Polisi Gelar Pra-Rekontruksi Pembunuhan Bocah Pengamen di Bukittinggi, 41 Adegan Diperagakan

Covesia.com – Penyidik Satreskrim Polres Bukittinggi menggelar Pra-Rekonstruksi kasus pembunuhan seorang bocah laki-laki (13 tahun) pengamen jalanan yang jasadnya ditemukan tanpa identitas di kawasan Pendakian Wowo, Kamis (17/12/2020).

Dalam pra-rekonstruksi ditemukan fakta, korban setelah tewas dianiaya kemudian jasadnya dibuang ke parkiran Lantai III terminal tipe C dekat Pendakian Wowo, lalu ditinggal kabur. 

Sebanyak 41 adegan diperagakan dalam pra-rekonstruksi tersebut.

Pra-rekontruksi menghadirkan rekan pelaku pembunuhan, yakni RS (17 tahun) untuk mengetahui peran dan keterlibatannya dalam membuang jasad korban.

Kasat Reskrim Polres Bukittinggi, AKP Chairul Amri Nasution mengatakan, pra-rekonstruksi dilaksanakan sesuai petunjuk dari jaksa. Itu setelah aparat berwajib berhasil menangkap pelaku berinisial RS yang merupakan rekan dari terduga pelaku pembunuhan, DS.

Penyidik katanya, menemukan fakta bahwa dalam kasus ini ada tiga pelaku yang terlibat. Selain DS sebagai pelaku utama penganiayaan, ada RS dan IP.

Dua rekannya ini terlibat membuang jasad korban. Salah satu rekannya yakni RS, berhasil ditangkap polisi pada 6 Desember lalu, sementara IP masih DPO.

Usai RS ditangkap, penyidik mengebut penyelesaian berkas perkaranya dan telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Bukittinggi. Penyerahan berkas RS diakui Chairul, didahulukan dikarenakan RS berstatus masih dibawah umur.

“Nah, atas petunjuk jaksa kita lakukan pra-rekontruksi terhadap RS untuk mengetahui perannya. Dalam pra rekonstruksi tergambarkan bahwa RS berperan membantu IP (DPO) dalam menyembunyikan dan mengangkut jasad korban ke TPR lantai 3 Pendakian Wowo, Pasar Bawah kota Bukittinggi,” ungkapnya. 

Atas perbuatannya, RS sendiri dijerat dengan pasal 80 ayat (1), (2), (3) jo 76c UU No. 35 Tahun 2004 tentang perubahan atas UU No. 23 tahun 2020 tentang perlindungan anak jo pasal 181 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara.

Diberitakan sebelumnya, sesosok mayat bocah laki-laki tanpa identitas ditemukan di kawasan Terminal Pasar Banto, Kota Bukittinggi, Jumat (6/11).

Jasad bocah malang itu didapati sudah terbujur kaku di parkiran Lantai III terminal tipe C dekat Pendakian Wowo, persisnya di depan pos Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Terminal.

Sebulan setelahnya, lewat hasil koordinasi Polres Bukittinggi dengan Polsek Kualah Hulu, Polres Labuhanbatu, Polda Sumatera Utara, identitas jasad berhasil diungkap.

Korban diketahui bernama Dwangkara Wirayuda, warga Aek Kanopan, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara. 

Korban merupakan seorang bocah pengamen jalanan berusia 13 tahun. Ia diduga tewas karena dianiaya.

Dugaan ini diperkuat oleh serangkaian hasil identifikasi Tim Inafis dan hasil autopsi yang mengindikasikan penyebab kematian korban karena adanya kekerasan benda tajam di bagian dada.

Dari hasil olah TKP, alat bukti dan keterangan sejumlah saksi terkuak bocah malang ini tewas dianiaya kawanan pemabuk.

Pelaku utamanya DS, 27 tahun, warga Tarok Dipo, Kota Bukittinggi. Pria ini pun lantas diciduk aparat pada Rabu (2/12).

Hasil pengembangan, empat hari kemudian polisi pun meringkus RS. Satu pelaku lain berinisial IP masih dalam pengejaran aparat hingga kini.

(deb)

0 Comments

Leave a Comment

16 + 10 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password