Mengenal Sosok Karl Marx yang Tulisan Tangannya Terjual Rp7,8 Miliar

Mengenal Sosok Karl Marx yang Tulisan Tangannya Terjual Rp78 Miliar Karl Marx (foto: Wikipedia)

Covesia.com - Sebagian orang mungkin belum mengenal sosok Karl Marx yang tulisan tangannya baru saja terjual Rp7,8 miliar dalam lelang manuskrip filsuf di Beijing, China. Lelang tersebut menandai 200 tahun kelahiran Marx.

Naskah itu merupakan salah satu dari 1.250 halaman catatan Marx yang dibuat di London mulai September 1850 hingga Agustus 1853 yang bersumber dari naskah pertamanya bertajuk "Capital". Catatan tersebut berisi pandangan atas bahan penelitian dan pengembangan pemikiran Marx tentang ekonomi.

Karl Marx termasuk Filosof beraliran kiri yang fenomenal. Karena hampir tidak ada filosof Barat setelahnya yang tidak terpengaruh oleh pemikiran Marx. Pemikiran Fredrich Nietzsche, Henri Bergson atau Martin Heidegger secara tidak langsung terpengaruh alur gagasan Karl Marx.

Aliran pemikirannya termasuk dalam kategori filsafat idealis, yakni selalu membicarakan bagaimana cara manusia untuk menjadi makhluk yang sempurna. Embrio doktrin humanisme ini kemudian dikembangkan para filosof setelahnya.

Untuk mencapai gagasan filosofisnya, Marx menawarkan filsafat Materialisme. Yakni materi sajalah menurut Marx yang nyata. Di dalam hidup kemasyarakatan satu-satunya yang nyata adalah masyarakat yang bekerja.

Menurut Marx manusia bekerja, maka dia ada (hidup). Ia membagi masyarakat menjadi dua kelas; yaitu kelas buruhdan kelas borjuis. Gagasan utama Karl Marx adalah memperjuangkan emansipasi kaum buruh, yakni membela kaum proletar tersebut untuk mencapai kesetaraan dengan kaum borju.

Berdasarkan hal itu, Karl Marx menyatakan bahwa manusia tidak boleh dipandang secara abstrak, akan tetapi harus dipandang secara konkrit yaitu dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya sebagai makhluk yang bekerja. Hakikat manusia menurutnya adalah bahwa ia adalah makhluk pekerja (homo laborans, homo faber).

Mengenai agama, pandangan Karl Marx hampir sama dengan pemikiran Feuerbach. Menurutnya, agama adalah hasil proyeksi keinginan manusia. Perasaan dan gagasan keagamaan adalah hasil suatu bentuk masyarakat tertentu.

Jika kita membicarakan manusia tidak boleh kita membicarakannya sebagai tokoh yang abstrak, yang berada di luar dunia. Manusia berarti dunia manusia, yaitu negara-masyarakat dan masyarakat-negara, hal inilah menurut Marx yang menghasilkan agama.

Karl Heinrich Marx merupakan filsuf Jerman keturunan Yahudi yang lahir di Trier, Kerajaan Prusia (sekarang Jerman) pada 5 Mei 1818. Dikutip dari berbagai sumber, Marx terlahir dari ayah keturunan rabi Yahudi. Namun pada akhirnya Marx sendiri lebih cenderung mengamini filsuf Jerman Ludwig Feurbach, dan menyimpulkan agama sebagai candu masyarakat. 

Doktor Filsafat dari Universitas Berlin ini juga pernah menjadi jurnalis koran radikal Rheinische Zeitung. Bahkan dia pernah menjadi kontributor The New York Daily Tribune. Dia hidup berpindah-pindah, sebelum akhirnya ke Inggris, negara asal sahabatnya yakni Fredrich Engels yang menopang kebutuhan keuangan Marx. 

Marx menikah dengan Jenny von Westphalen, yang sudah dikenalnya saat muda. Mereka dikaruniai tujuh anak, namun lantaran kemiskinan yang melanda keluarganya ketika di London, hanya ada tiga anak yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Marx meninggal pada umur 64 tahun dan dimakamkan di High Gate Cemetery, London. 

Karya-karyanya memang menjadi rujukan utama kaum sosialis di seluruh dunia. Sejumlah karya monumentalnya antara lain adalah Manifest der Kommunistischen Partei (Manifesto Komunis) dan Das Kapital. 

Lantas bagaimana ceritanya Marx bisa dianggap sebagai bapak komunis? Marx sendiri sebenarnya menggunakan istilah 'komunisme' dan 'sosialisme' secara bergantian. Memang banyak pula pemikir sosialis yang lebih dulu daripada Marx, namun Marx menyatakan dirinya berbeda dari para pendahulunya. Marx menyebut pemikirannya sebagai sosialisme ilmiah.

Sosialisme dia maknai sebagai paham yang berakar dari realitas ekonomi dan sosial yang nyata, bukan sebagai ajaran moral belaka. Maka pemikiran Marx pada tahap-tahap lanjut terkesan lebih seperti kajian ekonomi dan sosiologis daripada filosofis. 

Menurutnya, akar kejahatan sosial adalah kepemilikan pribadi. Akumulasi modal yang terpusat pada kelas tertentu akan berakibat pada penindasan kelas yang terhisap. Jika ketidakadilan semakin memuncak, disertai kondisi-kondisi yang mensyaratkannya, maka saat itulah revolusi telah matang. Kelas proletar yang tertindas diharapkan bisa mengambil alih kepemilikan alat-alat produksi menjadi kepemilikan bersama.

Tentu saja, revolusi dan penciptaan masyarakat tanpa kelas menuai banyak tafsiran. Maka paham-paham selanjutnya terus saja berkembang, meneruskan, merevisi, dan melengkapi konsep sosialisme-komunisme sepeninggal sang bapak sosialisme ilmiah itu. Istilah Marxisme sering diatribusikan kepada para penganut gagasan Marx.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga