Sopir Travel dan Nelayan Boat di Pessel Keluhkan BBM Pertalite Sering Kosong di Beberapa SPBU

Aktifitas di salah satu SPBU di Pesisir Selatan (Foto: Indra Yen)

Covesia.com – Sopir travel dan nelayan boat di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) keluhkan kelangkaan atau kekosongan BBM bersubsidi jenis pertalit di beberapa SPBU di daerah tersebut.

Menurut informasi yang diterima Covesia.com, dari seorang sopir travel jurusan Sutera-Padang, Ijup (26) mengatakan, BBM jenis pertalit sering kosong di beberapa SPBU yang ada di Pessel, sejak satu minggu lalu.

Sementara, jika pertalit sudah ada di SPBU, pasti tidak bertahan lama. Tidak sampai dua hari, paling lama cuman ada satu hari.

“Dari kemarin sore sampai hari ini pertalit tidak ada di SPBU, yang ada cuman pertamax dan solar. Informasinya, nanti sore baru ada. Kalau ada habisnya juga cepat,” sebutnya pada Covesia.com Jumat (26/3/2021).

Ia menambahkan, dengan kelangkaan pertalit yang terjadi saat ini. Ia selaku sopir travel mengaku sangat berpengaruh pada pendapatannya. Sebab, ia terpaksa harus membeli pertamax dengan selisih harga yang cukup tinggi.

“Sangat berpengaruh jika pertalit tidak ada. Kalau pakai pertamax uang yang dikeluarkan untuk minyak mobil tentu besar. Sedangkan, penumpang sejak pandemi ini tidak banyak, ditambah ongkos masih sama seperti hari biasa,” katanya.

Terkait kondisi ini, ia berharap pihak yang berkewenangan dengan segera mencarikan solusinya. Karena, apabila kondisi ini berlangsung lama, maka akan berpengaruh pada pendapatan atau sumber ekonomi masyarakat.

“Semoga cepat normal kembali. Karena, kondisi ini terjadi tidak di Pessel saja. Kota Padangpun juga begitu, sangat sulit mendapatkan pertalit,” harapnya.

Secara terpisah, salah seorang nelayan boat di Kecamatan Sutera Ijal (40), juga mengeluhkan hal yang sama. Para nelayan cukup sulit mendapatkan pertalit di SPBU terdekat.

“Pertalit lebih sering kosong di SPBU dari pada ada. Kalaupun ada, namun tidak bertahan lama,” ucapnya.

Kendati demikian, lanjutnya, ia sebagai nelayan kecil menggunakan boat meminta kondisi ini harus segera ditangani.

Sebab, setiap hari dirinya bersama ratusan nelayan lain membutuhkan bahan bakar jenis pertalit, untuk pergi melaut.

“Rata-rata kami membutuhkan pertalit 20-50 liter per hari untuk melaut. Kalau diganti ke pertamax biayanya cukup besar. Kamikan cuman nelayan kecil,” ujarnya.

Sementara itu, pegawai salah satu SPBU di Pessel Randi (30), mengungkapkan, kondisi ini disebabkan kurangnya stock yang diterima pihak SPBU dari sebelumnya.

“Biasanya, 2-3 unit mobil tengki stok SPBU. Kalau kini rata-rata cuman 1 tengki. Sedangkan kebutuhan masyarakat cukup banyak per harinya. Apalagi, untuk nelayan kecil,” katanya.

Sejauh ini tambahnya, untuk penyebab kurangnya stock yang diterima pihak SPBU dari pertamina, ia tidak mengetahui penyebab dan kendalanya.

“Selain kurang, sekarang mobil tengki pengirim BBM dari Pertamina juga sering terlambat sampainya,” singkatnya.

(ind/don)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password