Mengenal Patra Rina Dewi, Perempuan yang Dedikasikan Hidupnya untuk Mitigasi Bencana

Mengenal Patra Rina Dewi Perempuan yang Dedikasikan Hidupnya untuk Mitigasi Bencana Patra Rina Dewi

Covesia.com - Di Kota Padang, nama Patra Rina Dewi sudah familiar bagi masyarakat, terutama terkait hal yang berhubungan dengan mitigasi bencana.

Perempuan kelahiran Padang, 22 Januari 1973 silam itu, mendedikasikan hidupnya untuk mitigasi bencana, khususnya di Sumatra Barat. Hal tersebut dilakukannya dikarenakan keprihatinannya terhadap Tsunami Aceh 2004yang menelan banyak korban.

Patra memandang, tsunami memberikan dampak psikologis pada dirinya, sehingga timbul keinginan untuk mengabdikan diri pada kesiapsiagaan bencana, khususnya untuk ancaman gempa dan tsunami. Bersama teman-temannya, Patra lantas mendirikan mendirikan organisasi bernama Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) .

Patra mengenyam pendidikan di kota Padang dimulai dari SDN 81 pada 1979-1985,  SMPN 2 Padang pada 1985-1988, SMAN 2 Padang pada 1988-1991,  selanjutnya jurusan Biologi, FMIPA Universitas Andalas pada 1996, dan 2001, Master of Science, Faculty of Biology, University Sience of Malaysia  (USM). 

Tanggung jawab moral untuk mengubah pandangan hidupnya, sehingga  undangan untuk meneruskan pendidikan Doktor di University Science of Malaysia pun ia tolak ditolak.

Patra mengungkapkan, bahwa ia tidak pernah terpikir sama sekali untuk menjadi aktivis lembaga swadayamasyarakat (LSM). Setelah cita-cita menjadi dokter tidak bisa dicapai karena lulus UMPTN di pilihan kedua yaitu Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas. 

“Teman-teman yang mengasyikkan, dosen-dosen yang ramah serta suasana lingkungan kampus yang bersahabat telah berhasil membuat saya mengalihkan cita-cita menjadi seorang dosen seperti ibu saya,” ungkapnya.

Seorang dosen, selain selalu tercerdaskan dengan ilmu-ilmu baru yang dibagi dengan mahasiswa, juga bisa punya waktu banyak untuk keluarga. Maka, setelah tamat dari Universitas Andalas, ia melanjutkan S2 di Universitas Sains Malaysia dan berhasil meraih gelar Master of Science.

Ia menjelaskan, menjadi aktivis LSM dikarenakan “panggilan jiwa”.  Keputusan itu ia ambil ketika Dosen Pembimbingnya di Malaysia menawarkan untuk membiayai S3-nya melalui dana grant project jika ia mau melanjutkan studi dengan dosen tersebut. Namun, karena panggilan jiwa tersebut ia tidak mengambilkesempatan emas itu.

Ia tak ingin korban di kota Padang atau Sumbar lebih banyak dibandingkan korban tsunami di Aceh sehingga membulatkan tekadnya untuk mengabdikan diri untuk pengurangan risiko bencana melalui Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). 

“Saya belajar dari nol tentang gempa, tsunami, manajemen penanggulangan bencana dan lainnya. Terimakasih untuk seluruh pihak yang telah mendukung peningkatan kapasitas seorang Patra, dari seorang Biologist menjadi seorang aktivis Pengurangan Risiko Bencana,” tuturnya.

Patra telah melakukan mitigasi di berbagai tempat seperti Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Agam, Kota Pariaman. namun untuk memfasilitasi penyusunan rencana kontinjensi sudah pernah dilakukannya di Kupang, Ciamis, Pakanbaru, Majene, Samaraind.  

“Berkat keloyalan teman-teman di KOGAMI untuk terus berupaya membangun budaya siaga bencana, saya juga sering diundang menjadi narasumber di luar negeri,” ungkap Patra.

Ia pernah menjadi narasumber pada Konferensi Gempa Nasional Amerika Serikat di tahun 2008, pada side event Asian Ministerial Conference for Disaster Risk Reduction ke 4 di Korea Selatan bersama Wakil Gubernur (Muslim Kasim), di Tokyo University, Stanford University, Humboldt University (US), Kogakuin University, University College of London, UNU-EHS Jerman, EOS-Nanyang Technological Univeristy Singapore dan lain-lain.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh Patra bersama KOGAMI. Ia juga mengatakan bahwa kesiapsiagaan Kota Padang dan Sumbar sudah sering diekspos di dunia Internasional. 

“Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih membuat kota Padang dan Sumbar berarti dalam pandangan dunia,” harapnya.  

Hal yang paling menggembirakan baginya ketika masyarakat benar-benar merasakan dampak edukasi. Pada saat gempa terjadi, mereka sudah tahu cara meresponnya. 

Diceritakannya, bahagia ketika mendapatkan telepon dari masyarakat, guru, dan siswa di daerah dampingan yang mengatakan “alhamdulillah, kami semua selamat” atau “alhamdulillah, siswa-siswa dan guru-guru di sekolah kami evakuasi sesuai dengan prosedur yang sudah disepakati dan semuanya selamat.” 

“Itu adalah sekelumit rasa syukur yang terucap ketika gempa 30 September 2009 terjadi dan Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, tidak masyarakat atau siswa di lokasi dampingan KOGAMI yang menjadi korban,” terangnya.

Laila/lif

 

Berita Terkait

Baca Juga