Mengenal Sutopo Purwo Nugroho, Pahlawan Kemanusiaan yang Meninggal Akibat Kanker Paru

Mengenal Sutopo Purwo Nugroho Pahlawan Kemanusiaan yang Meninggal Akibat Kanker Paru Sutopo Purwo Nugroho

Covesia.com - Sutopo Purwo Nugroho meninggal di Guangzhou, Tiongkok, Minggu (7/7/2019) pada umur 49 tahun. Ia adalah Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB.

Dia merupakan alumni Universitas Gajah Mada dan Institut Pertanian Bogor. Ia bekerja di pemerintahan ditempatkan di BNPB pada 2010 sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana.

Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969. Ia merupakan anak pertama Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. SD, SMP, dan SMA-nya itu ia jalani di kampung halamannya.

Ia memperoleh gelar S-1 geografi di Universitas Gadjah Mada pada 1993, dan menjadi lulusan terbaik di sana pada tahun itu. Ia memeroleh gelar S2 dan S3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor.

Menurut sebuah wawancara Sutopo bersama dengan detik.com, ia hampir menjadi profesor peneliti pada 2012 tapi dikandaskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia karena statusnya sebagai peneliti Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT) yang bekerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Setelah lulus, ia mulai bekerja di BPPT pada 1994. Ia kemudian bekerja pada bidang penyemaian awan. Perlahan-lahan, ia mulai naik pangkat ke Peneliti Senior Utama.

Kemudian, ia membantu BNPB sebelum bekerja secara penuh di sana pada Agustus 2010. Awalnya, ia bekerja pada Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di bulan-bulan pertama ia bekerja, terjadi bencana-bencana terkenal yang menerjang Indonesia seperti banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai dan erupsi Gunung Merapi. 

Ia menjadi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di November pada tahun itu. Menurut Sutopo, ia menolak posisi tersebut 3 kali, sebelum menerima bahwa ia ditunjukkan S3nya, berkata bahwa orang akan memercayainya lebih karena itu. Karena ia dikenal aktif memberitakan bencana di media sosial ketika sedang berlangsung, The Straits Times menyebutnya sebagai "pejabat Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama bencana berlangsung". Selama kerjanya di BNPB, ia diberi penghargaan "Public Campaigner" pada 2014 oleh rmol.co.

Pada 2016, ketika Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengkritik lembaga penanganan bencana provinsi, Sutopo malah membenarkan kata-kata gubernur tersebut, mengatakan bahwa kritik tajam itu mestilah dianggap sebagai kritik yang membangun. 

Pada tahun berikutnya, setelah Ahok dditahan karena kasus penistaan agama, Sutopo menggunakan akun Twitternya untuk memuji secara terbuka keberhasilan Basuki dalam menekan banjir Jakarta ketika Basuki menginjak hari jadinya yang ke-51. Ia juga mengajar di IPB, Universitas Indonesia, dan Universitas Pertahanan Indonesia. Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih dan mereka memiliki 2 orang anak hasil dari pernikahan itu.

Pada Januari 2018, Sutopo mengumumkan bahwa ia mengidap kanker paru-paru stadium IV dan masih berada di bawah tahap perawatan. Keluarga dan dokternya telah memintanya untuk berhenti beraktivitas, namun ia menolak, meskipun sakit. Karenanya ia juga terpaksa pakai morfin. Ia juga masih tetap bersemangat dan tak pernah surut, terutama jika berbicara dengan wartawan. Ia diketahui masih aktif memantau bencana di media sosial, menyediakan informasi, dalam berbagai kejadian, serupa tenggelamnya KM Sinar Bangun dan gempa Lombok pada 2018. Namun begitu, kegiatannya berkurang jauh, dan  hanya terbatas pada kerja kantor saja.

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga