Tim Gabungan Ringkus Tersangka Penjual Tulang Harimau Sumatera di Pasaman Barat

Tim Gabungan Ringkus Tersangka Penjual Tulang Harimau Sumatera di Pasaman Barat Barang Bukti (BB) berupa satu buah tengkorak kepala dan satu set rangka tulang Harimau Sumatera yang dimankan tim gabungan, Sabtu (31/8/2019)(Foto: Dok.BKSDA))

Covesia.com - Tim Gabungan Kepolisian bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Pasaman mengamankan seorang tersangka penjual tulang satwa dilindungi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di Kampung Talao Ilia, Jorong Tabek Sirah, Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat sekitar pukul 19.00 WIB tadi, Sabtu (31/8/2019).

Kapolres Pasaman Barat, AKBP Iman Pribadi Santoso melalui Kasatreskrim, AKP Afrides Roema kepada Covesia.com, mengatakan tersangka diketahui bernama Doni Asman (40) warga Kampung Talao Ilia, Jorong Tabek Sirah, Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Pasbar.

"Dari tangan tersangka turut diamankan Barang Bukti (BB) berupa satu buah tengkorak kepala dan satu set rangka  tulang Harimau Sumatera. Dari ukuran rangkanya, satwa tersebut diduga masih berusia dua tahun," terang AKP Afrides Roema.

Kasatreskrim, AKP Afrides Roema mengatakan penangkapan terhadap tersangka berawal dari adanya informasi dari masyarakat bahwa ada oknum yang memiliki dan menyimpan bagian-bagian tubuh satwa dilindungi di daerah itu.

"Mendapati informasi tersebut kami tim gabungan dengan BKSDA langsung turun ke lokasi. Pelaku dipancing oleh petugas yang menyamar menjadi pembeli dan melakukan transaksi jual beli dengan pelaku. Sebelum kemudian diamankan petugas," katanya.

Sementara Kepala BKSDA Resor Pasaman, Ade Putra mengatakan bahwa tersangka mengaku seluruh BB tersebut merupakan hasil tangkapan dari menjerat satwa langka di kawasan hutan lindung Talamau, Pasbar.

"Tersangka sudah diamankan di Polres Pasbar untuk proses hukum lebih lanjut. Petugas juga masih melakukan pendalaman dalam kasus ini apakah masih ada tersangka lain yang terlibat," kata Ade Putra.

Tersangka kata dia, melanggar Pasal 21 ayat 2 huruf d junto pasal 40 ayat 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Tersangka terancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp100 Juta," tutupnya.

(eri/don)

Berita Terkait

Baca Juga