Forum PRB Carikan Solusi Melalui Diskusi Bencana yang Terjadi di Sumbar

Covesia.com – Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Sumbar yang merupakan wadah bagi lembaga atau individu yang peduli pada upaya-upaya pengurangan risiko bencana mengadakan NGOPI (Ngobrol Pintar) di kantor Jemari Sakato di kawasan Gunung Pangilun Padang kemarin (27/12/2019).

Hadir sekitar 30 orang penggiat kebencanaan yang merupakan anggota Forum dan juga dihadiri oleh enam anggota Kelompok Siaga Bencana (KSB).

Syafrimet selaku Direktur Jemari Sakato memandu diskusi membuka dengan sebuah pesan untuk menjaga hutan dan alam. “Pesan itu telah disampaikan sejak lama tapi ternyata nasehat tersebut tak dipathui oleh seluruh masyarakat sehingga akhirnya terjadilah peningkatan trend bencana terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang dan longsor yang mendominasi,” ungkapnya.

Diskusi juga dihadiri oleh Badrul Mustafa (pakar Geofisika Universitas Andalas)  menjelaskan bahwa peningkatan tren bencana hidrometeorolgi memang diawali dengan pemanasan global.

“Lagi-lagi karena ulah manusia yang menyebabkan gas rumah kaca yang kadarnya semakin tinggi, salah satunya melalui penggunaan bahan bakar fosil, penggunaan energi listrik secara berlebihan dan sebagainya, yang berdampak pada perubahan iklim,” jelasnya.

Tak hanya itu Badrul juga mengatakan dan lagi-lagi manusia berkontribusi terhadap yang ditimbulkan.

Hal tersebut dipertegas oleh Uslaini (Direktur Walhi) di beberapa daerah disebabkan oleh pembukaan lahan untuk penambangan ilegal.

“Jikapun legal, seringkali tidak mempertimbangkan hak masyarakat. Jika masyarakat membuat pengaduan karena rasa khawatir, jarang sekali pengaduan tersebut disikapi secara positif sehingga masyarakat hanya pasrah dan jika terjadi bencana, maka masyarakatlah yang akan menjadi korban,” tutur Uslaini.

Uslaini menambahkan pengawasan terhadap pengelolaan tambangpun tak pernah serius dilakukan. Di beberapa kasus, alasan politis menyebabkan ilegal loging dan ilegal mining tersebut tetap berlangsung. Tidak hanya itu, pembukaan lahan perkebunan juga luput dari pengawasan pemerintah daerah, seperti maraknya penanaman serai wangi juga berakibat pada berkurangnya tutuoan hutan.

Sementara itu, Firdaus Jamal (PKBI Cemara) berpendapat bahwa dari penelitian LSM Warsi, tutupan hutan di Sumatera Barat telah hilang sepertiganya.

Pendapat lain terkemuka seperti Zulfiatno menegaskan bahwa hujan adalah rahmat. “Bukan hujan penyebab bencana tapi prilaku manusia yang tidak menjaga alam,” tegasnya.

Hal ini senada dengan Pdt Afolo Waruwu bahwa nabi-nabi telah mencontohkan cara menjaga alam tapi manusia tidak patuh.

“Upaya pengurangan risiko bencana ini tanggung jawab semua pihak tapi tentu saja pemerintah daerah yang lebih bertanggung jawab. Percuma saja Perda dan segala aturan dibuat tapi tak pernah benar-benar dijalankan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, fakta bahwa upaya pengurangan risiko bencana ini tidak “sexy”. Berdasarkan pengalaman beberapa NGO/LSM yang berusaha mengakses dana CSR, maka perbandingan dana yang digelontorkan untuk tanggap darurat berbanding 100:1 dengan upaya pencegahan, mitigasi ataupun kesiapsiagaan.

“Semestinya tata kelola kebijakan harus selaras dengan proses penyadaran masyarakat, imbuh peserta diskusi lainnya, Ramadi.

Koordinator Forum PRB Sumbar Khalid Saifullah menyatakan harus ada keseriusan semua pihak. Jika tidak, maka kerugian akibat dampak bencana akan terus meningkat. Forum PRB Sumbar harus menyuarakan dan memberikan rekomendasi kepada pemerintahan daerah Sumatera Barat (eksekutif, legislatif dan yudikatif).

“Jangan lagi ada upaya untuk menutup-nutupi kejahatan terhadap alam,” tukasnya.

Sementara, KSB berharap untuk juga dilibatkan dalam upaya edukasi masyarakat pada pra bencana.

(rilis)

0 Comments

Leave a Comment

1 + ten =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password