Miliki 42 Desa Pertanian Organik, Sumbar Alokasikan 10 APBD

Sumber foto: Humas

Covesia.com – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi mengatakan, Sumbar sudah memiliki 42 Desa Pertanian Organik. Pertanian Organik merupakan sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis, sehingga pertanian organik mampu menjaga kelestarian lingkungan.

42 Desa tersebut yakni komoditi Padi 20 Desa, Hortikultura 24 Desa dan Perkebunan 2 Desa dengan luasan bersertifikat 185.577 Ha (32 Kelompok Tani bersertifikat), yang belum bersertifikat 220 Ha (Padi), 87,15 Ha (Hortikultura) dan 32,19 Ha (Perkebunan / Kakao).

“Sektor Pertanian di Sumbar sudah mengalokasikan 10 persen APBD Sumbar untuk sektor pertanian harus berdampak kepada peningkatan pendapatan petani,” kata Buya Mahyeldi saat mengunjungi kelompok tani Bukit Gompong Sejahtera di Solok, Sabtu (13/3/2021).

Lebih lanjut Mahyeldi mengatakan bahwa pertanian organik sendiri tidak sulit dan tidak terlalu mahal. Budidaya pertanian organik ini dapat menggunakan bahan-bahan lokal sisa-sisa produksi pertanian yang dapat diolah menjadi sarana pupuk dan pestisida nabati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Pertanian Organik ini sangat identik dengan pertanian berkelanjutan, karena sistem pertanian organik ini bertujuan menyediakan produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan serta tidak merusak lingkungan.

“Makanya kaum milenial yang memiliki gaya hidup sehat harus beratribut aman dikonsumsi, halal, thoyyib dengan kandungan nutrisi tinggi dan ramah lingkungan,” imbuhnya.

Mahyeldi dalam kesempatan itu mengajak masyarakat untukengonsumsi pangan organik yang produksi kita yang dimulai dari kita, keluarga, tetangga dan masyarakat terutama ASN di lingkup Pemda Sumbar.

“Tentulah hal ini menjadi peluang bagi petani-petani organik Sumatera Barat untuk menjaga ketersedian produksi yang dibudidayakan secara organik,” harap Buya.

Pemerintah akan hadir memberikan dukungan anggaran, yang dipergunakan untuk pengembangan pertanian organik di Sumatera Barat sebanyak 10 persen dari APBD.

Melalui program kegiatan berupa study-study atau percobaan pada demplot-demplot petani. Meningkatkan sumberdaya petani yang memadai tentang sistem tegnologi pertanian organik untuk ditransfer kepada petani.

Selanjutnya, melakukan pendampingan dan pembinaan berkelanjutan oleh petugas dari tingkat provinsi, kabupaten, Kecamatan sampai ke Nagari.
Tak hanya itu, penyuluh pertanian sebagai pembina terdekat dengan lokasi kelompok tani harus dibekali dengan bidang ilmu pengetahuan pertanian organik.

Kemudian mengaktifkan kembali para petani pakar organik Sumatera Barat yang untuk mendampingi kelompok tani organik. Terakhir, perlu dukungan semua pihak baik pemerintah, masyarakat maupun pelaku petani organik untuk pengembangan pertanian organik di Sumatera Barat.

“Untuk memasarkan Hasil Pertanian Organik ini, saya telah memerintahkan seluruh SKPD dan ASN untuk membeli dan menggunakan produk hasil pertanian organik baik untuk keperluan dinas maupun keperluan sehari-hari semua ASN dapat menjalani pola hidup sehat sehingga berdampak pada peningkatan kinerja pada semua SKPD di Sumbar,” jelasnya.

“Diharapkan ke depan kelompok ini bisa menjadi model atau contoh bagi generasi muda lainnya untuk kembali mengolah lahan dalam berusaha tani dalam rangka mewujudkan pengembangan pertanian organik di Sumbar ini,” tutupnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password