Dari Jurnalis ke Batu Akik

Padang – Trend batu akik bisa dikonotasikan akan kecintaan manusia kepada benda-benda seni, yang nilainya sangat relatif. Tergantung dari kecendrungan dan kecintaan seorang pada benda itu. Jika tertarik harganya juga bisa selangit. Kegilaan orang akan batu akik atau batu cincin saat ini, ternyata berpengaruh pula kepada profesi yang mereka geluti.

Wan Teha,(45), yang berprofesi sebagai jurnalis feelance salah satu TV Swasta Nasional, sekarang juga menggeluti profesi sebagai Kolektor barang antik.

Karena tuntutan hidup jualah yang membuat ayah dari tiga anak ini banting stir dari kegiatannya sebagai seorang jurnalis. Sebelum mulai menekuni profesi pengerajin Batu Akik ini, dia juga mencoba bisnis rental mobil namun usaha itu juga kandas dan belum membuahkan hasil. Tiba pulalah saatnya, orang orang mulai menyukai barang antik.

Seperti trend batu akik dan permata yang menjadi buah bibir disetiap pertemuan penggemar barang antik. Diapun langsung tertarik karena tanpa disangkanya ternyata profesi pengrajin batu mulia ini juga lumayan menjanjikan prospeknya.

Tanpa pikir panjang, dia pun belajar cara mengasah batu dari salah seorang sahabatnya.
“Dalam hati saya berucap, saya harus bisa menjadi pengerajin batu akik yang profesional”, katanya bersemangat kepada covesia.com.

Lebih lanjut dia mengatakan, dia baru sebulan ini menekuni profesi ini. Tapi saat covesia.com menanyakan omsetnya, sambil tersenyum dia bilang,” ya lumayanlah sekitar Rp.10 juta dalam bulan ini. Berkat profesi jurnalislah, penjualan batu akik saya maju”dengan wajah sumringah.

Kenapa tidak, rekan-rekan para Jurnalis lainnya juga ikut andil dalam hal pemasaran batu akik saya ini. Karena para Jurnalis pergaulan dan relasinya tentulah sangat banyak,” imbuhnya.

Ada banyak jenis batu akik yang dijual oleh Wan Teha, mulai dari batu Lumut Suliki, batu Pancar, batu unik yakni Yan dan Ying. Sedangkan bahan batu didatangkan dari daerah Aie Aji di Pesisir Selatan dan Belubus di Suliki, kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.

Bahan-bahan mentah batu asal Belubus Suliki ini dibelinya seharga Rp400.000/kilo. Sedangkan bahan batu asal Aie Aji dibelinya dengan harga Rp30.000-Rp100.000/karung.

Selain batu diasah untuk cincin, dia juga menjadikan batu akik sebagai kalung. Salah satu yang dipakainya bernama batu Jalak Sutra sedangkan cincin yang dipakainya juga bernama Ruyung Tutol.

Saat covesia.com menanyakan berapa harganya, dia pun mengelak.”Kalau batu kalung dan batu cincin yang saya pakai ini, maaf tidak saya jual. Maklumlah ‘bungo galeh’ (penarik konsumen) katanya tersipu malu.Diapun melayani konsumen yang hanya untuk mengasah batu saja.

Tarifnya mulai dari Rp20.000-Rp50.000 terngantung keras lunaknya batu akik tersebut. Sedangkan batu akik yang telah diasahnya dijual mulai dari ukuran kecil seharga Rp30.000-Rp100.000 perbuah. Dan ukuran batu yang besar mulai dari harga Rp.100.000-Rp250.000 perbuahnya.

Bagi ada yang minat, hubungi langsung Wan Teha dengan no Hp 081267302001 di tempat pengerajin yang bernama Kontjo Stone (Akik Lokal) yang beralamat di kawasan GOR H. Agus Salim, Padang.(Muhammad Fitrah/covesia.com)

0 Comments

Leave a Comment

5 × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password