Jelang Idul Fitri, BPOM Payakumbuh Temukan Banyak Pangan Tak Layak Edar di Empat Kota dan Kabupaten

Kepala BPOM Payakumbuh, Iswadi

Covesia.com – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Payakumbuh memperingatkan masyarakat untuk lebih jeli dan hati-hati untuk membeli makanan dalam mempersiapkan hari raya Idul Fitri 1442 H. Baik makanan siap saji maupun makanan olahan. Hasil sidak di empat Kota dan Kabupaten Wilayah BPOM Payakumbuh ditemukan 52,94 persen sarana yang tidak memenuhi ketentutan (TMK). 

Dari hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan di Kota Payakumbuh, Bukittinggi, Kabupaten Limapuluh Kota dan Agam, BPOM Payakumbuh dari tanggal 5 April hingga 21 Mei 2021, banyak makanan yang tidak memiliki izin edar, kedaluarsa dan rusak. Dari 34 sarana yang diperiksa, ada 18 sarana yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK). Sarana tersebut terdiri dari 2 item pangan Tanpa Izin Edar, 24 item kedaluarsa dan 25 item rusak kemasan.

Bahkan di Kabupaten Agam, ditemukan tiga lokasi pasar pabukoan yang menggunakan bahan berbahaya Rhodamin B sebagai pewarna Takjil pada kolak delima. 

“Di Kabupaten Agam, ada tiga titik pasar Pabukoan yang kami temukan takjil pada kolak delima mengandung Rhodamin B. Setelah ditelusuri ternyata pemasoknya adalah orang yang sama,” sebut kepala BPOM Payakumbuh, Iswadi kepada Covesia.com, Senin (10/5/2021). 

Atas penelusuran tersebut, BPOM bersama instansi terkait mendatangi Si pemasok. Ternyata pembuat takjil tidak mengetahui pewarna yang dibelinya di pasar mengandung Rodhamin B.

“Rata-rata kasus takjil dan makanan yang mengandung zat berbahaya. Mereka tidak mengetahui bahan baku makanan tersebut mengandung zat berbahaya. Temuan-temuan seperti ini yang selalu ada setiap tahun, rata-rata karena pembuat makanan memiliki keterbatasan pengetahuan,” katanya.

Disebutkannya, cukup sulit untuk meminimalisir atau menghentikan praktek mencampurkan zat berbahaya kepada makanan. Apalagi saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Hal ini dikarenakan zat berbahaya yang biasa digunakan seperti Bhorax, Rodhamin B, Formalin dan Metamin tetap dijual bebas. 

“Empat zat berbahaya yang biasa dicampur dalam makanan tersebut tidak dilarang untuk dijual. Tapi jika dicampurkan ke makanan, baru dilarang. Jadi ini yang menjadi kesulitan. Persoalan ini bisa diminimalisir jika ada kesadaran dan pengetahuan bagi orang yang memproduksi makanan,” ucapnya lagi.

Karena itu, Iswadi meminta masyarakat untuk lebih jeli dan hati-hati membeli makanan baik di pasar, mini market dan di toko. Caranya, bisa memperhatikan kemasan, label, komposisi, izin edar dan tanggal kadaluarsa makanan.

(agg)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password