Saksi: Tidak ada Traumatik Dialami Korban

Covesia.com – Sidang lanjutan perkara dugaan trafficking terhadap Sembilan anak Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat kembali di gelar di Pengadilan Negeri kelas IA Padang, Rabu (7/1/2015).

Dari keterangan tiga orang saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Penasehat hukum terdakwa dihadapan mejelis hakim yang diketuai oleh Siswatmono Radiantoro diketahui bahwa, kesembilan anak tersebut tidak merasa takut maupun trauma atas kejadian yang menimpa mereka.

“Hingga hari ini, kesembilan anak tersebut merasa baik-baik saja tanpa mengalami traumatik terhadap kejadian yang menimpa mereka,” ujar saksi Sudirman.

Saksi lainnya dipersidangan juga menuturkan, dalam kasus yang melilit Farhan Muhammad, alias Habib, alias Ramses Saogo (25), dan Maryani M Zen, alias Maya (39) atas dugaan traffiking ini menjadi

tanda tanya besar bagi orang tua korban maupun masyarakat mentawai, pasalnya pihak orang tua korban tidak merasa ada yang janggal dengan kejadian yang di alami oleh anak mereka beberapa waktu yang lalu saat terdakwa membawa korban keluar dari Mentawai dengan alasan akan menyekolahkan mereka.

“Sejak perkara ini bergulir ke Pengadilan, 5 orang tua korban telah mendatangi saya dan menyampaikan bahwa mereka tidak pernah merasa anak-anak mereka akan di jual oleh kedua terdakwa,” tutur Ragai Saogo yang diamini oleh Sudirman.

Sementara itu, Ketua Komisi Pelindungan Anak (KPA) Padang, Eri Gusman yang juga dihadirkan sebagai saksi ke persidangan oleh JPU menyatakan, dirinya pernah dimintai keterangan oleh pihak penyidik Polresta Padang saat perkara ini disidik, namun dirinya mengaku pada saat itu keterangan yang ia beriakan hanyalah sebatas normatif terkait UU yang mengatur tentang perlindungan anak.

“Saya hanya diberikan informasi tentang adanya kasus ini, namun saya tidak pernah bertemu dengan para korban maupun terdakwa untuk mengetahui lebih dalam terkait kasus ini,” terangnya.

Seperti diketahui, sembilan anak asal Dusun Surat Aban, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan itu dititipkan di Perwakilan Pemkab Mentawai yang ada di Kota Padang. “Kesembilan anak-anak itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Lima orang di antaranya duduk di bangku kelas lima, dua kelas empat dan satu kelas satu. Sembilan bocah itu hanya satu yang bisa berbahasa Indonesia.

Dalam pusaran kasus ini penyidik menetapkan dua orang tersangka yakni Farhan Muhammad serta Mayarni. Kedua tersangka dijerat pasal 55 jo pasal 86 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (adi/cal)

0 Comments

Leave a Comment

nineteen − 13 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password