Heboh Soal ''Agama Muslim'' di Solok, Disebut Sudah Vakum Sejak April 2020

Heboh Soal Agama Muslim di Solok Disebut Sudah Vakum Sejak April 2020 Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Kemunculan "agama baru" di Nagari Sumani, Kecamatan Koto X Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, membikin gaduh warga sekitar. Namun, wali nagari (kepala desa) setempat meminta masyarakat tidak perlu resah. 

Wali Nagari Sumani Masri Bakar menyatakan, aktivitas kelompok kepercayaan baru itu sudah berhenti sejak April 2020.

"Memang ada aktivitas 'Agama Muslim' ini di Sumani. Tapi sudah berhenti sejak kami layangkan surat peringatan kepada salah seorang pengikut yang berdomisili di Sumani pada April 2020 lalu," kata Masri Bakar kepada Covesia.com, Jumat (24/7/2020) melalui sambungan telepon. 

Baca juga: Di Solok Muncul ''Agama Baru,'' Tak Percaya Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW

Dia mengatakan, ketika muncul aktivitas kelompok Agama Muslim itu, ada keresahan di tengah masyarakat, khususnya kaum muda setempat. 

"Peristiwa ini sempat dimediasi oleh Polsek Singkarak dan saya sendiri sebagai wali nagari. Keputusannya, seluruh aktivitas kelompok Agama Muslim di Sumani dihentikan dan pengikutnya menyetujui hal tersebut," kata Masri.

Diterangkan Masri, pengikut agama Muslim berkumpul di salah satu rumah MS, warga Sumani setiap hari Sabtu. Di rumah itu dilaksanakan ibadah dan pengajian. 

Diperkirakan setiap hari Sabtu, berkumpul sekitar 20 hingga 30 pengikut. 

"Setiap Sabtu mereka berkumpul sekitar 20 sampai 30 orang. Rata-rata mereka berasal dari luar Sumani dan didatangkan guru dari Kota Padang. Berkumpulnya di rumah MS," katanya.

Masri juga mengatakan dari pantauan pihak nagari, pengikut Agama Muslim di Sumani hanya MS. Kemudian berkembang ke Nagari Koto Sani karena istri MS berasal dari Koto Sani.

"Yang terpantau oleh kami. Hanya MS yang jadi pengikut Agama Muslim ini. Tapi di nagari lain kabarnya cukup berkembang seperti di Koto Sani. Karena istri MS berasal dari Koto Sani," katanya lagi.

Dengan telah berhentinya aktivitas pengikut Agama Muslim ini, Masri meminta tidak muncul stigma terhadap daerahnya. Menurutnya, stigma bisa berdampak kepada psikologis masyarakat setempat.

"Harapan saya, masyarakat jangan resah dan memberi stigma kepada nagari kami. Perkumpulan dan aktivitas mereka sudah dihentikan," pungkasnya. 

(agg/rdk) 

Berita Terkait

Baca Juga