Batik Tanah Liek, Warisan Budaya yang Hampir Punah

Padang – Indonesia memang kaya akan khasanah batik. Bahkan batik disebut sebagai warisan budaya Indonesia. Sumatera Barat tak

terkecuali, juga mempunyai batik. Kain batik khas yang dimiliki Sumatera Barat atau Minangkabau ini disebut batik tanah liek

(batik tanah liat).

Pembuatan batik tanah liek sama halnya dengan batik daerah lain di Indonesia, seperti Solo, Jogjakarta, Pekalongan dan sebagainya, dengan mempergunakan canting (alat untuk menuliskan motif batik) dan malam (lilin batik).

Seni tradisi batik tanah liek ini dibedakan pada proses pewarnaan. Kain mula-mula direndam selama seminggu dengan tanah liat, kemudian dicuci dan diberi pewarnaan alamiah lain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti gambir, kulit rambutan, kulit jengkol.

Sebagai suatu karya yang sudah diakui dan mendapatkan penghargaan Unesco dengan sebutanmasterpieces of the oral and intangible

heritage of humanitypada Oktober 2009, salah seorang pecinta batik di Kota Padang, Ikbal, mengembangkan batik tanah liek ini

dengan memberdayakan pengrajin batik yang ada di Sumatera Barat.

Ikbal kepada covesia, Senin (24/11/2014) menuturkan, mengangkat dan mengembangkan seni tradisional batik tanah liat yang hampir

punah, dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama mengembangkan seni batik tanah liek tersebut dengan memperbanyak produksi.

“Sekarang kami sudah memiliki sejumlah pengrajin yang membuat batik tanah liek di sini,”katanya.

Kedua, hasil karya pengrajin tersebut ia diwadahi di pusat kerajinan Minangkabau Batik Tanah Liek di jalan Aru, Kecamatan Lubuk

Begalung, Kota Padang.

Batik tanah liek di Sumatera Barat sempat hampir punah beberapa dekade, terutama pada masa penjajahan Jepang. Berkat usaha

seorang pecinta batik, Wirda Hanim, teknik batik tanah liek kembali diperkenalkan tahun 1994.

Pada awalnya ia melihat motif batik ini digunakan oleh sejumlah warga di Nagari Sumanik, Kecamatan X Koto, Singkarak, Kabupaten Solok Sumatera Barat. Batik langka tersebut kembali ia populerkan. Hingga sekarang hasilnya dapat dirasakan, dimana seni batik tanah liek terus berkembang.

Daya tarik dari batik tanah liek terletak pada warna dasar kain yang tidak biasa, teduh dan memancarkan aura yang elegan. Warna dasar batik tanah liek cenderung krem dan coklat muda.

Ciri khas lain batik tanah liek terlihat dari motif-motifnya. Motif yang sering digunakan biasanya diambil dari motif ukiran yang terdapat di rumah gadang. Seperti siriah dalam carano, kaluak paku, lokcan, kuciang tidua (kucing tidur), batuang kayu, tari piring, kipas.

Pusat Kerajinan Minangkabau Batik Tanah Liek, sebut Ikbal, berkeinginan untuk menduniakan batik tanah liek dengan memadukan konsep tradisional dan selera modern. “Kami di sini menghadirkan motif-motif baru yang diambil dari kekayaan budaya alam

Minangkabau seperti motif tabuik, rumah gadang, jam gadang,”sebutnya.

Usaha menduniakan batik tanah liek, nampaknya sudah mulai membuahkan hasil. Dimana Ikbal yang juga pengelola Pusat Kerajinan Minangkabau Batik Tanah Liek menuturkan, batik tanah liek banyak disukai turis-turis asing.

“Setiap turis yang datang ke pusat kerajinan kita ini, pasti batik tanah liek yang mereka tanya. Apalagi dengan perpaduan motif antara motif tradisional dengan modern, sudah menjadikan batik tanah liek sebagai warisan budaya bernilai tinggi,”tuturnya.

Kain batik tanah liek dapat dijahit menjadi kemeja, gaun, scraf, kerudung, dress, tas, dompet dan sebagainya.

Batik tanah liek yang dibuat langsung oleh pengrajin-pengrajian binaan Pusat Kerajinan Minangkabau Batik Tanah Liek ini, dihargai

cukup mahal. Mulai dari harga Rp1 juta hingga Rp6 juta, tergantung motif dan sulitnya pengerjaan batik. (gyi)

0 Comments

Leave a Comment

two + one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password