DAZMA, Mimpi Puluhan Tahun Masyarakat Manggilang yang Terpaut di Pinggir Hutan

DAZMA Mimpi Puluhan Tahun Masyarakat Manggilang yang Terpaut di Pinggir Hutan Ketua Yayasan DAZMA, Muhammad Zikri (Foto: Husni Afriadi)

Covesia.com - Lebih kurang tiga kilometer jalan rebat beton yang tak mulus harus di lewati belasan anak-anak Nagari Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Tak hanya itu tanjakan, dan sepinya pemukiman warga senantiasa menemani generasi penerus ini demi menimba ilmu agama.

Pesantren Daruz Zikri Manggilang dengan singkatan DAZMA menjadi destinasi para pelajar ini untuk  menimba ilmu. Dengan bangunan kayu seadanya yang hanya berukuran 4x4 meter, ber lantai semen kasar para pelajar atau santri tetap khidmat dalam mengikuti setiap materi yang disajikan oleh guru swadaya yang   juga merupakan warga setempat.

Jauh dari kata layak, tempat menimba ilmu yang di bangun dengan segala keterbatasan ini tetap menaruh asa bagi berbagai lapisan generasi di sana. Antusiasme masyarakat, sambuatan hangat para calon santri, ditambah dengan mimpi warga yang telah terkubur beberapa dekade lamanya menjadi pemicu Muhammad  Zikri, Ustad Herman, dan kawan-kawan untuk terus mewujudkan misi mulia yang sangat di mimpikan itu.

Meski diakui tak mudah mengingat sangat terbatasnya sumber daya yang ada. Namun imipian itu terus di pupuk dalam sanubari Zikri dan kawan-kawan agar terus berjuang dan bergerak sebagai sumbangsih untuk membangun peradapan yang baik di masa depan.

"Masyarakat disini telah lama menginginkan adanya  pesantren disini. Setidaknya dari cerita-cerita para pemuka masyarakat impian untuk mendirikan pesantren disini terus dihembuskan. Namun belum pernah terealisasi, dan selama ini baru sekedar wacana," tutur Pembina Yayasan DAZMA, Muhammad Zikri kepada covesia.com, kemarin.

Kembali diutarakan Zikri, mimpi masyarakat melalui para inisiator untuk merealisasikan cita-cita ini tidaklah mudah kalau tidak dikatakan sulit. Keterbatasan sumber daya khusunya pendanaan menjadi musuh utama dalam setiap perencanaan yang dilakukan. Tentu hal itu sangat beralasan, di era materaliatistis dan individualis yang mendera zaman saat ini apapun yang dilakukan membutuhkan pendanaan yang cukup, apalagi membangun sebuah tempat pendidikan yang layak. Tempat menempa para generasi muda yang kuat secara moril, sprituil, dan mental dalam mengarungi kerasnya persaingan zaman di masa yang akan datang.

"Untuk mengharapkan bantuan donasi dari masyarakat sekitar saat ini bisa dikatakan tidaklah mungkin. Pasalnya penghasilan utama masyarakat disini bertumpu pada kebun gambir, dan saat ini harga komoditi utama itu anjlok sekali. Sementara masyarakat disini harus memenuhi kebutuhan hidup hari-harinya dengan semua serba di beli. Hampir tak ada bahan kebutuhan yang bisa di hasilkan dari tanah disini," ucap Zikri mengisahkan.

"Kehidupan masyarakat disini saat ini sangat sulit. Jadi, kami lakukan sekuat tenaga dan kemampuan yang kami punya," ujar Zikri optimis.

Dari berbagai problematika yang mendera, Zikri dan kawan-kawan mengaku sempat putus asa untuk melanjutkan mimpi dan impian yang telah membulat sejak beberapa tahun belakangan ini. Namun semangat para santri untuk terus menimba ilmu dalam pondok yang didirikan di pinggiran hutan di wilayah terujung Sumatera Barat, ditambah dengan banyaknya calon santri yang ingin mendaftar membuat semangat para inisiator ini kembali hidup.

"Awal-awalnya sempat putus asa, kerap kali saya menangis sendiri di pinggiran hutan ini hingga menjelang subuh usai merambah semak belukar untuk lokasi didirikannya pesantren. Namun, saat ini saya kembali semangat untuk mewujudkannya sampai titik darah penghabisan," kenang Zikri yang juga telah menghibahkan tanah dari warisan keluarganya untuk dijadikan pesantren.

Hal senada juga diamini oleh Ustadz Herman, guru honorer yang telah mendedikasikan ilmunya di beberapa sekolah menengah di Kabupaten Lima Puluh Kota ini. Ia ikut berjuang untuk menyumbangkan segala daya upaya demi berlanjutnya pendidkan dan pembangunan pesantren DAZMA. Berbekal ilmu agama yang dimilikinya ditambah dengan sejumlah sisa-sisa materi hasil tabungan yang dirinya simpan selama ini ikut di donasikan demi keberlanjutan mimpi terindah masyarakat Manggilang yang dulunya terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi bahkan terdengar sampai seantaro Sumatera khusunya bagian utara.

"Dulu, orang mengenal Manggilang sebagai tempat terjadinya aksi-aksi kriminalitas khusunya kriminal jalanan. Banyak geng-geng kriminal yang tersohor yang lahir di wilayah ini, seperti The Bandit, Warriors dan lain sebagainya. Namun kini Alhamdulillah semua itu telah berlalu seiring gencarnya kegiatan syiar Islam yang kami lakukan beberapa tahun belakangan ini. Dan kedepan kami ingin menciptakan image positif dari wilayah kami ini. Kami ingin menjadikan Manggilang sebagai pusat Syiar Islam hingga ke belahan wilayah Sumatera Barat lainnya," ucap Ustadz Herman kepada covesia.

Kedepan, ucap Ustadz Herman, Pesantren Dazma tidak hanya akan dijadikan sebagai pencetak generasi muda yang paham akan agama, bermental kuat yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Namun juga sebagai wadah penggerak ekonomi masyarakat khusnya di bidang pertanian dan perkebunan.

"Hampir semua masyarakat disini tak mampu mengolah tanah untuk berkebun, padahal lahan untuk digarap disini luas. Dari generasi ke generasi masyarakat tak mengenal kebun selain gambir. Di pesantren ini, kedepan juga akan kami jadikan sebagai tempat bagi masyarakat untuk belajar untuk mengolah tanah, belajar berkebun selain gambir. Dan hal itu telah kami mulai saat ini," terang Ustadz Herman yang diamini oleh Zikri menambahkan.

Hari esok, Zikri dan kawan-kawan berharap banyak tangan-tangan yang akan menjadi jembatan demi mewujudkan mimpi masyarakat yang telah terkubur selama puluhan tahun. Dirinya menyadari membangun sebuah peradapan mustahil dapat dilakukan oleh satu, dua orang, namun butuh banyak pihak agar kehidupan generasi mendatang jauh lebih baik dan bermartabat.

(adi)

Berita Terkait

Baca Juga