Bendungan Jebol, Warga Dusun Sungai Rasau 'Bertarung Nyawa' Seberangi Sungai Berarus Deras

Bendungan Jebol Warga Dusun Sungai Rasau Bertarung Nyawa Seberangi Sungai Berarus Deras Seorang warga Jorong Ketinggian, Kenagarian Sarilamak, Kecamatan Harau, nekat menyebarang sungai berarus deras di daerah itu. Foto: Covesia/ Angga

Covesia.com - Tujuh bulan sudah bendungan irigasi Sanipan 3 di Jorong Ketinggian, Kenagarian Sarilamak, Kecamatan Harau, jebol. Sampai saat ini, masyarakat di dusun Sungai Rasau 'bertaruh nyawa' saat menyeberang sungai Batang Sanipan.

Tanpa bendungan yang jebol November 2018 silam, debit air sungai Batang Sanipan bisa suatu waktu mengancam nyawa, bagi siapa saja yang nekat menyeberang. Jarak bendungan tak terlalu jauh dari Kantor Bupati Limapuluh Kota. Hanya sekitar 2 kilometer. 

Sebelumnya, akses jembatan memang tak ada. Saat bendungan masih baik, arus sungai tak terlalu deras, sehingga warga bisa menyeberang dengan aman.  

Jika curah hujan cukup tinggi di sekitar Jorong Ketinggian, masyarakat akan terisolir hingga 5 hari. Sebanyak 11 KK dan pekerja Balai Pembibitan Ikan Dinas Pertanian Sumbar yang berada di Dusun Sungai Rasau, harus menunggu air surut terlebih dahulu jika ingin menyeberang.

Masyarakat sudah pula membangun jembatan darurat. Disayangkan, jembatan yang dibangun secara swadaya sebanyak dua kali itu kini tak layak pakai.

Dampak lain akibat bendungan jebol yakni, 400 hektar sawah produktif masyarakat tidak bisa digarap karena kekeringan. Mau tak mau, masyarakat terpaksa mencari nafkah di luar dusun, itu pun harus menyeberangi Batang Sanipan, setiap hari.

Wali Jorong Ketinggian, Rido Ramanda mengatakan jika ada kondisi yang krusial, tak jarang masyarakat memaksakan diri menerjang arus sungai dan bertaruh nyawa.

"Saat bendungannya masih ada, debit air bisa dikendalikan. Jadi, masyarakat bisa melintasi sungai tanpa jembatan. Sekarang sudah jebol. Jika hujan, air tinggi dan sangat berbahaya," kata Rido kepada Covesia.com, Selasa (2/7/2019).

Di antara 11 KK ini, ada setiap hari anak sekolah dan orang dewasa yang menyeberang. Jika sungai deras, mayoritas mereka tidak berani melintas karena jembatan darurat andalan mereka sudah hansur dimakan usia.

"Kalau air tinggi, anak-anak terpaksa libur sekolah. para orang tua tidak bisa bekerja. Jika memaksakan diri, bisa hanyut terbawa arus. Jembatan darurat yang dibangun masyarakat juga telah hancur," keluhnya.

Rido menyebutkan, masyarakat Sungai Rasau sangat mengharapkan bendungan ini di bangun lagi.

"Sekarang serba susah," ujarnya.

Sementara itu, Walinagari Sarilamak, Olly Wijaya menuturkan pihaknya sudah berulang kali memasukkan proposal kepada Dinas PUPR dan Balai Sumber Daya Air Sumbar untuk perbaikan bendungan. Sampai saat ini belum ada realisasi.

"Bendungan itu subuh jebolnya. Pagi itu langsung orang Balai Sumber Daya Air Sumbar dan Dinas PUPR Kabupaten Limapuluh Kota datang meninjau lokasi. Di sana mereka berjanji tahun 2019 ini bendungan diperbaiki. Namun, sampai sekarang belum ada kepastian," kata Olly saat ditemui di kantornya.

Untuk menangani kondisi ini, pihak nagari mengambil langkah situasional untuk meminimalisasi dampak bendungan jebol.

"Jika terisolir kami bersama perangkat jorong mendistribusikan bahan makanan dan keperluan masyarakat di sana sampai air surut. Jika listrik mati, kami antar genset. Jadi situasional saja kami lakukan sekarang," katanya.

Olly berharap janji yang disampaikan Balai Sumber Daya Air dan Dinas PUPR Kabupaten Limapuluh Kota bisa segera terealisasi.

"Sejak dijanjikan pada hari jebolnya bendungan, tidak ada lagi informasi maupun perkembangan yang jelas," pungkasnya.

(agg/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga