Sering Melamun, Pertanda Kurang Bahagia

Covesia.com – Para psikolog di Universitas Harvard menemukan bahwa seseorang merasa paling bahagia adalah ketika fokus pada pekerjaan yang ada dan tidak memikirkan hal lainnya seperti masalah jabatan, prestasi, dan posisi. Melamun justru membuat kita menjadi susah , karena hal tersebut merupakan salah satu pertanda kita tidak bahagia pada keadaan yang sekarang.

Dilansir Covesia dari Popular Science, Kamis (08/01/2015), Profesor Daniel Gilbert dan Matthew Killingsworth mengatakan 46,9 persen waktu seseorang digunakan untuk melamun.

Penelitian tersebut dilakukan melalui aplikasi iPhone yang secara acak menanyakan 2.250 relawan dari seluruh dunia tentang tingkat kebahagiaan mereka. Apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka pikirkan dengan pertanyaan yang disusun melalui indikator khusus.

Relawan yang berumur antara 18 dan 88 tahun diminta memilih salah satu di antara 22 aktifitas umum dan mencatat seberapa bahagianya mereka ketika melakukan hal tersebut dan apakah mereka memikirkan tentang aktifitas yang sedang dijalani atau sesuatu yang lain.

Sebenarnya, melamun memiliki sisi positif. Dengan melamun, seseorang dapat memikirkan kejadian yang tidak terjadi di sekitarnya sehingga dapat belajar dari masa lalu dan merencanakan masa depan menjadi lebih baik. Namun melamun yang berlebihan justru berpotensi merusak kebahagian dan konsenstrasi seseorang.

Untuk pengembangan lebih lanjut, lebih dari 5.000 telah bergabung dengan aplikasi yang telah disediakan untuk memperluas penelitian tersebut. (osd/peb)

0 Comments

Leave a Comment

7 − 5 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password