19 Vial Dosis Antidot jenis Fomepizole, Obat Gagal Ginjal Diterima Dinkes Sumbar

19 Vial Dosis Antidot jenis Fomepizole Obat Gagal Ginjal Diterima Dinkes Sumbar

Covesia.com - Sebanyak 19 vial dosis Antidot jenis Fomepizole telah diterima Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat. Fomepizole diyakini mampu menyembuhkan atau mengurangi gejala penyakit Gagal Ginjal Akut Pada Anak (GgGAPA).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat, Dokter Lila Yanwar mengatakan pengunaan dosis sudah mulai berangsur-angsur digunakan untuk pasien GgGAPA muncul di beberapa Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat.

"Benar, kita sudah menerima 19 vial Anti Dotum dari Kemenkes RI yang siap diinjeksikan kepada pasien GgGAPA di Sumbar," ujarnya melalui sambungan telpon, ditulis Rabu (9/11/2022)

Berdasarkan data yang tercatat, sebanyak 28 kasus GgGAPA muncul di Sumbar, 14 orang pasien diantaranya meninggal dunia. Namun sampai saat ini belum ada penambahan kasus baru GgGAPA di Sumbar.

"Sejak keluarnya edaran dari BPOM RI untuk menghentikan penggunaan obat-obatan jenis sirup yang diduga mengandung Etilen Glikol, sampai saat ini jumlah kasus sebanyak 28 kasus, dan belum ditemukan pertambahan kasus," jelasnya.

Sementara itu, untuk mencegah penyebab GgGAPA ini, Lila mengatakan Dinkes Sumbar sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) sejak pertama kali penyakit ini dilaporkan dan dialami anak-anak di Sumbar. Satgas tersebut bertugas melakukan penyelidikan epidemiologis terhadap kasus GgGAPA.

"Kita bentuk satgas untuk melakukan tracing, melacak kebiasaan serta makanan dan minuman yang dikonsumsi pasien sebelum mengalami gejala,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P0 Diskes Sumbar), Yun Efiantina mengungkapkan, dalam penyelidikan Satgas ditemukan kaitan antara konsumsi obat-obatan jenis sirup yang diduga mengandung Etilen Glikol pada pasien dengan kemunculan penyakit GgGAPA.

Pasalnya pasien yang mengalami GgGAPA memiliki riwayat konsumsi obat-obatan jenis sirup yang memang dilarang peredarannya oleh BPOM.

"Pasien memiliki riwayat yang bersangkutan dengan parasetamol sirup seperti Vipcol Sirup, Apialis Sirup, Elkana Suspensi, Unibebi Cough Sirup, OBH Combi Anak, Etasid Suspensi, Amoxilin Sirup serta sejumlah merek obat-obatan yang dilarang beredar sementara oleh BPOM dan lainnya," terangnya.

Diungkapkan Yun, kasus GgGAPA Sumbar masih didominasi oleh anak-anak usia satu hingga lima tahun dengan gejala umumnya seperti demam, mual, muntah, batuk, pilek, penurunan produksi urin, dan kesulitan buang air kecil atau Anuria. Pasien juga ada bergejala sesak nafas, kejang-kejang, kehilangan kesadaran.

"Kalau masyarakat menemukan gejala yang merujuk seperti kasus GgGAPA kami menghimbau agat masyarakat segera merujuk pasien ke fasilitas kesehatan terdekat," ujarnya.

Lebih lanjut, Yun mengungkapkan bahwa Satgas juga menyiapkan mekanisme laporan kasus GgGAPA dari Puskesmas, Dinkes Kabupaten, Kota, hingga provinsi.

"Kalau ada suspek penderita GgGAPA maka segera dibawa ke RS rujukan yang ditetapkan Diskes Sumbar. Apabila suspek mengalami gejala dan memenuhi kriteria GgGAPA, maka  RS rujukan akan segera melaporkan dan menginput melalui aplikasi RS Online,” ungkapnya.

Rangkup data yang diinput online tersebut, petugas Surveilans akan dikerahkan ke lapangan untuk tracing riwayat pemakaian obat, makanan, minuman atau bahkan kebiasaan pasien untuk mengetahui faktor penyebab GgGAPA.

Dinkes juga berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI dalam memerangi kasus GgGAPA.

"Saat ini kita himbau seluruh tenaga kesehatan untuk menghentikan sementara penggunaan obat-obatan jenis sirup kepada pasien,” tutupnya.


Baca Juga