Kekayaan ARB Terus Merosot Pascalumpur Lapindo

Kekayaan ARB Terus Merosot Pascalumpur Lapindo Kekayaan ARB Terus Merosot Pascalumpur Lapindo. (courtesydekandidat.com)

Covesia.com - Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terus mendesak PT Minarak Lapindo Jaya untuk segera membayar ganti rugi sebesar Rp781 milyar kepada warga terdampak lumpur lapindo di tahun 2015.

Bukan hanya itu, PT Minarak Lapindo Jaya juga masih harus membayar utangnya sebesar Rp500 milyar kepada pengusaha yang terkena dampak lumpur lapindo. Kondisi ini tentunya menyudutkan Aburizal Bakrie.

Pengusaha sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, sebelumnya pernah menyandang peringkat orang terkaya nomor 1 di Asia Tenggara, perlahan-lahan mundur dari daftar orang terkaya di Indonesia. Semenjak tahun 2012 Aburizal Bakrie tidak lagi masuk daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Pemilik kerajaan perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ini banyak merogoh kocek terkait lumpur Lapindo di Sidoarjo. Sahamnya beberapa kali mengalami anjlok di bursa saham, sehingga berpengaruh besar terhadap jumlah kekayaan Aburizal Bakrie.

Dekan Fakultas Ekonomi Universita Andalas, Tafdil Husni menilai turunnya harga saham Aburizal Bakrie juga banyak dipengaruhi oleh proses ganti rugi korban lumpur Lapindo yang tidak kunjung selesai.

Sikap ARB yang selama ini dinilai kucing-kucingan terkait permasalahan ganti rugi korban terdampak lumpur Lapindo hanya akan menurunkan harga saham pria berdagu lancip ini.

"Jika ARB tidak segera menuntaskan permasalahan ganti rugi lumpur Lapindo ini, akan sangat berdampak buruk terhadap harga sahamnya kedepan," ujar Tafdil kepada covesia.com, Jumat (5/12/2014)

Menurutnya, kebijakan Aburizal Bakri yang tidak ingin melakukan ganti rugi, namun lebih memilih sistem jual beli merupakan bagian politik ekonomi bagi perusahaan ARB.

"Sistem jual beli jelas akan lebih menguntungkan Aburizal Bakrie dan merugikan warga yang terdampak lumpur Lapindo," imbuh Tafdi. (peb/bim)

Berita Terkait

Baca Juga