‘Padang Landmark’ Dalam Dilema Protes Part III, Terakhir

Covesia – Jika alasan penolakan murni karena bakal mematikan usaha dari pedagang dari kalangan arus bawah, lantas kenapa masih dikaitkan dengan Lippo Group yang katanya dapat mengancam akidah masyarakat Sumbar, kenapa kali ini alasan penolakan berbeda. Fakta ini sedikit berbeda dengan komentar masyarakat terutama pengguna Sosmed, yang masih saja mempersoalkan misi terselubung yang dimotori James T Riyadi.

Entah penolakan ini memang buah dari kecemasan terhadap dugaan adanya misi terselubung atau malah bentuk ketidaksiapan masyarakat Sumbar dalam menghadapi persaingan, terutama di lingkaran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Yang jelas, bentuk investasi besar yang dianggap bakal mampu meningkatkan pembangunan Kota Padang pascagempa dahsyat 2009 lalu itu tetap mendapat pertentangan dan protes keras. (baca juga: ‘Padang Landmark’ Dalam Dilema Protes Part II)

Jika hal ini tak cepat ditanggapi oleh Pemerintah Kota Padang, Bahkan Pemda Sumbar, maka bukan barang mustahil jika gejolak akan kembali mencuat. Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan dan sudut desa bakal tumpah ruah turun kembali kejalan, berteriak lantang mengecam, menghujat kebijakan yang diambil. Bahkan, bisa saja pertumpahan darah bakal terjadi lewat aksi anarkis yang kerap terjadi saat aksi unjuk rasa digelar.

Kata desakan dari Kepala Daerah dan unsur lain yang ingin pembangunan Padang Landmark segera dikerjakan, sepertinya menjadi senjata ampuh bagi PT. SPL dalam proses pembangunan ini. SPL merasa berada diatas angin, walau mendapat protes. Pembangunan tetap jalan.

Bahkan PT. SPL mengklaim sudah dibekali kelengkapan IMB khusus hotel dan mall. Mau tidak mau, semua unsur harus duduk bersama agar persoalan bisa terselesaikan dengan kata mufakat. (Selesai)

(baca juga: Padang Landmark’ Dalam Dilema Protes Part I)

(aan/zik)

0 Comments

Leave a Comment

17 − 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password