- Advertisement -
HomeArchipellagoEmpat Orang Pelaku Diduga Pengrusak Hutan di Kawasan TNKS Ditangkap

Empat Orang Pelaku Diduga Pengrusak Hutan di Kawasan TNKS Ditangkap

Covesia.com – Empat orang warga Kabupaten Solok Selatan (Solsel) ditangkap tim gabungan Balai Besar TNKS, Direktorat Jenderal (Ditjen) Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Wilayah Sumatra, dan Polda Sumatra Barat (Sumbar), yang diduga melakukan perusakan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Penangkapan warga Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir, Solsel tersebut berlangsung selama dua hari, yakni Rabu-Kamis (2-3/6/2021) lalu.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sumbar, Kombes Pol Joko Sadono mengatakan, baru-baru ini pihaknya menangkap empat orang pelaku perambahan kawasan hutan TNKS di Jorong Pancuran Tujuah (Desa Wonorejo), Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solsel.

Empat pelaku itu berinisial SU, RN, ROH, dan seorang koordinator berinisial ER.

“Modus operandi membuka lahan, bercocok tanam di sana di wilayah TNKS. Peralatan bermacam-macam yang digunakan untuk melakukan kegiatan. Mereka bercocok tanam dan menjalankan kegiatan secara perorangan, tidak untuk perusahaan, mereka penduduk asli di sana,” kata Joko dalam keterangan persnya, Selasa  (15/6/2021).

Saat ini, para pelaku sudah ditahan dalam kasus pengrusakan hutan dilindungi tersebut. Sejumlah barang bukti (BB) yang disita petugas, di antaranya, tiga hand spayer, tiga chain saw kecil, lima bilah parang. Kemudian, lima bibit tanaman berbagai jenis seperti kopi, alpukat dan jeruk serta satu genset.

“Atas perbuatan empat pelaku menggunakan hutan secara tidak sah ini, mereka akan disangkakan dengan pasal 36 angka 19 Ayat (2) Jo Pasal 36 angka 17 Ayat (2) huruf a Undang-undang RI no 11 Tahun 2020 Tentang  Cipta Kerja Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara,” kata dia.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Wilayah II Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Sumatra Barat (Sumbar), Ahmad Darwis, sebanyak 20 ribu hektare lahan di bawah pimpinannya telah dirambah secara ilegal oleh masyarakat.

Dia mengatakan, aksi perambahan yang terjadi di TNKS Wilayah II Sumbar sudah berjalan dua tahun. Wilayah sebarannya, kata Darwis pun merata, seperti di Kabupaten Solok Selatan (Solsel) dan Pesisir Selatan (Pessel).

Pihaknya tidak serta-merta langsung menindak pelaku perambahan hutan lindung. Dia mengeklaim sudah mengingatkan untuk meninggalkan tempat tersebut karena sudah masuk zona rimba yang artinya level teratas dari hutan dan harus dilindungi.

“Kami sudah melakukan pendekatan persuasif, ketika kami melihat beberapa bulan ini, namun tidak merespons. Jangankan meninggalkan, yang ada malah menambah luas areal bukaan tersebut. Pengakuan pelaku, bisa membuka 75 hektare, namun dari citra satelit kami, sudah mencapai 300 hektare,” katanya.

Di wilayah kerja TNKS II Sumbar, luas areal hutan yang sudah dirambah sudah mencapai 20 ribu hektare. Lahan itu sudah dirambah secara sporadis secara orang per orang.

“Kendala kami luas kawasan TNKS yang di Wilayah II Sumbar ini, petugas kami hanya berjumlah 30 orang dengan luas wilayah pengawasan mencapai 400 ribu hektare, saya rasa Sumber Daya Manusia (SDM) kami sangat kurang untuk (pengawasan) itu. Namun, kami dibantu oleh rekan-rekan dari Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar,”  pungkasnya.

(don)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya