BerandaHeadlinePers Mercusuar di Laut Kelam

Pers Mercusuar di Laut Kelam

- Advertisement -

Oleh: Ade Faulina 

Covesia.com – Mark Twain seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat pernah mengungkapkan bahwa “hanya ada dua hal yang dapat membuat segala sesuatu terang di bumi ini, yaitu matahari di langit dan pers di dunia”.

Perumpamaan ini menempatkan kedua hal tersebut sebagai sesuatu yang memiliki fungsi (peran) berharga bagi semesta yang menaungi mereka. Matahari dan pers  sama-sama memberikan cahaya bagi segala yang gelap.  

Hari ini dunia masih diliputi duka. Pandemi covid 19 belum beranjak pergi. Berbagai daya upaya sudah dikerahkan untuk menaklukkan wabah yang keberadaannya sudah memasuki tahun kedua ini. Semua pihak pun turun tangan, ikut bahu membahu dan saling bersinergi agar situasi kembali normal.

Harapan untuk kembali menghirup udara bebas, bisa melakukan beragam aktivitas seperti biasa, ekonomi kembali pulih serta berbagai asa yang digantungkan di dalam pikiran maupun hati masing-masing.

Pandemi Covid-19 setidaknya memberikan beragam pembelajaran bagi setiap orang untuk sejenak mengambil jeda dan menelisik apa-apa yang ada di dalam diri. Entah itu segala kebaikan ataupun keburukan yang membuat kita justru jatuh ke dalam penderitaan dan kesengsaraan.

Sifat-sifat congkak, tamak, haus kuasa ataupun sifat-sifat tercela yang barangkali menyebabkan semua hal ini terjadi. Bukan untuk membebani ataupun menyiksa manusia yang ada di muka bumi, tetapi lebih untuk mengingatkan maupun menyadarkan kita bahwa empati merupakan satu-satunya cara agar kita tidak jatuh kepada kesengsaraan-kesengsaraan lain.

Pers dan Harapan Perubahan bagi Negeri  

Banyak jalan yang dapat diretas untuk menumbuhkan empati di dalam dada kita sebagai manusia yang diutus sebagai khalifah di muka bumi ini. Di antaranya dengan selalu bertafakur, merenung dan merefleksikan setiap apa yang sudah kita lakukan. Baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan di manapun kita berada.

Refleksi ini dapat dilihat dari sudah seberapa jauh kita melihat ataupun mendengar, memperlihatkan kepedulian, membantu maupun melakukan aksi-aksi nyata untuk mengurangi beban-beban di pundak orang lain. Berusaha untuk mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadi. Serta menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan golongan (kelompok). Tidak mencampuradukkan kepentingan kelompok dan orang banyak. Sudahkah kita melakukan itu semua?

Ketika setiap diri mencoba untuk meretas jalan cahaya di diri mereka masing-masing, maka setelah itu barulah kita akan dapat menemukan petunjuk ataupun kebenaran-kebenaran yang akan mengeluarkan kita dari sisi gelap.

Pers setidaknya memiliki fungsi dan hakikat yang hampir sama dengan itu semua. Bagaikan sinar matahari yang tidak saja menerangi tetapi juga membantu setiap makhluk untuk tumbuh dan berkembang dengan manfaat yang ada padanya.

Pers adalah jalan ataupun petunjuk ketika pintu-pintu kebenaran tertutup, keberanian dibelenggu ataupun harapan-harapan dipadamkan dengan cara tidak senonoh. Ataupun bentuk-bentuk pendiktean untuk melakukan ini dan itu yang oleh pihak/oknum tertentu.  Karya-karya jurnalistik yang dihasilkan oleh jurnalis yang merupakan insan-insan pilihan “pembawa kebenaran” seharusnya bisa menyentuh sisi kemanusiaan maupun humanis pada orang-orang. Pers seharusnya memberi harapan dan meyakinkan setiap diri bahwa semuanya akan baik-baik saja selama kita tidak menyerah pada keadaan. 

Sayangnya pers tanah air luput untuk berbagi spirit yang demikian. Ketika bangsa-bangsa di luar sana terus berupaya menumbuhkan harapan-harapan itu dengan cara mereka masing-masing. Pers Indonesia justru terperangkap pada hal-hal monoton, remeh temeh ataupun hal-hal yang sepatutnya tidak diberitakan ataupun dikabarkan dan menjadi konsumsi publik. Barangkali terlalu dini untuk mengambil kesimpulan yang demikian. Hanya saja apa yang terlihat di media-media tanah air (media massa maupun new media) saat ini masih tetap sama dan tidak ada kemajuan.

Pers tanah air masih memberikan porsi yang besar terhadap statistik-statistik Covid-19 yang tidak henti-henti diberitakan selama 24 jam. Jumlah pasien positif ataupun angka kematian. Pers belum memberikan porsi pemberitaan yang sepadan terhadap angka pasien sembuh. Cara orang-orang bertahan dari covid atau bagaimana orang-orang dengan segala keterbatasan untuk melakukan aktivitasnya. Hal-hal yang luput dilakukan oleh para pemimpin ataupun penguasa dalam membantu rakyat untuk menghadapi semua ujian ini. Selain itu pers tanah air juga menjadikan Covid-19 sebagai bentuk kehidupan kita satu-satunya saat ini. Tidak ada celah untuk mengungkapkan hal-hal baik yang ada di balik wabah ini. Ataupun hikmah-hikmah yang barangkali meretas jalan baru dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Pers seharusnya membuka ruang empati yang lebih luas bagi siapa saja. Cara ini dapat ditempuh dengan memprioritaskan pemberitaan ataupun mengabarkan sesuatu yang patut dan berguna bagi orang banyak. Pers seharusnya mampu menghidupkan empati di dada rakyat yang hampir putus asa dan menyerah pada keadaan. Serta meniadakan hal-hal yang tidak dikategorikan sebagai something to inform, educate, entertain atau social control sebagaimana fungsi pers yang diyakini selama ini. Sudah saatnya pers tidak lagi memberitakan berhari-hari pernikahan selebritis, menempatkan konten-konten kehidupan selebritis sebagai sajian utama media bersangkutan, memberitakan figur-figur yang sama sekali tidak memberikan teladan, ataupun menginformasikan kegagalan-kegagalan maupun kejahatan-kejahatan yang tidak henti-henti mendera negeri ini.

Sebagaimana sebuah law attraction atau hukum tarik menarik yang ada di alam. Pers pada dasarnya memiliki daya (energi) yang kuat untuk mengubah negeri ini. Ia dapat menghadirkan harapan-harapan bagi kesembuhan negeri di berbagai sisi kehidupan. Terlebih kata-kata memiliki kekuatan ajaib yang luput kita sadari selama ini. Apa yang disajikan dalam beragam karya jurnalistik (hard news maupun soft news) mampu untuk merubuhkan kekuatan jahat yang kini sedang membelenggu, menghentikan segala keburukan, menginspirasi, memotivasi dan menebarkan semangat untuk bergerak bersama demi kebaikan dan cita-cita kemajuan negeri. Layaknya mercusuar di tengah lautan yang selalu berdiri kokoh. Meskipun cuaca ataupun musim datang silih berganti. Ia akan tetap ada apapun yang terjadi. Penulis yakin dan percaya pers mampu menerangi segala kegelapan, menjadi petunjuk di lautan kelam dan membawa harapan agar para nelayan maupun nakhoda bisa sampai di tempat yang mereka tuju dengan selamat. Semoga. (*)

Penulis merupakan Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas.

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -