Kisah Ardinal, Mengajar di SDN 22 Sipinang Seorang Diri

Kisah Ardinal Mengajar di SDN 22 Sipinang Seorang Diri Ardinal seorang guru tunggal di SDN 22 Jorong Sipinang, Nagari Sipinang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. (Johan Utoyo/ Covesia.com)

Covesia.com - Dalam satu sekolah dengan jumlah siswa delapan orang  itu mungkin sangat sedikit. Kendati demikian, proses belajar mengajar tetap harus dilaksanakan. Dia adalah Ardinal seorang guru tunggal di SDN 22 Jorong Sipinang, Nagari Sipinang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Ardinal menjadi satu satunya guru yang ditugaskan memberikan bekal masa depan kepada delapan anak yang bersekolah di SDN 22 Sipinang. Menjadi tenaga pendidik tunggal sudah dijalani Ardinal sejak lima tahun terakhir. 

Menurut Ardinal, sebelumnya ada empat guru yang ditugaskan mengajar di sekolah ini. Akan tetapi, jumlah siswa yang tiap tahun kian menyusut membuat tiga temannya terpaksa di mutasi ke sekolah lain.

“Saya dimutasi ke sini tahun 2006. Sebelumnya mengajar di SD Tapian Kandih, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Saat dipindahkan ke sini , kala itu muridnya berjumlah 25 orang dengan tenaga pengajar ditambah dengan saya menjadi 4 orang, “ujarnya saat mengawali perbincangan dengan Covesia.com.

Pada tahun ajaran sebelumnya, kata Ardinal, murid sekolah yang berdiri sejak 1973 itu berjumlah 12 orang. Namun ditahun ajaran 2018/2019 tidak ada siswa yang mendaftarkan diri. Malah empat murid lama memutuskan untuk pindah ke sekolah lain. Sehingga jumlah peserta didik di SDN 22 Sipinang  semakin berkurang menjadi delapan siswa.

Akibat jumlah siswa yang sedikit, tidak ada kegiatan upacara bendera setiap hari Senin di sekolah ini. Tidak ada olah raga beregu yang bisa di laksanakan serta tidak ada kantin untuk tempat mereka jajan.

Ia memahami betul kejenuhan siswanya, kendati demikian, ia terus berupaya agar sisa murid yang masih bertahan bisa  mengerti semua mata pelajaran.

Beragam cara dan strategi pun dilakukan Ardinal agar para siswanya memahami apa yang Ia ajarkan. Untuk proses belajar mengajar, ia menggunakan satu ruangan yang diberi pembatas dibagian tengah dengan dua buah papan tulis.

“Untuk pindah kelas saya hanya perlu pindah papan tulis. Jam  pertama, saya mengajar murid kelas dua, sebanyak 2 orang. Setelah mengerti, saya bagi tugas dan melanjutkan mengajar kelas 3 yang hanya 3 siswa setelah mereka paham, langsung saya kasih soal, kemudian  pindah ke sisi kelas lima yang ada 3 orang siswa, setelah saya beri tugas juga saya kembali lagi di kelas 2 memeriksa tugas yang sudah di berikan, begitu seterusnya “ tutur Ardinal.

Saat jam istirahat, menurutnya, kedelapan siswa biasanya menghabiskan waktu dengan bermain kejar-kejaran atau bola kaki di halaman sekolah. Jika sudah bosan, mereka langsung masuk kedalam ruangan kelas menunggu kedatangan guru.

Mengajar tiga kelas seorang diri, membuat Ardinal tak bisa memberikan waktu yang cukup kepada seluruh siswa. Dalam satu hari, Ardinal hanya mampu menerangkan satu sampai dua mata pelajaran saja, karena harus memberikan giliran ke kelas selanjutnya. Bahkan jika pelajarannya sulit terpaksa dilanjutkan kembali usai istirahat.

Agar siswa tak jenuh belajar, Ardinal pun berupaya menghiburnya dengan cara bernyanyi atau guyonan canda tawa. “Saya paham betul karakter semua murid, tentu mereka merasa kesepian dan jenuh untuk belajar. Agar proses belajar mengajar kembali efektif, saya ajak mereka bernyanyi, bercerita dan guyonan canda tawa. Saya harus memberi semangat, agar mereka tetap mau belajar, " terangnya.

Tidak hanya murid, Ardinal mengaku, terkadang rasa jenuh pun menghampirinya. Ardinal yang sudah mengabdi selama 30 tahun sebagai guru mengaku terkadang timbul rasa kesepian karena tidak adanya teman untuk saling berbagi pikiran dalam mendidik anak-anak tersebut. Hal ini hampir membuatnya putus asa. Akan tetapi, senyum dan sambutan ceria pagi hari dan semangat belajar dari seluruh murid mampu melenyapkan rasa itu.

“Yang membuat saya tetap betah mengajar disana, seluruh siswanya cerdas, cepat paham dengan pelajaran. Saat di uji kembali mereka masih ingat. Jadi tidak perlu mengulangi materi yang sama pada esok harinya. Saat ini saya hanya bisa berharap seluruh murid (di sekolah ini) bisa terus belajar, lulus sekolah dan bisa menyambung ketingkat selanjutnya,"harap Ardinal.

(han/jon)

Berita Terkait

Baca Juga