Belum Ada Laporan Kasus Gangguan Ginjal Akut di Agam

Belum Ada Laporan Kasus Gangguan Ginjal Akut di Agam Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, DR Hendri Rusdian

Covesia.com - Pasca Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) pada anak.

Dinas kesehatan Kabupaten Agam, DR Hendri Rusdian mengatakan, pihaknya sudah memberikan instruksi kepada Rumah sakit dan Puskesmas untuk tidak memberikan obat jenis sirop kepada pasien.

"Setelah mendapat Surat edaran ini kami langsung  memerintahkan kepada fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat untuk tidak memberikan obat jenis sirop," ujarnya Kamis (20/10/2022).

Dikatakannya, sejauh ini belum ada laporan dari Puskesmas dan rumah sakit terkait adanya laporan kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal di kabupaten Agam, namun pihaknya terus melakukan pemantauan.

"Terkait permasalahan ini secepatnya Dinkes Agam akan memberikan surat imbauan untuk apotek dan praktek kesehatan mandiri," katanya lagi.

Sementara itu, pemilik apotek di Kecamatan Lubuk Basung, Satry Suhendri mengatakan permintaan obat jenis sirup cukup tinggi bahkan 50 persen dari obat jenis lainnya. "Rata-rata obat sirup memang diperuntukkan untuk anak, bahkan ada sekitar 75 persen obat untuk anak memang jenis sirop," terangnya.

Menurutnya, Dinas kesehatan harus gencar memberikan informasi kepada masyarakat baik saat berobat di rumah sakit maupun Puskesmas sehingga tidak ada permasalahan saat membeli obat di apotek.

"Secara pribadi apotek tentu dirugikan, namun demikian kami lebih mementingkan kesehatan dan patuh terhadap instruksi pemerintah, untuk sementara obat jenis sirop tidak kami jual hingga ada pengumuman lebih lanjut," tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Dr. Lila Yanwar mengatakan update terbaru kasus gagal ginjal akut yang terdata di Sumbar sudah ada sebanyak 21 kasus yang di laporkan dan saat ini masih di dalam pengawasan atau observasi.

19 kasus dilaporkan dari RSUP M Djamil, 1 kasus dari RSUD Rasidin dan 1 kasus dari rumah sakit di Mentawai, namun ini belum dapat di katakan sama, karena hanya gejalanya saja yang sama sehingga harus menunggu hasil laboratorium lebih lanjut.

"Jadi semuanya itu ada 21 kasus, dengan rincian 1 Kasus di RSUD Rasidin, 1 Kasus di RS Mentawai dan 19 Kasus di RSUP M Djamil," jelasnya.

(jhn)


Baca Juga