Pergantian Nama ”Spot Wisata” Puncak Paku Menjadi Puncak Jokowi Jadi Polemik di Pessel

Sumber: istimewa

Covesia.com – Salah satu titik wisata yang berada di kawasan wisata bahari Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, yakni “Puncak Paku” diwacanakan akan diganti dengan nama “Puncak Jokowi” oleh Pemda setempat. Wacana tersebut menuai polemik dari tokoh adat dan masyarakat setempat.

Wali Nagari Sai Nyalo, Marjam, membenarkan hampir sebagian besar warga dan ninik mamak setempat menolak perubahan nama tersebut.

“Memang benar pergantian nama Puncak Paku menjadi Puncak Jokowi dapat penolakan dari beberapa ninik mamak dan masyarakat setempat,” ungkapnya pada Covesia.com, Rabu (28/4/2021).

Penolakan itu, kata Marjam, kian terasa saat pihaknya berupaya melakukan sosialisasi terkait pembangunan pergantian nama Puncak Paku menjadi Puncak Jokowi yang ada di kawasan Mandeh kepada masyarakat setempat.

“Kebanyakan masyarakat kita menolak ketika kita sosialisasi dan berusaha menjelaskan. Karena, sebagai pemerintah nagari kita sangat mendukung setiap pembangunan positif yang ada di kawasan wisata kita, “ucapnya.

Karena mendapatkan penolakan, tambah Marjan, ia berharap pemerintah daerah berupaya menjelaskan dan kembali mensosialisasikan program tersebut.

Pihaknya sebagai pemerintah nagari, mendukung adanya pembangunan di kawasan wisata Mandeh. Pembangunan itu pada akhinya bisa tepat sasaran dan dinikmati oleh masyarakat di sekitar kawasan wisata Mandeh.

“Karena polemik dalam pembangunan terus ada, kita berharap ada sosialisasi yang jelas. Agar hal buruk nantinya tidak terjadi, seperti dulu pembangunan Puncak Paku pernah dirusak. Kan kita rugi jadinya, sudah dibangun dirusak lagi,” harap Marjam.

Seperti diketahui, penolakan juga disampaikan oleh salah seorang tokoh pemuda di Nagari Sai Nyalo, ketika dikonfirmasi Covesia.com. Ia mengatakan, menolak pergantian nama Puncak Paku tersebut dengan Puncak Jokowi.

“Kami berharap rencana Pak Bupati mengubah nama Puncak Paku menjadi Puncak Jokowi dibatalkan karena merusak tantanan sejarah yang telah ada. Kalau ingin bikin nama di tempat lain saja yang punya landasan sejarahnya,” kata Alessandro Satri.

Menurutnya, nama Puncak Paku tersebut merupakan sejarah yang telah dinamai oleh nenek moyang mereka sejak dulu. Di area ini banyak tumbuh pohon paku.

Kendati demikian, maka dinamailah oleh nenek moyang dulu Pantai Paku, dan puncak tertinggi dipantai itu dinamai Puncak Paku.

“Begitulah nama yang diwarisi oleh nenek moyang Nagari Sungai Nyalo Mudiak Aia sampai saat ini masih kami lestarikan dan kami banggakan. Begitu juga dengan nama-nama tempat lain di Sungai nyalo,” katanya.

Lanjutnya, untuk itu dirinya menolak dan meminta Bupati tidak mengusik nama tersebut, meski alasan Bupati mengatakan itu merupakan hadiah atas jasa dan kedatangan Presiden RI Jokowi pada 2014 lalu.

“Semua ini memang tak bisa dipungkiri, terbukanya kawasan wisata Mandeh memang karena peran besar dari Presiden Jokowi beserta jajarannya serta para pegiat pariwisata pada tahun 2015,” katanya.

Sementara itu, Ketua KAN Ampang Pulai, Dt Rajo Nan Sati mengatakan, dirinya belum mau berkomentar banyak terkait isu pergantian nama Puncak Paku menjadi Puncak Jokowi itu.

Sebab, sambungnya, pihaknya bersama pemangku adat lain, tokoh masyarakat, tokoh pemuda belum mengetahui pasti apakah benar mau diganti atau tidak oleh pemerintah daerah.

“Itu baru isu dan kita belum tau apakah benar mau dibangun atau tidak,” tegasnya.

Kalau seandainya memang dibangun, ucap Dt Rajo Nan Sati, seharusnya sangat banyak pihak dilibatkan dalam pergantian sebuah nama yang ada di satu nagari, dan arus ada kesempatannya.

“Harus didudukkan dulu atau dirapatkan. Karena ini perhentian sebuah nama yang ada di nagari. Perlu kesepakatan banyak pihak. Apalagi itu menyangkut ada nilai sejarahnya,” tutupnya.

Terpisah Bupati Pessel, Rusma Yul Anwar menyampaikan klarifikasi, mengatakan usulan pemberian nama Puncak Jokowi tersebut berdasarkan pada sejarah kunjungan Presiden Republik Indonesia itu ke Pesisir Selatan.

“Tidak ada yang membantah, Jokowi adalah Presiden RI yang pertama ke Puncak Mandeh, dan ini adalah sejarah bagi kita rakyat Pesisir Selatan,” kata Bupati.

Tambahnya, atas perhatian beliau jalan di kawasan Mandeh dapat diakses seperti yang dirasakan hingga saat ini.

“Terlepas dari permasalahan pilihan politik pada waktu Pilpres dulu, ini adalah bentuk wujud apresiasi kita kepada Presiden yang telah membangun Kawasan Mandeh,” tambahnya.

Sejak dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati, pihaknya telah memiliki komitmen dan integritas untuk membangun Pesisir Selatan.

“Kita melihat kondisi APBD tidak cukup membangun Pesisir Selatan, sedangkan anggaran pembangunan fisik (APBN) banyak berasal dari Pusat,” jelas Rusma Yul Anwar.

(idy)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password