Polres Pasaman Barat Mulai Selidiki Kasus Dugaan Penggunaan Buku Nikah Ilegal

Polres Pasaman Barat Mulai Selidiki Kasus Dugaan Penggunaan Buku Nikah Ilegal Polres Pasaman Barat (Foto: Ist)

Covesia.com - Kepolisian Resor Pasaman Barat, Sumatera Barat sepertinya tidak menunggu lama dan langsung melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan penggunaan buku nikah hasil curian (ilegal) yang hilang di Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat oleh oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Pasaman yang berinisial R.

Kepala Polres Pasaman Barat, AKBP Sugeng Hariyadi melalui Kepala Satuan Reskrim, AKP Fetrizal mengatakan sudah menerima bukti baru dalam kasus tersebut.

"Kita sudah menerima laporan ada temuan bukti baru dan saat ini kita sedang menelusuri dari mana buku nikah milik terlapor itu diperoleh," terang Kasat Reskrim, AKP Fetrizal di Simpang Empat, Rabu (21/10/2020).

AKP Fetrizal mengatakan pihaknya segera memanggil pelapor maupun terlapor guna kepentingan penyelidikan dalam kasus tersebut.

Sebelumnya, Pada hari Senin (19/10/2020) kemarin pihak Polres Pasaman Barat menerima laporan pengaduan dari seorang anggora TNI-AD Pasaman, Poniman tentang dugaan penggunaan buku nikah oleh oknum ASN pada Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) inisial R.

Laporan itu dibuat Poniman bersama pelapor lainnya Itnawati yang menemukan tiga buah buku nikah dengan nomor seri SB 5663986 warna hijau, nomor seri AH 0122637 warna hijau dan nomor seri AH 0122647 warna coklat.

Salah satu buku nikah itu nomor seri SB 5663986 diduga masuk buku nikah yang hilang di Kemenag Pasaman Barat pada 2017. Buku itu diduga ditulis dan diisi oleh yang bersangkutan R atas namanya sendiri.

Baca juga: Diduga Menggunakan Buku Nikah Ilegal, Seorang ASN di Pasaman Dilaporkan ke Polisi

Pelapor, Poniman menyebutkan temuan buku nikah itu berawal saat ia bersama saudara iparnya menemukan buku nikah. Pihaknya juga melihat satu ikat buku nikah lainnya sertap satu tas sandang berisikan beberapa stempel di rumah terlapor R yang beralamat di Benteng Nagari Tanjung Beringin Kecamtan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman.

Melihat ada kejanggalan, maka ia mencari informasi di berita online dan mendapatkan informasi bahwa ada sekitar dua ribu pasang buku nikah hilang di Kemenag Pasaman Barat pada 2017. Pihak Kemenag juga telah membuat laporan polisi ke Polres dengan nomor : LP/202/VI/2017 pada tanggal 25 Juni 2017.

Ia juga menemui mantan petugas penghulu di Tanjung Beringin Lubuk Sikaping yang sebelumnya dituding oleh R memberikan buku nikah dengan nomor seri SB 5663986 yang sebelumnya telah menikah dengan seorang bidan desa di Anam Koto Kinali inisial TJ.

Dari pengakuan KUA Simpati Pasaman, Husnul telah menerbitkan surat rekomendasi perkawainan kepada TJ dan R untuk menikah di Kinali Pasaman Barat pada 29 Mei 2019.

Namun pada 14 Agustus 2020 KUA Simpati mencabut surat rekomendasi itu karena adanya kesalahan prosedur dan adanya indikasi kebohongan dalam pengurusannya tanpa dilengkapi dokumen NA dan R belum pernah melangsungkan pernikahan resmi di Kantor KUA Kinali.

Menurutnya Itnawati merupakan pihak korban semasa R menjabat sebagai KUA Kecamatan Panti yang menerbitkan duplikat surat nikah terhadap suaminya sebagai bukti untuk dokumen pernikahannya dengan istri sirinya dan mereka telah bercerai.

Ia berharap kasus ini dapat diungkap karena menyalahgunakan buku nikah ilegal untuk nikah siri. Apalagi kuat dugaan buku nikah itu merupakan buku nikah yang hilang di Kemenag Pasaman Barat.

Ia juga menambahkan R sebelumnya merupakan pejabat senior di Kantor KUA Departemen Agama Pasaman dan pada 2017 berpindah tugas ke Pemkab Pasaman.

Sebelumnya pada 2017 Kemenag Pasaman Barat membuat laporan polisi ke Polres Pasaman Barat kehilangan dua ribu pasang buku nikah dengan nomor seri SB 5663501 sampai dengan SB 5665500.

Sementara itu saat dikonfirmasi ke terlapor R ke nomor 0813634055xx belum bisa memberikan keterangan dan akan ditemui Covesia.com secara langsung secepatnya untuk meminta keterangan terkait laporan kasus tersebut.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga