Makan Gulai Bukek, Tradisi Masyarakat Palembayan Agam Rayakan Idul Adha

Makan Gulai Bukek Tradisi Masyarakat Palembayan Agam Rayakan Idul Adha Pembuatan gulai Bukek di Palembayan, Agam, Minngu (11/8/2019)

Covesia.com - Ada keunikan tersendiri yang dilaksanakan Masyarakat  di Nagari IV koto, Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dalam  merayakan hari raya idul Adha. Sebagian daging diolah menjadi kuliner khas gulai bukek dan dimakan bersama usai pembagian daging kurban.

Salah seorang warga setempat Aswir (57) mengatakan gulai bukek memiliki tekstur yang kental dan berwarna kuning atau kecoklatan, sepintas terlihat seperti kuah sate Padang, namun jika dicicipi, lidah akan berkata lain.

Dalam sejarahnya, gulai bukek ini berkaitan erat dengan kondisi ekonomi sulit masyarakat pada zaman penjajahan Belanda. Pada hari raya Idul Adha hewan qurban yang dipotong tidak sebanyak sekarang, jika dibagikan banyak warga yang tidak mendapatkan daging, agar semua warga dapat mengecap  kurban, maka muncul lah ide untuk mengolahnya menjadi masakan dan dimakan bersama-sama.

“Gulai bukek ini juga merupakan kuliner wajib ada pada saat upacara adat, keagamaan dan resepsi pernikahan, tidak lengkap prosesi tersebut jika tidak dihidangkan gulai bukek,” ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com Minggu (11/8/2019).

Dijelaskannya pembuatan gulai bukek dilakukan setelah sapi dipotong, sebagian dagingnya diambil dan dimasak secara bergotong royong. Dalam pembuatannya masyarakat langsung berbagi tugas, ibu-ibu bekerja meracik bumbu, sementara itu remaja dan laki-laki dewasa bertugas memotong daging, mencari kayu bakar, menyiapkan tempat dan lokasi memasak serta bergantian mengaduk gulai di tungku hingga matang.

“biasanya usai Zuhur gulai bukek sudah bisa dihidangkan dan masyarakat juga mengundang niniak mamak, alim ulama serta pemerintah nagari dan kecamatan untuk ikut makan bersama,“ lanjutnya.

Menurut Aswir, banyak nilai yang terkandung dalam tradisi menyantap gulai bukek, proses pembuatan mengandung nilai gotong royong, antar sesama masyarakat selain itu tradisi makan bersama  bisa mempererat silaturahmi, antara perantau dan masyarakat di kampung halaman.

“Disini para perantau bisa melihat langsung anak kemenakan mereka yang sudah beranjak dewasa, bahkan tidak mungkin bisa menjadi moment pencari jodoh bagi muda mudi di kampung dan dirantau,“ ungkapnya.

(han/don)

Berita Terkait

Baca Juga