- Advertisement -
BerandaArchipellagoBukan Tranportasi Umum, Polisi Akan Terapkan Sanksi Tilang Terhadap Mobil Odong-odong di...

Bukan Tranportasi Umum, Polisi Akan Terapkan Sanksi Tilang Terhadap Mobil Odong-odong di Pessel

- Advertisement -

Covesia.com – Kapolres Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) AKBP. Sri Wibowo mengatakan, akan memberlakukan sanksi tilang terhdap mobil odong-odong yang beroperasi di jalan raya di daerah tersebut.

“Kita ingatkan bagi pengguna dan pemilik mobil odong-odong. Karena beroposisi di jalan raya bisa dikenakan sanksi tilang,” ungkapnya kepada Covesia.com Senin (6/9/2021).

Dia mengatakan, secara aturan dan undang-undang yang berlaku. Kendaraan odong-odong tidak termasuk dalam kategori tranportasi umum yang layak untuk beroperasi di jalan raya.

“Dalam aturannya mobil odong-odong dilarang beroperasi jalan raya dan jalan kota,” kata Sri Wibowo.

Ia menjelaskan, aturan yang melarang odong-odong beroperasi di jalan raya dan kota tersebut, diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

“Di dalam Undang-Undang itu dinyatakan bahwa odong-odong masuk dalam kategori kendaraan bermotor yang tidak memenuhi standar teknis untuk layak jalan,” ujarnya.

Lanjut Kapolres, karena sudah diatur sesuai dengan Undang-Undang yang ada, maka ada sanksi tegas yang akan diambil, seperti penilangan barang bukti kendaraan hingga sanksi kurungan.

“Jika kedapatan beroperasi di jalan raya dan kota oleh anggota kita. Maka akan diberlakukan sanksi tilang, apalagi terjadi kecelakaan yang mengorbankan orang banyak. Maka nanti bisa diberlakukan sanksi kurungan,” ucapnya.

Kendati demikian, lanjutnya lagi, ia mengimbau dan mengajak pemerintah nagari untuk menyampaikan dan mensosialisasikannya pada pemilik dan masyarakat Pessel yang kerab menjadikan odong-odong sebagai jasa angkutan umum, agar tidak beroperasi lagi di jalan raya dan kota.

Kerena menurutnya, selain dilarang seperti yang telah diatur oleh undang-undang, kelayakan mobil odong-odong juga dapat membahayakan penumpang, apalagi jumlah penumpang yang dibawa cukup banyak.

“Kita harap wali-wali nagari dan pemerintah kecamatan setempat, menyampaikan dan mensosialisasikan larangan tersebut kepada masyarakat. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan Covesia.com, keberadaan mobil odong-odong didaerah tersebut setiap tahunnya terus bertambah. Dimana terdapat total keseluruhannya ada sekitar 120 unit beroperasi sebagai angkutan umum di berbagai kecamatan.

(idy/rdk)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -