Kembangkan Potensi Desa Wisata Mentawai Lewat Pelatihan Penyajian Makanan Khas dan Cideramata

Sumber: istimewa

Covesia.com – Pulau Mentawai sudah terkenal akan keindahan alam lautnya. Wisatawan domestik maupun luar negeri sudah mengakui keindahan laut “Bumi Sikerei” itu. Kapulauan Mentawai mempunyai 4 pulau besar yakni Pulau Sipora, Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Saat ini, pengembangan desa wisata menjadi fokus program pemerintah setempat. Desa-desa yang memiliki potensi wisata, dikembangkan agar memiliki nilai jual kepada wisatawan yang datang.

Desa Matotonan, Madobag dan Muntei, adalah 3 desa yang dikembangkan sebagai Desa Ekowisata di kawasan Desa Penyangga Taman Nasional Siberut, Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Tropical Forest Conservation Action (TFCA) sejak tahun 2019 bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta, melakukan pendampingan kepada 3 Desa tersebut. Banyak Potensi Wisata yang dapat diangkat dan dikemas menjadi Paket Ekoswisata.

Potensi wisata tersebut antara lain adalah wisata alam, wisata spiritual, wisata budaya (musik, tarian, permainan, adat istiadat), wisata kuliner tradisional dan wisata permainan tradisional. Untuk meningkatkan kemampuan serta menambah pengetahuan masyarakat di 3 desa tersebut, dilakukan pelatihan oleh tim pendamping pengembangan Desa Ekowisata.

Pelatihan bertemakan “Pengembangan Souvenir/Cinderamata Mentawai yang Berbasis Kearifan Lokal” yang dilaksanakan pada 12-15 Maret 2021.

Pelatihan menghadirkan dua narasumber dari Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta yakni Novita Widyastuti dan Ira Mayasari.

Kedua narasumber memberikan penguatan ketrampilan serta menambah pengetahuan terhadap pengembangan souvenir atau cinderamata serta pengembangan kreatifitas kuliner kudapan tradisional bagi para wisatawan yang nantinya akan datang mengunjungi tiga desa tersebut.

Ira Mayasari memberikan pelatihan tentang pengembangan kreatifitas kuliner kudapan tradisional dari bahan lokal yang menjadi makanan utama masyarakat Mentawai yakni sagu, pisang, singkong serta Keladi. Peserta pelatihan ini adalah ibu-ibu PKK dan para pemilik “homestay” sebanyak 20 orang.

Pelatihan bertujuan meningkatkan kemampuan serta kreatifitas kaum ibu agar pada saat menyajikan kudapan tradisional kepada para tamu dapat memberikan sajian yang menarik dan enak rasanya.
Pada hari berikutnya ibu-ibu melakukan praktik pengembangan pengolahan kudapan tradisional menjadi sajian istimewa dan hasilnya sangat menarik serta layak untuk disajikan kepada wisatawan.

Narasumber kedua yakni Novita Widyastuti memberikan pelatihan tentang pengembangan souvenir kerajinan berbasis kearifan lokal yang memiliki nilai budaya khas Mentawai. Dalam pelatihan tersebut dijelaskan bahwa souvenir atau cinderamata adalah bagian yang tak terpisahkan dalam pariwisata atau dalam sapta pesona terdapat pada bagian kenangan, karena souvenir atau cindramata adalah alat promosi yang potensial bagi setiap daerah tujuan wisata yang akan dibeli oleh Wisatawan.

Souvenir atau cinderamata harus dapat bercerita melalui bentuk, tulisan atau gambar kepada wisatawan, karena dengan souvenir itu mereka akan mengingat tempat serta budaya yang mereka pernah kunjungi. Souvenir atau cinderamata yang akan dikembangkan selain cinderamata yang sudah ada yakni miniatur alat-alat tradisional yang digunakan oleh masyarakat Mentawai yakni roiget (kandang ayam), opa (keranjang), pompong (sampan), peralatan memasak seperti; tutuduk, dulak piring, gigiok parutan.

Selanjutnya souvenir miniature tersebut akan dibuat dalam kemasan yang menarik sehingga memiliki nilai jual yang layak bagi para wisatawan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password