Ternate Berhasil Tekan Angka Kelahiran

Ternate – Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BKKBN bersama BPS mencatat, dari seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara, Kota Ternate merupakan paling terendah grafik Total Fertility Rate (TFR) atau total angka kelahiran.

“Dari hasil itu, Kota Ternate merupakan yang paling terendah dalam grafik TFR atau usia subur yang melahirkan di Kota Ternate yang tercatat hanya 2,2 persen dibanding Provinsi Malut yang angkanya mencapai 3,1 persen,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah (BPKKBD) Kota Ternate, Bahtiar Teng di Ternate, Jumat, (14/11/2014).

Artinya bahwa, hasil survei antar sensus menunjukan bahwa siklus angka kelahiran dengan jumlah anak rata-rata sebanyak 2 orang yaitu terdapat hanya di Kota Ternate.

“Secara tidak langsung Ternate telah mampu menekan angka Kelahiran, dan ini setelah hasil Susenas diserahkan saya sendiri sudah mengecek di BPS Malut, dan ternyata hasilnya sama,” katanya.

Bahtiar mengungkapkan, untuk TFR Kota Ternate 2,2 persen, maka pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi modern atau CPR mencapai 55 persen, dengan demikian Kota Ternate masuk dalam kuadran ke empat, kalau Ternate sudah berada pada kuadran ke empat maka dinyatakan sudah berhasil dari sisi penduduk.

Hal tersebut dibenarkan dengan data statistik yang diberikan BPS Malut, dimana pada tahun 2013 laju pertumbuhan penduduk kota Ternate terjadi penurunan dari 2,7 persen menjadi 2,6 persen, ini menunjukkan bahwa keberhasilan program keluarga berencana bisa diukur melalui keberhasilan Kota Ternate dari sisi angka kelahiran bukan dari sisi migrasi.

Meski begitu, dia juga mengungkapkan untuk menjaga kestabilan TFR, ke depan nanti pihaknya akan berupaya untuk meningkatkan program keluarga berencana, sehingga program ini tetap berjalan dan bertahan di angka tersebut.

Karena ketika Kota Ternate sudah berada pada posisi kuadran ke empat, maka intervensi kegiatan sudah mengarah kepada kualitas penduduk dan tidak lagi pada kuantitas penduduk, sehingga dengan begitu, sasaran pembinaan itu semua tertuju pada kualitas keluarga.

“Kalau masyarakat juga telah memahami dengan konsep keluarga berencana, dan kualitas keluarga juga telah dibina, maka selanjutnya tinggal memberdayakan ekonomi keluarga,” katanya. (ant/gyi)

0 Comments

Leave a Comment

eighteen − 5 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password