Pengecer BBM Bersubsidi Masih Enggan Turunkan Harga

Covesia.com – Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar diawal tahun 2015 ini, tak diiringi dengan turunnya harga eceran oleh para pedagang.

Pengecer yang berada di pedesaan Provinsi Lampung tidak juga menurunkan harga eceran mereka, meski pemerintah telah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar mulai 1 Januari 2015 pukul 00.00 WIB.

Sejumlah pedagang BBM eceran yang dihubungi di Desa Kampungbaru, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung, Kamis mengatakan, pihaknya belum akan menurunkan harga jual BBM dagangannya itu.

“Kami masih menjual bensin dan solar seperti harga lama, habis turunnya hanya sedikit, dan biaya angkutan dari kota ke desa juga sudah naik sejak kenaikan harga BBM 17 November 2014 yang lalu,” kilah seorang pedagang, Hamzah (45).

Hamzah mengatakan, sejak terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi 18 November 2014 lalu, pihaknya menjual bensin (premium) Rp10.000/liter, dan solar antara Rp9.000 sampai Rp9.500/liter.

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, Rabu (31/12)mengumumkan bahwa Pemerintah menurunkan harga BBM jenis premium dan solar mulai 1 Januari 2015 pukul 00.00 WIB, menyusul penurunan harga minyak dunia.

Menurut Sudirman Said, kebijakan baru pemerintah itu untuk premium turun menjadi Rp7.600/liter, dan solar Rp7.250/liter.”Harga premium tersebut tanpa subsidi, sementara solar ada subsidi tetap Rp1.000/liter,” ujarnya.

Sebelumnya, sejak 18 November 2014 harga premium adalah Rp8.500/liter, dan solar Rp7.500/liter, dari sebelum ada kenaikan premium harganya Rp6.500 dan solar Rp5.500/liter.

Menteri ESDM juga mengatakan bahwa harga premium dan solar itu akan dievaluasi setiap bulan, dengan demikian harga premium dan solar bakal berubah lagi pada 1 Februari 2015.

Pada tahap awal, harga eceran semua jenis BBM ditetapkan pemerintah, dengan harga minyak tanah ditetapkan Rp2.500/liter, solar Rp7.250/liter, dan premium Rp7.600/liter.

Hamzah, dan pedagang BBM eceran lainnya mengaku persediaan (stok) BBM dagangannya di desa yang berjarak sekitar 60 Km dari pusat Kota Bandarlampung itu cukup banyak.

Mereka juga mengaku selama menjelang dan perayaan Tahun Baru 2015 dagangannya cukup laris, bersamaan dengan permintaan rokok, dan makanan serta minuman ringan.

“Selama perayaan Tahun Baru permintaan bensin naik, karena banyak warga yang melintas untuk berwisata ke pantai, umumnya menggunakan sepeda motor,” ungkap Roni.

Tentang tingkat penjualan, baik Hamzah maupun Roni mengaku untuk bensin lebih cepat habis dibandingkan solar.

“Kalau bensin sehari bisa laku tiga jerigen (isi 35 liter/jerigen), tapi kalau solar satu jerigen bisa habis antara dua hingga tiga hari,” tutur Hamzah, menambahkan.

BBM baik solar maupun bensin dagangannya, selama ini diperoleh dari pemasok dari kota ke desa, dengan tambahan ongkos angkutan yang sudah disepakati, sesuai dengan jumlah dan jarak tempuh, tandasnya.(job/ant)

0 Comments

Leave a Comment

ten + 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password