Polisi: Belum Ada Laporan Dugaan Pencabulan oleh Oknum Kebersihan di LPKS ABH Padang

Polisi Belum Ada Laporan Dugaan Pencabulan oleh Oknum Kebersihan di LPKS ABH Padang Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) Kasih Ibu, Kota Padang Provinsi Sumatera Barat . (Foto: Fakhruddin Arrazi)

Covesia.com - Pihak kepolisian belum menerima laporan terkait adanya oknum petugas kebersihan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) Kasih Ibu, Kota Padang, Sumbar, diduga mencabuli anak umur 4 tahun. 

"Belum ada kami dari Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Padang, menerima laporannya," kata Pejabat Sementara Kanit PPA Reskrim Polresta Padang, Aipda Edritofia saat dihubungi covesia.com pada Senin (17/2/2020).

Bahkan kata Aipda Edritofia, informasi tersebut juga baru sekarang diketahuinya.

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan informasi yang dihimpun Covesia.com bahwa aksi pedofilia tersebut dilakukan sekitar pertengahan Desember tahun lalu.

Namun hingga pertengahan Februari 2020, pelaku aksi tak terpuji itu tak kunjung mendapat sanksi. Bahkan, kasus tersebut diduga ditutup-tutupi oleh pejabat di Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang, agar tidak diketahui media dan penegak hukum.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Covesia.com, pelaku bekerja sebagai petugas kebersihan di LPKS ABH Kasih Ibu sejak sekitar empat tahun yang lalu dan dikenal dekat dan pandai mengambil hati anak-anak. HS sering membelikan es krim, cemilan, atau kue untuk mereka.

Di LPKS ABH Kasih Ibu, pelaku tinggal di sebuah kamar di salah satu asrama pria. LPKS memiliki satu asrama putri dan dua asrama putra. Masing-masing asrama terdiri atas enam buah kamar. Jarak asrama putri dengan asrama putra lebih kurang 30 meter dan dipisahkan oleh sebuah bangunan tempat di mana anak-anak biasa makan. 

Diceritakan, korban dicabuli pada suatu siang di pertengahan Desember 2019. Saat itu korban pergi ke kamar pelaku di asrama putra tersebut bersama salah seorang temannya. Mungkin, mereka ingin mendapatkan makanan ringan atau es krim dari HS. Teman korban berjenis kelamin perempuan yang dua tahun lebih tua darinya tidak ikut masuk ke dalam kamar pelaku. Hanya korban, anak usia 4 tahun yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, yang dikerjai HS.

Anak perempuan tersebut, kata sumber Covesia itu, sempat merasakan kesakitan di bagian kemaluannya selama beberapa hari. Meski demikian, korban baru mengungkap kejadian tersebut kepada petugas dan pimpinan Dinsos pada akhir Desember tahun lalu. Korban bersedia bercerita setelah dibujuk. Pada saat itu, korban terlihat ketakutan bertemu dengan HS.

Mulai awal Januari 2020 hingga saat ini, kasus tersebut sudah menjadi rahasia umum pegawai di sana. Mereka membicarakannya pada saat jam istirahat dan di sela-sela waktu luang bekerja. Pejabat di Dinsos Kota Padang pun juga mengetahui hal tersebut. Pertengahan Januari lalu, pelaku sempat dipanggil dan disidang oleh pimpinan Dinsos Kota Padang.

Informasi yang kami himpun, beberapa pegawai yang bersimpati membawa sang anak ke Puskesmas Air Dingin untuk divisum pada 20 Januari 2020. Perlu diketahui pula, Puskesmas Air Dingin masih berada dalam satu kelurahan dan kecamatan dengan LPKS ABH Kasih Ibu yakni Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah. 

Akan tetapi, setibanya di Puskesmas, dokter yang bertugas tidak bersedia untuk memvisum korban. Dokter itu bertanya kepada korban tentang kejadian malang yang menimpanya. Pertanyaan tersebut diajukan oleh dokter kepada korban dengan didampingi oleh para karyawan yang membawanya.

