Petani di Pessel Keluhkan Pupuk Bersubsidi Langka

Petani di Pessel Keluhkan Pupuk Bersubsidi Langka Petani Padi di Pesisir Selatan.(Foto: Indra/ Covesia)

Covesia.com - Pupuk bersubsidi di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) mengalami kelangkaan semenjak dua minggu terakhir ini, petani di daerah setempat mengeluh.

Hal itu diungkapkan oleh salah seorang petani di Bayang, Ital (37) pada Covesia.com, dimana katanya, petani sangat sulit mendapatkan pupuk bersubsidi di daerah tersebut. 

Selain sulit didapatkan, harga masing-masing pupuk juga mengalami kenaikan dari harga biasanya. 

"Langkanya pupuk bersubsidi di tingkat pengencer sudah terjadi semenjak dua minggu lalu. Itupun, jika masih ada harganya naik dari harga sebelumnya,"sebutnya saat ditemui wartawan

Ia menerangkan, sebelum mengalami kelangkaan, biasanya petani di daerah tersebut membeli pupuk yang sering digunakan. Seperti, pupuk urea dengan harga HET Rp1.800 perkilogram, sekarang menjadi Rp3.000 perkilonya.

Sementara untuk pupuk jenis SP-36 Rp2.000 perkilo dan sekarang Rp4.000 perkilonya. Dan pupuk ZA Rp1.400 perkilo dan harga sekarang Rp3.000 perkilonya. 

Sedangkan untuk pupuk NPK Rp2.300 perkilo dan harga sekarang Rp4.500 perkilonya.

"Rata-rata harganya naik dua kali lipat, sedangkan hasil tani kami akhir-akhir ini mengalami penurunan. Karena cuaca tidak menentu,"terangnya

Menurutnya, jika kelangkaan pupuk ini bertahan lama, rata-rata petani setempat akan mengalami kerugian.

Sebab, akhir-akhir ini hasil panen petani baik tanaman padi, cabai, jagung dan kelapa sawit mengalami penurunan hasil panen yang disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu.

"Jika seprti ini terus kami akan rugi, hasil panen berkurang sementara harga pupuk naik dua kali lipat. Untuk itu kami berharap, pemerintah menyikapi persoalan tersebut,"harapnya

Sementara, salah seorang pengencer Rafli (34) mengatakan, bahwa stok pupuk bersubsidi yang didapatkannya dari distributor sudah habis. 

Ketika diminta penambahan, dirinya menyebutkan, stok masing-masing distributor sudah habis dan sedang menunggu kuotanya.

"Kata distributor, yanhlg biasa saya mengambil pupuk, stok digudangnya sudah habis. Dan kelangkaan ini sudah terjadi semenjak 10 hari ini,"singkatnya.

Terkait kelangkaan pupuk bersubsidi itu, Kasi Alsintan dan Pupuk, Dinas Tanaman Pangan dan Oltikultura, Fadrial membenarkan, bahwa di akhir tahun 2019, pupuk bersubsidi di daerah setempat mengalami kelangkaan. 

Hal demikian katanya, disebabkan, karena adanya pemangkasan kuota dari Provinsi, dan pengurangan tersebut jauh berkurang dari kuota yang diusulkannya.

"Dalam tahun ini pemangkasan dari provinsi, sudah terjadi dua kali. Dari usulan berbagai jenis pupuk yang kita usulkan. Rata-rata dipangkas satu ton perjenis pupuk subsidi,"katanya saat di temui Covesia.com Selasa (10/12/2019) di ruanganya di Painan.

Kontributor Pessel: Indra Yen.

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga