Pasutri, Hati-hati Dengan Masa Rawan Dalam Pernikahan

Pasutri Hatihati Dengan Masa Rawan Dalam Pernikahan Pixabay

Covesia.com - Bagi pasangan yang baru saja atau yang telah lama membina rumah tangga, pastinya memiliki keinginan dan berusaha agar pernikahan mereka awet dan selalu harmonis, bukan? Tapi, dalam menjalani kehidupan pernikahan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Pasti ada saja kesulitan yang harus dihadapi.

Dalam pernikahan ternyata ada yang dinamakan dengan ‘tahun-tahun rawan pernikahan’. Tahun-tahun ini merujuk pada usia pernikahan tertentu yang kerap ditimpa masalah. Wah, kira-kira tahun-tahun keberapa saja sih yang masuk dalam golongan rawan ini? Simak yuk ulasannya berikut ini, dilansir covesia.com dari laman kitamuda:

Tahun ketiga

Cobaan mulai muncul, mulai dari rasa bosan hingga keharusan untuk menyesuaikan diri setelah kehadiran anak. Pertengkaran yang cukup besar mulai muncul.

Hari demi hari, kekecewaan mulai muncul karena kamu dan pasangan mulai kehilangan “bayangan ideal” mengenai pernikahan. Hubungan mulai hambar, kurang perhatian, waktu berkualitas berkurang, dan hubungan intim pun mulai jarang dilakukan.

Dengan adanya anak, hubungan kalian semakin renggang karena masing-masing sibuk belajar peran baru sebagai orangtua. Nah, supaya hubungan kalian tetap berjalan mulus, kamu dan pasangan baiknya belajar untuk lebih pengertian lagi.

Tahun kelima

Kamu dan pasangan mulai bosan dengan rutinitas sehari-sehari-hari sebagai suami atau istri sekaligus orangtua.

Masalah keluarga menjadi semakin serius di tahun-tahun ini.  Bagi yang sudah memiliki anak, waktu yang biasanya digunakan untuk mengurus diri sendiri dan waktu bersama pasangan menjadi berkurang. Akibatnya, kamu dan pasangan sering cek cok  dan berselisih paham.

Di masa-masa ini, pasangan yang enggak tahan juga mulai mempertimbangkan untuk bercerai. Untuk mencegahnya, ingatlah kembali komitmen awalmu bersama pasangan. Ketidakcocokan bukanlah lampu hijau untuk sebuah perceraian. 

Jika mau menekan ego dan mau mengatasi setiap perbedaan tanpa mengeluh dan tanpa saling menyakiti, masalah sebesar apa pun pasti bisa diselesaikan kok.

Tahun ketujuh

Banyak hal yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Masalah di tahun sebelumnya yang belum terselesaikan menambah runyam kehidupan pernikahan kalian.

Di tahun ketujuh, ada kebiasaan yang bisa ditoleransi di awal pernikahan, yang sekarang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Kamu dan pasangan semakin terjebak dalam rutinitas rumah tangga, ibu sibuk dengan anak-anaknya dan ayah makin sibuk mencari uang karena kebutuhan rumah tangga semakin besar.

Keintiman dengan pasangan pun mulai terancam. Inilah yang tekadang membuat seseorang mencari “pemuasan” di luar rumah, termasuk berselingkuh. Nah, untuk menjaga agar hubungan kalian tetap manis dan keintiman tetap terjaga, coba deh ulang kembali masa-masa pacaran atau bulan madu.

Waktu hanya tahap-tahap yang harus kamu lewati bersama pasangan sampai akhirnya kalian bisa menikmati tujuan pernikahan yang sesungguhnya.

Masa-masa sulit pasti ada, tapi bukan berarti kamu dan pasangan nggak bisa melewatinya. Kalau memahami dengan baik masalah yang tengah kalian hadapi dan mau menyelesaikannya dengan kepala dingin, kamu dan pasangan pasti lebih siap menghadapinya.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga