BKSDA: Harimau Sumatera Diduga Ikut Terbakar Saat Karhutla

BKSDA Harimau Sumatera Diduga Ikut Terbakar Saat Karhutla ilustrasi

Covesia.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan menduga habitat Harimau Sumatera ikut terbakar saat kebakaran lahan terjadi di Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin.

Ketua Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan, Kamis (12/9/2019), mengatakan pihaknya menerima laporan jika tim pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melihat Harimau Sumatera berada di dekat kawasan konservasi.

"Sekitar empat hari lalu kami dapat laporan itu, saat ini kami sudah turunkan tim untuk mengeceknya," ujar Genman.

Ia menduga harimau yang terlihat tim pemadam tersebut sedang menghindari lokasi kebakaran dengan mencari lokasi aman, memang menurut masyarakat harimau kerap terlihat di sana sehingga dimungkinkan wilayah tersebut merupakan habitatnya.

Selain habitat Harimau Sumatera, habitat satwa liar lain di wilayah konservasi juga berada di sekitar lahan yang terimbas karhutla, setidaknya ia mencatat sebagian besar hamparan konservasi BKSDA Sumsel teridentifikasi memiliki titik panas.

"Terpantau titik panas (hotspot) ada di Suaka Margasatwa (SM) Gunung Raya, SM Dangku, SM Bentayan, SM Isau-Isau, SM Humai Basemah dan SM Padang Sugihan," tambahnya.

Dari delapan hamparan konservasi yang dikelola BKSDA Sumsel, hanya TWA Punti Kayu Palembang tidak terdeteksi titik panas, sebaliknya SM Padang Sugihan di Kabupaten OKI menjadi wilayah konservasi dengan titik panas terbanyak.

Hal itu dikarenakan 60 persen SM Padang Sugihan merupakan lahan gambut yang rentan terbakar, namun titik api cenderung muncul di pinggiran wilayah konservasi sehingga belum mengganggu habitat Gajah Sumatera.

"Habitat gajah ada di tengah, jadi masih aman karena sampai saat ini kami belum menerima laporan konflik antara gajah dan manusia," jelas Genman.

Meskipun ada titik panas, kata dia, jumlahnya relatif kecil dan masih bisa dipadamkan dalam waktu cepat sebab BKSDA Sumsel sudah mendirikan posko reaksi cepat di wilayah konservasi.

"Posko itu dijaga 1 X 24 jam selama musim kemarau, jika ada kebakaran maka langsung dipadamkan saat itu juga," kata Genman.

(Antara)

Berita Terkait

Baca Juga