam tahun anggaran 2018," ucapnya.

(adi) 

Baca Juga