Kabut Asap Kembali Selimuti Luak 50, Udara Mulai Tak Sehat

Kabut Asap Kembali Selimuti Luak 50 Udara Mulai Tak Sehat Tampak kabut asap di kawasan Luak 50 ((Foto: covesia/ Angga)

Covesia.com - Ancaman kabut asap yang mulai menghilang dari Luak 50 (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota - red) sejak dua minggu terakhir, saat ini mulai datang lagi. Bahkan pantauan satelit GAW Koto Tabang, udara di Luak 50 di kategorikan mulai tidak sehat kembali.

Pantauan Covesia.com di Pusat Kota Payakumbuh, Koto Nan Ampek, jarak pandang mulai terbatas. Termasuk di wilayah Ibukota Kabupaten Limapuluh Kota, Sarilamak yang terlihat kabut asap juga mulai menebal. Kondisi ini sudah berlangsung selama dua hari belakangan dan masyarakat mulai membatasi aktivitas di luar rumah.

Hal tersebut juga dibenarkan Kalaksa BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, Jhoni Amir yang menyebutkan kualitas udara sejak Senin, 14 Oktober 2019 sudah mulai tidak sehat. Namun, intensitas kadar udara cenderung naik turun.

“Sejak kemarin, Status udara di Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh sudah dalam status sedang atau tidak sehat. Namun, kualitas udara cenderung naik turun. Yang terparah pada siang hari. Baik kemarin maupun hari ini. sedangkan malam dan pagi kabut sedikit menipis, namun tetap dalam kategori tida sehat,” jelas Jhoni Amir kepada Covesia.com, Selasa (15/10/2019).

Disebutkan Jhoni Amir, kadar karbon monoksida dalam kabut asap kali ini berada pada 692  ppb, karbon dioksida pada 464 ppm dan konsentrasi metana pada angka 1979 ppb. Menurunnya kualitas udara ini diperkirakan akibat asap kiriman dari arah selatan dan timur.

“Geografis di Limapuluh Kota ini khan berbukit-bukit. Jadi jika sudah ada asap tiba ke sini, maka akan berputar-putar di sini saja. Bisa pergi asap ini jikalau ada hujan dan angin dengan intensitas tinggi. Jika hujan dan angin masih sedang, tetap akan ada asap juga. Padahal tiga hari yang lalu, beberapa daerah di Limapuluh Kota di guyur hujan intensitas sedang,” sebutnya.

Dari pantauan BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, lokasi yang berdampak langsung kabut asap ini adalah daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau yaitu Kecamatan Kapur IX dan Pangkalan Koto Baru.

“Dengan kembali datangnya kabut asap ini, saya meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun jerami. Apalagi dengan musim panen padi saat ini. akan lebih baik, jerami di kubur saja terlebih dahulu, daripada di bakar,” ujarnya

Sebelumnya pada 12 September 2019 silam, Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota diselimuti kabut asap yang sangat pekat karena bencana kebakaran hutan di Provinsi Riau. Akibat kiriman kabut asap ini, jarak pandang sangat terbatas, yakni hanya berjarak 20 meter. Alhasil, dua kepala daerah setempat meliburkan para siswa dan bagi-bagi masker untuk mengantisipasi penyakit yang dikarenakan kabut asap ini. 

(agg)


Berita Terkait

Baca Juga