BerandaArchipellagoIngin Melahirkan Generasi Islami, Pemuda di Pesisir Selatan Dirikan Pondok Pesantren Gratis

Ingin Melahirkan Generasi Islami, Pemuda di Pesisir Selatan Dirikan Pondok Pesantren Gratis

- Advertisement -

Covesia.com – Kita diminta untuk menuntut ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat. Namun amat banyak di negeri ini, anak-anak yang putus sekolah karena terkendala biaya. Pun di antara mereka memilih bekerja membanting tulang untuk membantu perekonomian orang tua.

Tak sedikit dijumpai anak-anak usia sekolah sudah bekerja layaknya orang dewasa. Banyak yang terkendala biaya untuk mendapatkan pendidikan. Apalagi di desa, masih banyak orang tua berfpikir bagaimana untuk menyambung hidup esok hari, bukan untuk hidup yang lebih layak.

Melihat kondisi seperti itu membuat tergugah Heru Kisnanto, pemuda 29 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang untuk membuka pesantren dan tidak dibebankan biaya pendidikan kepada para siswa, alias gratis.

Dibantu 12 orang temannya, ia bahu membahu meringankan beban orangtua anak-anak di kampungnya untuk mendirikan sebuah pondok pesantren yang diberi nama Ashabul Kahfi.

Nama tersebut terinspirasi dari cerita 7 orang yang mengasingkan diri di gua sebagaimana dikisahkan dalam Al quran. “Kita mengambil spirit 7 Ashabul Kahfi yang melakukan perubahan di tengah zaman yang semakin hari semakin berkurang orang yang paham ilmu agama,” ungkapnya saat dihubungi Covesia.com, Kamis (29/7/2021).

Pesantren dipilih sebagai wadah untuk membuat anak-anak dapat menjadi penerus ajaran agama dan melahirkan generasi islami, sebab saat ini para imam dan khatib di Surantih, Kecamamatan Sutera, Pesisir Selatan itu sudah banyak yang mencapai usia renta.

“Anak-anak ini adalah penerus bangsa, kalau bukan mereka siapa lagi yang menyiarkan agama Allah di desa ini,” ujarnya.

Heru mengatakan, selama ini untuk membangun Pesantren Ashabul Kahfi, ia dibantu oleh donatur dan masyarakat setempat. Dengan bantuan itulah akhirnya berdirilah pesantren Ashabul Kahfi yang sangat sederhana pada Juni 2018.

“Kalau orang bilang bangunan pesantren ini namanya semi permanen, sebab dindingnya hanya memakai triplek dan atap nya seng. Saat ini baru ada 3 kelas dengan 21 siswa,” jelasnya.

Heru yakin, kelak apa yang dilakukan hari ini akan kembali dipertanyakan. Baik itu perbuatan baik, atau pun perbuatan yang tidak terpuji.

Bagi Heru, hidup tak melulu untuk memperkaya diri, mencari kehidupan yang mewah tapi juga bagaimana bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan berbuat untuk kehidupan setelah dunia ini.

Ada banyak tanggung jawab yang mesti kita selesaikan. Bagaimana mendidik penerus bangsa agar paham akan ajaran agama, agar dekat dengan Tuhan dan kembali sadar untuk apa manusia diciptakan kalau bukan karena Tuhannya.

Heru yang juga merupakan alumni dari sebuah pesantren di daerah Agam ini mengatakan untuk pembelajaran di pesantren mengadopsi pembelajaran saat dirinya menjadi santri dulu.

“Kami di sini mengajarkan kitab kuning, pelajaran umum dan juga tahfiz. Alhamdulillah sampai saat ini 21 orang santri belajar tanpa dipungut pembayaran SPP sama sekali,” terangnya.

Sebenarnya pesantren sangat membutuhkan dana untuk keberlangsungan pesantren. Namun Heru tak mau memungut dari orangtua santri karena paham betul kondisi di desanya. Mereka rata-rata dari keluarga yang kurang mampu.

Dari 21 santri tersebut semuanya berasal dari Kecamatan Sutera. Akan tetapi, karena jarak antar nagari ada yang berjauhan tentu perlu ada asrama.

Namun saat ini pembangunan asrama masih terbengkalai karena menunggu bantuan dari donatur.

“Kita sudah mulai membangun asrama, namun masih terbengkalai karena pembiayaan tadi. Bahkan untuk lokal pesantren hanya memiliki 3 lokal semi permanen,” jelasnya.

Hampir setiap hari Heru tak lelah membagikan pamflet media sosial. Mencari donatur dan dermawan yang bermurah hati untuk berbagi sedikit rezeki untuk pembangunan pesantren.

Selain itu, kegigihan Heru dan 12 staf pengajar lainnya patut diacungi jempol. Mereka berbuat tanpa diberi upah.

“Semoga tahun ini bisa kita carikan honor untuk guru yang mengabdi. Mereka luar biasa mau berbagi untuk santri kita,” imbuh Heru.

Saat ini pesantren setidaknya membutuhkan dana senilai Rp70 juta untuk penambahan kelas dan melanjutkan pembangunan asrama.

Pesantren Ashabul Kahfi ini setara dengan SMP dan SMA. Sejak didirikan hingga saat ini santri kelas satu berjumlah 6 orang, kelas dua 6 orang, kelas tiga 3 orang dan kelas empat 6 orang.

Sementara itu, lokasi pesantren Ashabul Kahfi berada lebih kurang 2 KM dari jalan raya. Tepatnya di Tabek Tinggi Rawang, Nagari Rawang Gunung Malelo, Surantih, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan.

Bagi dermawan yang memiliki kelapangan rezeki dapat mengirimkan bantuannya ke rekening Bank Nagari A.n Yayasan Tarbiah Islamiah Ashabul Kahfi 0404.0210. 00973-2
atau dapat menghubungi Heru Kisnanto di 085376341552.

(ila)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -