Kisah Pilu Intan, Penderita Kanker Tulang yang Butuh Bantuan

Kisah Pilu Intan Penderita Kanker Tulang yang Butuh Bantuan Intan Kasih Kirana saat terbaring lemah diatas tempat tidur dirumahnya di Kampung Tanjung, Korong Kampung Tangah, Nagari Bisati Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Senin (4/2/2019). Foto (Almurfi Syofyan)

Covesia.com - Intan Kasih Kirana, remaja asal Kampung Tanjung, Korong Kampung Tangah, Nagari Bisati Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, harus terbaring lesu ditempat tidurnya selama satu bulan terakhir.

Perempuan berumur 14 tahun itu divonis mengidap kanker tulang ganas sejak September 2018 yang lalu. Sejak saat itu, remaja yang dikenal pintar dan berprestasi di sekolahnya di MTSN 2 Kota Pariaman itu harus berjuang di tempat tidurnya untuk melawan penyakit yang ia derita.

Intan, begitu ia kerap disapa, mengalami pembengkakan pada bahu kirinya karena terkilir pada September 2018. Kala itu ia ikut merayakan ulang tahun kakak kandungnya.

Lazimnya remaja yang sering merayakan ulang tahun, dia merayakannya dengan cara melempar-lempar telur ayam ke kakaknya. Namun, saat melempar telur tersebut ternyata dia terkilir di bagian bahu kirinya.

Anak ketiga dari lima bersaudara itupun sempat dibawa ke tukang urut untuk mengobati bahu kirinya yang terkilir tersebut. Namun, bukannya sembuh bahu kirinya justru semakin mengalami pembengkakan.

Tak mau mengambil resiko, Joni Indra (51) dan Yulinar (45) kedua orang tua Intan membawa anak gadisnya berobat ke RSUD Pariaman untuk menjalani rontgen, disana dia sempat menginap selama empat malam. Namun penyakitnya tak diketahui sementara Intan selalu mengeluhkan sakit di bagian bahunya yang semakin membengkak.

Dibulan September 2018 itu juga, Intan dirujuk ke RSUP M. Djamil, Padang. Setelah menjalani serangkaian pengobatan, Intan pun divonis dokter mengidap kanker tulang ganas stadium 4.

Tiga bulan lamanya Intan menjalani pengobatan di RSUP M. Djamil, Padang. Saat itu pula satu persatu rambutnya rontok hingga sekarang.

"Intan juga sempat menjalani kemoterapi disana sebanyak satu kali. Namun karena keterbatasan biaya, akhirnya Intan kami bawa pulang kerumah lagi," ucap Ayah Intan, Joni Indra kepada Covesia.com, Senin (4/2/2019) saat ditemui dikediamannya.

Sejak dibawa pulang kerumahnya diakhir Desember 2018 hingga sekarang, Intan hanya mendapatkan perawatan secara tradisional.

"Kami sudah tak ada biaya lagi, sehingga kami hanya bisa membeli obat alternatif yang lebih murah biayanya," ucap ayah Intan yang berprofesi sebagai petani itu.

Diakui Joni Indra, saat ini dirinya mengharapkan bantuan biaya pengobatan anak ketiganya tersebut agar bisa sembuh kembali.

Karena jika mengandalkan uang dari hasil bertani saja tidak bakalan cukup karena biaya pengobatan medis yang cukup besar.

"Alhamdulillah hari ini datang bantuan dari alumni SMPN 1 Sungai Sariak, dan kami sangat berterimakasih sekali" imbuhnya

Melalui tulisan ini, kami mengajak pembaca untuk dapat saling berbagi demi kelancaran Pengobatan Intan Kasih Kirana, melalui rekening BRI: 5497-01-008618-53-8 Atas Nama: Yulinar atau Hubungi Joni Indra dinomor telepon: 082180099333

Kontributor Pariaman: Almurfi Syofyan

Berita Terkait

Baca Juga