Berdasarkan rekaman audio pengakuan korban yang diperoleh Covesia, sang anak bercerita bahwa pelaku memasukkan ujung jari telunjuknya ke dalam kemaluannya sehingga membuat korban menangis kesakitan. Berdasarkan pengakuan korban pula, pelaku baru satu kali mengerjai korban. 

Sementara itu, sang dokter, kata sumber Covesia dari LKPS ABH Kasih Ibu, baru bersedia untuk memvisum korban apabila sudah ada laporan pengaduan ke pihak kepolisian. Selain itu, visum yang dilakukan harus didampingi pula oleh pihak kepolisian.

Mendapatkan penjelasan seperti itu, pada hari yang sama, para pegawai bersama korban dari Puskesmas Air Dingin lalu pergi ke kantor Dinsos Kota Padang, di Jalan Delima Kecamatan Padang Barat. Di Dinsos, mereka menemui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Sekretaris, dan Kepala Dinsos Kota Padang.

Berdasarkan penuturan sumber Covesia, Kepala Dinsos Kota Padang Afriadi berkata kepada para karyawan tersebut bahwa pelaku sudah dipanggil dan disidang terkait kasus yang dialami korban. Sebagaimana yang dijelaskan tadi, pelaku dipanggil pada pertengahan Januari 2020.

Hasil keputusannya: "Kasusnya dipertimbangkan. Kalau dalam tiga bulan ke depan, dia melakukannya lagi, baru dipecat. Kasihan kita. Memutuskan rezeki orang," ujar Kepala Dinsos kepada para karyawan, seperti ditirukan oleh sumber Covesia tersebut. Jadi, sudah jelas kan hingga saat itu pelaku belum ada tanda-tanda akan dipecat atau dilaporkan ke kepolisian oleh pejabat Dinsos. 

Tidak puas dengan hal tersebut, pada hari yang sama pula, para karyawan bersama korban lalu pergi menemui Sekda Pemerintah Kota (Pemkot) Padang di Balaikota. 

Pada saat itu, di hadapan para karyawan dan korban yang menemuinya, Sekda Pemkot Padang Amasrul menghubungi Afriadi via telepon. Amasrul menegur Afriadi dan bertanya tentang alasan pelaku masih saja berkerja di LKPS dan belum dipecat. Amasrul me-loud speaker-kan suara teleponnya sehingga apa yang dikatakan oleh Afriadi dari balik sambungan telepon bisa didengar jelas oleh para karyawan yang membawa korban.

"Ya, Pak. Ka ambo pecat lai," ujar sumber Covesia menirukan jawaban Alfiadi dari balik sambungan telepon. 

Sementara itu, saat dihubungi via telepon pagi ini, Sabtu (15/2/2020), Afriadi selaku Kepala Dinsos Kota Padang pun buka suara. Dia mengatakan bahwa pelaku sudah diselidiki oleh Dinsos Kota Padang. 

"Anak itu (pelaku) sudah diberhentikan dengan tidak hormat karena ada menjurus seperti itu (melecehkan dua orang anak)," ujarnya. 

Kata Afriadi, berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog dari Dinsos Kota Padang, pelaku mengalami kelainan kejiwaan.

Kemudian kata Afriadi, pada Januari lalu, sempat ada tes urin dari Dinas Kesehatan Kota Padang. "Berdasarkan hasil tes urin, ada mengarah ke sana (pelaku positif narkoba)," ujarnya. 

Saat ditanyakan apakah kasus ini akan dilaporkan ke kepolisian, Afriadi memberikan jawaban yang mengawang-awang. "Kalau udah dipecat, itu tergantung dia." Menurut Afriadi, kalau sudah dipecat berarti sudah tidak tanggung jawab Dinsos Kota Padang lagi. Dinsos Kota Padang akan menyerahkan pelaku kepada keluarganya untuk dibina. 

(per/nod)

Berita Terkait

Baca Juga