Menilik Tradisi ''Punen Renden,'' Perayaan di Siberut Untuk Kemaslahatan Anggota Suku

Menilik Tradisi Punen Renden Perayaan di Siberut Untuk Kemaslahatan Anggota Suku

Covesia.com - Kabupaten Kepulauan Mentawai khususnya di Pulau Siberut, memiliki tradisi budaya yang wajib dilakukan oleh masyarakat setempat. Tradisi tersebut dinamakan "Punen Renden." Tujuan diadakan tradisi ini supaya tidak terjadi malapetaka di keluarga mereka. Tradisi ini hanya terdapat di Pulau Siberut saja. Salah satu desa di Siberut yang mempercayai tradisi ini ialah Desa Sirilogui, Kecamatan Siberut Utara.

Punen Renden didefinisikan sebagai punen (pesta) yang diadakan apabila ada anggota baru yang bergabung dalam sebuah suku. Dalam bahasa Indonesia, kata "Renden" diartikan "tindih." Jadi, ketika seseorang meninggalkan suku lamanya kemudian bergabung dalam suku lain yang menjadi suku barunya, maka orang tersebut dianggap menindih anggota suku yang dimasukinya. Oleh Karena itu, suku tersebut harus mengadakan pesta semacam acara doa dan makan bersama dengan semua anggota suku serta ''penatua'' gereja (pemimpin di gereja) yang menjadi pemimpin acara doa tersebut.

Anggota baru yang dimaksud dalam suku ialah istri anggota suku yang baru menikah, perempuan yang suaminya meninggal dan kembali lagi ke suku asalnya serta anak yang baru lahir di suku tersebut. Karena masyarakat Mentawai menganut sistem kerabat patrilineal atau garis keturunan bapak, maka suku yang mengadakan punen renden terhadap istri baru ialah suku suaminya. Sedangkan perempuan yang suaminya sudah meninggal, punen renden diadakan oleh suku asalnya.

Salah seorang anggota Lembaga Adat, Bernabas Sakukut (54) mengatakan bahwa masyarakat yang mendiami Pulau Siberut sangat meyakini tradisi tersebut. Mereka percaya, jika tradisi itu tidak dilakukan maka akan ada anggota keluarga mereka yang mengalami sakit hingga meninggal.

“Kalau tidak ada punen renden untuk istri baru, kita akan mati karena adat masih kuat. Istri baru itu menindih suku kita. Jadinya roh dia yang berkuasa di suku kita. Bagi siapa yang lemah rohnya dalam suku tersebut maka akan mengalami sakit bahkan meninggal,” ucapnya pada Covesia.com melalui via telpon, beberapa waktu lalu.

“Ini juga tidak ada bedanya dengan perempuan yang suaminya sudah meninggal, meskipun dia anak dari suku kita, ketika dia kembali ke suku kita, maka tetap diadakan punen renden karena dia pendatang baru dari suku suaminya. Dia sudah diadakan punen renden sama suku suaminya ketika baru bergabung di suku mereka. Begitu juga dengan anak yang baru lahir, kita adakan acara pusurakat (syukuran) yang sebenarnya itu juga termasuk punen renden karena anak baru lahir juga anggota baru dalam suku. Jika tidak diadakan punen renden, maka kita akan mengalami sakit yang sama halnya dengan istri baru yang tidak ada punen renden,” tambahnya.

Selain Bernabas, salah satu kepala suku, Josep Saogo (61) juga mengatakan hal yang sama bahwa punen renden tersebut sudah tradisi budaya yang wajib dilakukan.

“Punen renden ini sudah tradisi kita yang harus kita lakukan. Ini sudah termasuk peraturan adat kita dari nenek moyang dahulu dan sampai sekarang kita tetap yakini,” ujarnya ketika dihubungi via telpon.

Josep juga menjelaskan meskipun diadakan punen renden terhadap perempuan yang suaminya sudah meninggal, bukan berarti pihak keluarganya menarik dia untuk kembali ke suku asalnya. Perempuan tersebut tetap tinggal di suku suaminya. Hanya saja pihak keluarganya mengadakan punen renden itu sebagai tanda bahwa dia telah menjadi tanggung jawab suku asalnya dan juga menghindari terjadinya hal-hal yang tak dinginkan ketika dia bergabung kembali ke sukunya.

Tradisi punen renden ternyata sudah dipercayai sebelum mereka mengenal agama. Tetapi pelaksanaannya berbeda dengan saat sekarang. Seperti yang diungkapkan Bernabas bahwa kala itu, orang dahulu masih menganut kepercayaan adat sabulungan (kepercayaan animisme/dinamisme). Pelaksanaan perayaan makan bersama dipimpin oleh Sikerei atau isitilah adantnya disebut dengan "muliah."

Orang dahulu meyakini punen renden ini berawal dari mereka yang mengalami sakit ataupun musibah, kemudian memanggil jojoinong (pengobatan Sikerei) untuk memeriksa apa penyebab sakit mereka itu.

“Dulu, kalau tidak diadakan punen renden, akan macam-macam penyakit yang menimpa mereka seperti cacat fisik, jatuh dan terpeleset, dan sakit keras. Mereka mengetahuinya itu ketika mereka memanggil jojoinong yang akan memeriksa sakit mereka. Dari situlah mereka tahu dasar musibah yang menimpa mereka gara-gara tidak merayakan punen renden dalam suku, sementara roh baru masuk dalam suku mereka yang menindih suku mereka,” jelasnya lagi.

Karena kejadian yang menimpa nenek moyang mereka itu, makanya tradisi punen renden di Mentawai tetap dilaksanakan hingga saat ini. ,Namun perayaannya yang sekarang melibatkan pimpinan gereja yang mendoakan suku mereka agar terhindar dari kesengsaraan.

(mmg: Maria Adriana)

Berita Terkait

Baca Juga