- Advertisement -
HomeLifestyleKisah Perjuangan Pasien Covid-19 yang Sembuh di Bukittinggi

Kisah Perjuangan Pasien Covid-19 yang Sembuh di Bukittinggi

- Advertisement -

Covesia.com – Virus Corona Disease 19 (Covid-19) hingga saat ini masih mengancam kesehatan masyarakat. Namun, tidak sedikit dari masyarakat yang terkonfirmasi terinfeksi Covid-19, bahkan virus ini juga telah memakan nyawa hingga jutaan kasus kematian di dunia.

Akan tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang berhasil sembuh dari Covid-19 tersebut. Perjuangan untuk sembuh harus mereka lalui meski harus terpisah oleh keluarga yang disayangi. Namun, hal itu kembali terobati ketika sembuh dari virus mematikan tersebut.

Seperti kisah, Rahmawati, seorang warga Kota Bukittinggi yang dinyatakan positif Covid-19 pada akhir Oktober lalu. Dimana sebelumnya tanpa disertai gejala demam, ia merasa kehilangan penciumannya, hingga ia berinisiatif sendiri untuk melakukan swab di dinas kesehatan kota Bukittinggi.

Rahmawati yang juga aktif di berbagai kegiatan sosial juga mengungkapkan telah menjalani 5 kali swab hingga akhirnya ia benar-benar dinyatakan sembuh dari Covid-19.

“Pasca dinyatakan positif pada saat menjalani swab pertama, saya kembali menjalani swab kedua dan hasilnya negatif. Kemudian berlanjut saya lakukan swab ketiga, namun hasil yang keluar kembali saya dinyatakan positif Covid-19,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya di kawasan Tangah Sawah, Selasa (24/11/2020).

Ia bercerita sempat memberontak dan tidak terima terhadap hasil swab ketiga yang ia jalani. Namun, dukungan dari keluarga dan orang sekitar meyakinkan ia akan bisa sembuh kembali.

Selama menjalani isolasi mandiri, Rahmawati tetap mengkonsumsi makanan yang sehat, minum vitamin, berolahraga dan minum obat tradisional yang dipercaya juga efektif bisa menangkal virus dalam tubuh. 

Selanjutnya, ia kembali menjalani tes swab keempat dan hasilnya dinyatakan negatif. Dan berlanjut tes swab kelima yang juga kembali dinyatakan negatif, yang mana Rahmawati dinyatakan benar-benar sembuh dari Covid-19. Namun, ia harus menjalani isolasi mandiri selama 12 hari sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

“Alhamdulillah, akhirnya saya sekarang benar-benar sembuh. Memang perjuangan yang tidak mudah tapi saya ikhlas. Yang terpenting kita jangan panik dan stres karena itu bisa menurunkan daya tahan tubuh. Dan tetap berpikir positif kalau kita pasti bisa sembuh asalkan tetap berusaha dengan menjalankan instruksi dokter dan berdoa,” jelasnya.

Kisah lain juga diutarakan Hidayat, warga Bukittinggi yang berprofesi sebagai penjual pecah belah yang juga dinyatakan positif Covid-19 lebih kurang satu bulan lalu karena kehilangan indra penciuman dan dinyatakan positif Covid-19 setelah menjalani swab pertama.

“Yang jelas, saya tetap menjalankan protokol kesehatan karena saya menjalani isolasi mandiri di rumah. Tetap mengkonsumsi obat-obatan, vitamin dan berolahraga,” ucapnya.

Selama menjalani isolasi di rumah, ia tetap menerapkan pola hidup sehat, meski harus berjauhan dengan anak dan istri. “Apapun itu, tetap saya jalani, harus optimis dan yakin saya bisa sembuh serta dukungan dari keluarga menjadi penyemangat saya,” katanya.

Kisah lainnya, Twindy Rarasati, mengalami gejala sesak nafas tanpa ada gejala demam dan dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. “Awalnya, saya langsung sesak nafas, sakit kepala, kelelahan, hilangnya indera penciuman dan pengecapan. Tapi saya tidak mengalami demam atau batuk,” jelasnya.

Hal ini diceritakan Twindy yang berprofesi sebagai dokter dalam Dialog Produktif dengan tema ‘Vaksin Sebagai Perencanaan Preventif Kesehatan’ yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ada banyak sekali gejala yang dapat timbul ketika terinfeksi virus Corona. Karena itu penting untuk selalu memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh. “Saya sempat dirawat di rumah sakit selama dua minggu dan lanjut isolasi mandiri dua minggu lagi. Baru kemudian dinyatakan sembuh dan bisa kembali bekerja,” tuturnya.

Diceritakan Twindy, selama proses recovery, indera perasa dan penciuman pelan-pelan berangsur pulih setelah empat atau lima hari dia kehilangan dua kemampuan indra tersebut. Karena berprofesi sebagai dokter dan berada di garda terdepan, Twindy sadar bahwa risiko tertular lebih besar. Untuk mencegah risiko penularan, Twindy melakukan mitigasi terlebih dahulu. 

“Saya sudah menerapkan protokol kesehatan di rumah. Ada ruangan terpisah dan sudah ada alurnya. Aktivitas makan juga tidak dapat dilakukan bersama untuk mengurangi risiko tertularnya anggota keluarga lainnya,” tuturnya.

Berdasarkan pengalamannya sebagai penyintas, Twindy mengungkapkan bahwa protokol kesehatan harus sebaik-baiknya dilakukan. “Tanggung jawab menjalankan protokol kesehatan ada di diri kita sendiri dan jangan lupa untuk terus update ilmu agar bisa tahu apa yang harus dilakukan. Bagi yang sekarang, terus berjuang melawan Covid-19 dan tetap semangat. Kita bisa bangkit dan overcome,” tutupnya.

(deb)

- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
Related News
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − two =