- Advertisement -
BerandaHeadlineKenapa Kasus Covid-19 di Sumbar Turun di Tengah Rendahnya Capaian Vaksinasi? Ini...

Kenapa Kasus Covid-19 di Sumbar Turun di Tengah Rendahnya Capaian Vaksinasi? Ini Tanggapan dr Farhan

- Advertisement -

Covesia.com – Kasus positif Covid-19 di Sumatera Barat terus melandai, bahkan data terakhir hanya penambahan 1 kasus yang ditemukan di Sumbar.

Hal tersebut menjadi pertanyaan, kenapa kasus Covid-19 bisa melandai di Sumbar? Sementara di sisi lain, vaksinasi belum maksimal dan ketidakpatuhan warga dalam menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 malah jadi sorotan.

Menanggapi fenomena tersebut, Mantan Direktur Utama Semen Padang Hospital (SPH) dr Farhan mengungkapkan bahwa turunnya angka kasus Covid-19 di Sumbar di tengah rendahnya capaian vaksinasi dan masih banyak melanggar prokes disebabkan karena sudah terbentuknya antibodi alama (natural antibodi).

“Sebetulnya kasus Covid-19 di Sumbar atau di Padang bukan landai, tapi karena terbentuk antibodi natural, memang begitu perjalan covid-19 varian baru (delta) ini,” ungkap dr Farhan kepada covesia.com, Selasa (12/10/2021).

Dia menjelaskan, Covid-19 varian delta B 6117 ini setelah meledak, kasusnya akan turun sendiri setelah 6 minggu. Tapi kalau kita abai Prokes dan capaian vaksin rendah bakal banyak yang meninggal dunia.

“Seperti meledaknya kasus Covid-19 varian delta bulan Juli, Agustus, September kemaren. Warga Sumbar yang wafat selama dekade tersebut hampir 2.400 orang,” jelasnya.

Lebih lanjutFarhan mengatakan, adanya vaksinasi alamiah dari masyarakat yang terpapar covid-19, namun sembuh sendiri disebabkan karena imunnya kuat. Tapi hal itu berbahaya. Kalau masyarakat yang terinfeksi kuat, maka mereka selamat, tapi kalau mereka lemah bisa wafat .

“Vaksinasi alamiah ini terjadi bagi yang imunnya kuat, yang punya daya tahan tubuh, tapi itu berbahaya kalau belum divaksin, kemungkinan wafat dan klinisnya tinggi,” jelasnya.

Dr Farhan mengatakan, sebaiknya sesuai dengan yang diinstruksikan Kemenkes, terbentuknya herd imunity apabila masyarakat sudah divaksin 75 persen dari populasi.

Namun itu harus dari vaksin buatan artifisial seperti Sinovac, Moderna, Astrazeneca dan Pfizer.

Sementara ini kita memang landai, tapi kalau masyarakat tidak taat dalam prokes dan capaian vaksinasi tidak maksimal dikhawatirkan ada ledakan lagi.

“Sebelum rantai penularan Covid-19 terputus masih ada kemungkinan ledakan kasus dengan varian baru. Varian baru ini lebih cepat menular dan klinisnya lebih berat. Seperti Singapura yang tidak prokes muncul serangan kedua. Mereka malah 70 persen vaksinasi, tapi abai prokes,” jelasnya.

Dia mengajak meskipun angka Covid-19 di Sumbar sudah landai, mari ubah perilaku masyarakat. Selalu terapkan 5 M. Terakhir mari kita vaksin agar terhindar dari varian baru berikutnya.

“Kemudian untuk yang tidak percaya vaksin dan abai prokes mari kita cari cara mengubah perilaku masyakat tersebut,”pungkasnya.

(ila)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -