Merajut Asa di SMK Dhuafa

Merajut Asa di SMK Dhuafa Dari kiri, Masrizal (67 tahun) dan anaknya Juli Arman (18 tahun). (Foto: Alif Ahmad/covesia)

Covesia.com - Nikmatkah kopi yang anda seruput pagi ini? Jauh sebelum anda duduk santai menikmati sarapan pagi, Masrizal (67 tahun), sudah menyusuri sejumlah titik tempat pembuangan sampah sementara di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Sabtu subuh (28/7/2018), dengan memanggul sebuah karung ukuran besar, Masrizal mulai mengayuh sepeda tua dari rumahnya di  RT 003/ RW 015, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Ia menyusuri tempat pembuangan sampah sementara dan mulai memungut barang-barang bekas.

Saban hari, ia kumpulkan berbagai jenis barang bekas yang memiliki nilai ekonomi untuk kemudian dijual ke pengepul. Begitulah keseharian Masrizal menghidupi istri dan anaknya.

“Asalkan bisa dijual, saya pungut. Mulai dari kardus bekas, botol air mineral, dan besi-besi tua yang sudah menjadi sampah. Saya tidak pilih-pilih,” ujar Masrizal kepada covesia.com.

Bila cuaca bersahabat, siang atau sore hari, Masrizal memulung hingga ke kawasan Bungus Teluk Kabung, delapan kilometer dari rumahnya. Setelah karung yang dibawanya penuh, ia kembali ke rumah. Rumah yang didiami itu juga dijadikan ‘gudang’ sementara barang bekas sebelum dijual.

“Saya menjualnya apabila sudah banyak. Penghasilan saya tidak menentu, kalau dirata-ratakan sehari hanya dapat sekitar Rp60 ribu,” ujar Masrizal.

Bekerja sebagai pemulung sudah dijalani Masrizal hampir sepertiga usianya. Rumah tempat ‘berteduh’ Masrizal, beserta istri dan anaknya jauh dari kata layak. Tumpukan botol plastik dan barang bekas menjadi ‘hiasan’ dalam rumah 5 X 4 meter itu. Sepertinya, tak jadi soal bagi mereka.

Jika hujan tiba, bagian tengah rumah tanpa kamar itu tergenang air yang tiris dari atap lapuk karena dimakan usia. "Kalau hujan saat malam hari, kami tidur agak ke sudut agar tidak basah karena rembesan air hujan," ujar Masrizal.

Sementara di pelataran rumah, lima ekor ayam dan dua ekor kambing milik warga sekitar yang digembalai Masrizal, ikut mendiami bidangan di pinggir parit.

Miris memang. Tetapi, wajah mereka tetap menyiratkan ketabahan. Paling tidak, itulah yang tergambar dari kehidupan Masrizal dan keluarganya.

Beban ekonomi mereka sedikit terbantu, sejak si sulung, Ali Nasrianto (28 tahun) lulus SMK, delapan tahun lalu tepatnya. Nasri, sapaan akrabnya, bekerja sebagai pengemudi ojek online di Padang. Penghasilan Nasri memang belum seberapa. Saat ini, hanya bisa untuk biaya hidup sendiri.

Meski pun serba kekurangan, suami Ramaini (48 tahun) itu, tak mengeluh, demi kelanjutan pendidikan si bungsu, Juli Arman (18 tahun).

Pun demikian, pendidikan Juli menjadi prioritas. Tidak boleh berhenti, walau untuk makan, kadang kesulitan.

"Saya tidak ingin anak-anak seperti saya. Saya ingin dia cerdas dan berpikir kreatif dengan tetap bersekolah," ujar Masrizal dengan mata berkaca-kaca.

Masrizal mengisahkan, dia sempat putus asa guna melanjutkan pendidikan Juli ke tingkat SMA. Juli yang lulus SMP pada 2016, sempat terancam putus sekolah. Tentu, persoalannya adalah biaya.  

Tidak terpikir olehnya dari mana memperoleh uang untuk keperluan Juli bersekolah. Dari mana mendapatkan uang untuk beli seragam, biaya transportasi, buku-buku serta keperluan lain.

"Ketika itu, saya tidak punya uang untuk membeli perlengkapan sekolah Juli,” kenangnya.

Mereka hanya bisa pasrah ketika itu, sembari menggantungkan harapan kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam penantian dan harapan yang meninggi, Tuhan memberi jawaban bagi mereka. Jumat sore (26/6/2016), Juli mendapat kabar dari tetangganya, ada sekolah yang menerima siswa dari keluarga tidak mampu, tanpa biaya apa pun.

Sekolah itu bernama SMK Dhuafa Padang, berlokasi di Jalan M. Thamrin nomor 93. Hanya dua kilometer dari rumahnya. Setelah mengikuti serangkaian tes, akhirnya Juli diterima.

Juli mengaku bahagia, bukan saja karena diterima, tetapi seluruh perlengkapan dipinjamkan pihak sekolah yang dinaungi Yayasan Bakti Nusantara Isafat (YBNI) tersebut. Ketika tamat , perlengkapan tersebut dikembalikan untuk dipinjamkan ke siswa lain yang membutuhkan.

"Saya sangat bahagia. Saya tidak bisa membayangkan jika tak ada SMK Dhuafa, mungkin saya tidak akan bisa melanjutkan pendidikan," ungkap Juli gembira.

Remaja berbadan tegap itu tak semata menggantungkan kebutuhan kepada orang tua. Sepulang sekolah, Juli berjualan makanan ringan di pelataran masjid dekat rumah.

"Setiap sore saya jualan dekat masjid. Di sana kan ramai anak-anak belajar mengaji," ujar Juli.

Jika jualannya habis, Juli bisa mendapatkan keuntungan Rp30 ribu. Sebagian dari keuntungan itu diberikan kepada ibu dan sebagian lagi untuk kebutuhan sekolah.

Tak terasa waktu berlalu, kini Juli sudah memasuki tahun akhir di SMK Dhuafa. Siswa kelas 12 jurusan Teknik Kelistrikan tersebut bercita-cita melanjutkan pendidikan ke universitas.   

"Semoga nanti saya bisa kuliah. Saya sudah mulai menabung dan mencari-cari informasi beasiswa," tukasnya.

‘Bengkel’ Anak-anak Miskin itu Bernama SMK Dhuafa


Di SMK Dhuafa, hampir semua siswa berlatar belakang seperti Juli. Rata-rata siswa yang mengenyam pendidikan di sana berasal dari keluarga tidak mampu, anak-anak korban ‘broken home’, dan termarjinalkan.

Kepala Sekolah SMK Dhuafa, Salma Alfarisi mengungkapkan, SMK Dhuafa didirikan bagi siswa yang terancam putus sekolah akibat berbagai persoalan, seperti kemiskinan, persoalan rumah tangga, stigma sosial dan sejenisnya.

Mereka tidak saja berasal dari Padang, bahkan siswa di SMK Dhuafa didominasi anak-anak dari luar Kota Padang, termasuk beberapa diantaranya dari luar Sumbar.  

“SMK Dhuafa tidak sekadar menggratiskan biaya pendidikan siswa. Kami juga bertanggung jawab terhadap tempat tinggal dan biaya makan sehari-hari, termasuk perlengkapan sekolah,” sebut Salma.

Anak-anak yang berasal dari luar Kota Padang akan ditempatkan di asrama milik yayasan. Sementara bagi siswa di Kota Padang, boleh memilih tinggal di asrama atau tetap dengan keluarga.

SMK Dhuafa memiliki dua asrama. Untuk laki-laki dan perempuan. Lokasinya tidak jauh dari sekolah, hanya berjarak satu kilometer. Siswa bisa berangkat ke sekolah hanya dengan jalan kaki.

Pihak yayasan melibatkan peran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan primer siswa yang tinggal di asrama. Yayasan, menurutnya, tidak mungkin sanggup berjalan sendiri, terutama perihal keuangan.

Dia mengatakan, saat ini ada 15 donatur tetap yang membantu, khususnya untuk aktivitas di asrama. Sebagian lagi diambilkan dari kotak-kotak infak yang disebar di berbagai daerah. Selain itu, keuangan yayasan juga terbantu dari hasil usaha yang sedang dikelola.

“Saat ini kita sedang mengembangkan usaha yang dikelola yayasan. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan keuangan agar bisa menampung lebih banyak anak-anak dhuafa,” imbuhnya.

Pihak sekolah saat ini terbentur sedikit kendala karena keterbatasan ruang belajar. Setiap tahun, SMK Dhuafa hanya mampu menerima sekitar 100 siswa untuk empat ruang belajar.

“Secara keseluruhan, saat ini ada 12 lokal untuk 300-an siswa di tiga tingkatan,” tambahnya.

SMK Dhuafa, katanya, diibaratkan sebagai ‘bengkel’ bagi para siswa.

“Ibarat motor yang dibawa ke bengkel, ada yang rusaknya sedang dan ada juga yang parah,” tuturnya.

Umumnya para siswa terhadang persoalan ekonomi. Berapa diantaranya bermasalah secara psikologis akibat persoalan keluarga, termasuk yang terabaikan karena faktor lingkungan.

“Persoalan mereka tidak bisa hanya dituntaskan melalui tindakan formal saja. Harus ada kedekatan hati dan sentuhan psikologis,” ujar Salma yang didampingi mantan Ketua YBNI, Syamsurizal.

Kehadiran SMK Dhuafa, kata Salma, berawal dari permintaan anak jalanan yang dibina YBNI. Mereka ingin mendapatkan ijazah formal.

Sebelumnya, YBNI aktif dalam pembinaan anak-anak jalanan di Kota Padang dan memberikan pelatihan kewirausahaan.

“Atas permintaan itu, pada 1997, pihak yayasan mendirikan SMK Dhuafa. Dan Alhamdulillah hingga saat ini sudah banyak anak-anak kurang mampu yang terbantu,” ujarnya.

Sudah banyak alumni yang berhasil meneruskan pendidikan ke universitas dan mendapat pekerjaan. “Ada yang bekerja di instansi pemerintahan, swasta, BUMN, dan lainnya,” ungkap Salma.

Sejak didirikan 21 tahun silam, partisipasi masyarakat telah membuat SMK Dhuafa tetap kokoh berdiri.

Infrastruktur terus bertambah. Setiap tahun, telah mampu mengantarkan anak-anak ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Anak-anak itu kini telah tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Membahagiakan keluarga dan menemukan jati diri.

Sekolah harapan kaum ‘papa’ ini, telah nyata mewujudkan cita-cita lebih 1.000 anak “tanpa daya.” Memugar sejuta asa, untuk masa depan berjaya.

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga