Bahaya Kebiasaan Buruk Menggigit Bibir Bagi Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Bahaya Kebiasaan Buruk Menggigit Bibir Bagi Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak (istimewa)

Covesia.com - Usia sekolah dasar merupakan usia pertumbuhan dan perkembangan anak yang sangat krusial. Selain perkembangan otak, perkembangan fisik juga terjadi pada usia sekolah dasar, termasuk perkembangan struktur rongga mulut. 

Menurut drg. Gita Dwi Jiwanda Sovira, M.Kes, banyak hal yang memengaruhi proses perkembangan gigi dan mulut pada anak. Salah satunya adalah kebiasaan parafungsional atau kebiasaan buruk. 

"Pada sebagian orang, termasuk anak-anak, kebiasaan buruk rongga mulut dapat meringankan tekanan emosional atau kecemasan yang dirasakan. Kebiasaan buruk pada rongga mulut salah satunya adalah menggigit bibir," ungkapnya.

Dia menjelaskan, kebiasaan buruk menggigit bibir merupakan salah satu kebiasaan yang pada sebagian anak dirasa menyenangkan. Kebiasaan tersebut apabila berlangsung dalam jangka panjang, dapat berdampak buruk bagi susunan gigi. 

"Susunan gigi depan rahang atas akan menjadi maju, sehingga menyebabkan jauhnya jarak antara gigi atas dan gigi bawah. Selain itu, kebiasaan buruk selalu akan mempengaruhi sistem pengunyahan," terangnya. 

Salah satu yang terpengaruhi adalah hubungan rahang bawah dan atas. Pencapaian hubungan gigi rahang atas dan bawah yang tidak normal (maloklusi) akan memengaruhi keseimbangan tidak hanya gigi geligi saja tetapi keseimbangan otot-otot di sekitar gigi. 

"Terutama otot-otot bibir yang terganggu fungsinya akan mengalami hipotonus dan hipertonus. Tonus otot bibir saat posisi mandibula dalam keadaan istirahat seharusnya menghasilkan kontak antara bibir atas dan bibir bawah yang ringan dan konstan," katanya. 

Dia menambahkan, jika keadaan bibir terbuka dan tidak mampu berkontak ringan maka bibir dikatakan inkompeten. Bibir yang tidak mampu mempertahankan penutupan bibirnya dapat dirawat dengan melakukan latihan otot bibir menyimpang, serta membutuhkan pengobatan yang mahal untuk memperbaikinya. 

"Apabila kebiasaan ini berlanjut setelah usia 4-5 tahun, maka akan memberikan dampak buruk terhadap struktur gigi dan mulut dan bibir," katanya mengingatkan. 

Atas kondisi ini, dia menilai, edukasi perlu diberikan kepada anak-anak agar kebiasaan buruk ini dapat dihentikan sesegera mungkin. "Anak-anak tentunya lebih senang diberi edukasi secara langsung dengan melibatkan mereka dalam kegiatan," katanya. 


Sementara itu, sebagai praktisi kesehatan sekaligus akademisi, kegiatan pengabdian masyarakat, terutama di bidang kesehatan tentulah menjadi hal yang sangat diperlukan. "Hal ini tentu saja bermanfaat untuk menambah pengetahuan guna meningkatkan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dan mulut," ujarnya. 

Menurutnya, banyak sekali sumber informasi yang dapat diakses oleh masyarakat. Namun, tentu saja perlu kredibilitas yang jelas, seperti dari mana sumber informasi tersebut dan apakah informasi tersebut bersumber dari pakarnya. 

Saat ini, lanjutnya, banyak sekali informasi yang tersebar di grup media informasi, kemudian disebarkan secara luas, padahal belum tentu kebenarannya. 

"Hal inilah yang memicu para dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas untuk mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat guna memberikan edukasi kesehatan gigi dan mulut," jelasnya. 

Dia menambahkan, kegiatan pengabdian masyarakat juga merupakan salah satu kewajiban sebagai pendidik dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan pengabdian masyarakat tentunya akan lebih bermanfaat jika sasarannya adalah masyarakat yang tepat. 

"Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini diberikan pada siswa SD Adabiah Padang. Kepala sekolah dan Yayasan SD Adabiah menyambut dengan baik kegiatan yang dilaksanan pada tanggal 24 Maret 2022. Kegiatan ini juga dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas, Dr. drg. Nila Kasuma, M.Biomed dan Kepala Sekolah SD Adabiah Padang," pungkasnya.

Berita Terkait

Baca Juga