Soal Pilgub Sumbar, Yosmeri: Jangan Pilih Pemimpin yang Hanya Pandai Mengubar Janji

Soal Pilgub Sumbar Yosmeri Jangan Pilih Pemimpin yang Hanya Pandai Mengubar Janji Yosmeri

Covesia.com - KPU RI telah menetapkan 23 September 2020 adalah hari Pencoblosan Pilkada Serentak seluruh Indonesia. Untuk Sumbar terdapat 14 kabupaten/kota mengggelar Pilkada dan satu Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar.

Meski lebih satu tahun lagi, tapi pembicaraan figur yang pas menjadi pemimpin sudah menjadi pembicaraan publik.

Pengamat Politik Yosmeri menilai masyarakat Minang ditakdirkan menjadi masyarakat peduli politik.

Contohnya saat ini pembicaraan soal Pilkada sudah terasa di semua lini masyarakat,, bahkan sudah tahu sosok yang berminat untuk bertarung, baik secara kasat mata maupun yang masih terkesan 'malu-malu kucing'.

"Ada juga yang jawabannya masih normatif, alasan kalau diperintah partai atau bagi yang bukan kader partai jawabannya adalah kalau ada partai yang mengusung,"ujar Yosmeri saat dialog Pilkada dengan beberapa media di Padang, Senin (8/7/2019).

Yosmeri menduga para kandidat yang ingin ikut konstestasi Pilkada tersebut masih gamang untuk menyatakan maju, karena  prosesnya masih panjang dan tentu tidak mudah, apalagi bagi yang bukan kader partai politik (parpol). 

"Apalagi Parpol punya trauma masa lalu yang sering dibohongin. Setelah terpilih, umumnya partai sama sekali tidak dapat perhatian dari mereka yang terpilih, karena antara mereka dengan partai tidak punya hubungan emosional dan tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya mengurus partai," ujar Yosmeri.

Berdasarkan pengamatannya, kandidat yang sudah terang-terangan maju di Pilgub Sumbar baru Mulyadi (Demokrat) dan Nasrul Abit (Gerindra). Sedangkan calon dari PKS dan PAN masih menjadi pertanyaan, apakah akan maju sebagai gubernur atau wakil gubernur. 

Sebenarnya, kata Yosmeri, dari aspek demokrasi hal ini sangat positif dibandingkan masyarakat yang tidak peduli terhadap siapa calon kepala daerah mereka ke depan. Dari obrolan-obrolan yang berkembang, track record (rekam jejak) adalah menjadi perhatian utama oleh masyarakat dalam menentukan pilihan.

"Coba lihat apa yang telah mereka perbuat, jangan salah pilih orang-orang yang hanya mengubar janji padahal hanya omong kosong dan tidak ada rekam jejaknya untuk membangun daerah. Orang seperti itu tidak perlu didengarkanjan," jelasnya.

"Artinya kita tidak boleh meremehkan kecerdasan masyarakat dalam menilai. Dengan kata lain kinerja dan prestasi adalah hal yang sangat penting bagi rakyat untuk menjatuhkan pilihan kepada calon,"ujar Yosmeri.

Yosmeri menyebutkan, masyarakat ternyata tidak tinggal diam dan akan menghukumnya dengan tidak memilih lagi calon-calon yang telah mengingkari janji atau yang tidak memiliki prestasi pada Pilkada 2020 nanti.

Tradisi ini sebetulnya sangat baik, sehingga pemimpin tidak sembarangan berjanji kepada publik dan berhati-hati memberikan janji yang muluk-muluk. Sekali diucapkan harus mampu merealisasikannya,

Apapun jabatan publik yang pernah dia emban, tidak bisa luput dari penilaian dan catatan masyarakat. Masyarakat tidak suka terhadap calon yang modalnya omong doang, tetapi miskin prestasi, rakyat rindu buah karya menjadi dari pemimpin.

"Pesan bagi yang mau mencalonkan diri. Ingat kata pepatah 'Tong kosong nyaring bunyinya', ' Air beraiak tanda tak dalam'. Oleh karena itu hati-hati dalam berjanji, berikanlah janji yang kira-kira mampu dipenuhi, sehingga tidak dicap membohongin dan menipu masyarakat. Istilah orang minang 'ukua bayang-bayang'," ujar Yosmeri.

(lif)

Berita Terkait

Baca Juga